KOMPAS.com – Imunisasi campak merupakan salah satu vaksin penting yang perlu diberikan pada anak untuk mencegah infeksi virus campak yang dapat menimbulkan komplikasi serius.
Selain menyebabkan demam dan ruam, campak juga dapat menyerang berbagai jaringan tubuh, bahkan dalam kasus tertentu dapat menyebar hingga ke otak.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K) mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan campak.
“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Sampai sekarang tidak ada obat khusus untuk campak,” ujar dr. Anggraini saat media briefing IDAI, Sabtu (28/2/2026).
Baca juga: IDAI Tegaskan Vaksin Campak (MMR) Tidak Sebabkan Autisme, Ini Faktanya
Dalam program imunisasi nasional, vaksin campak diberikan melalui vaksin MR (Measles-Rubella) dalam beberapa tahap.
Imunisasi pertama diberikan saat anak berusia 9 bulan, kemudian dilanjutkan pada usia 18 bulan, dan kembali diberikan saat anak kelas 1 SD.
Menurut dr. Anggraini, pemberian vaksin lebih dari satu kali diperlukan karena vaksin campak menggunakan virus yang telah dilemahkan.
Tubuh membutuhkan beberapa kali paparan vaksin agar antibodi yang terbentuk dapat memberikan perlindungan optimal.
“Vaksin ini memberikan virus yang dilemahkan, sehingga membutuhkan dosis yang tepat dan pemberian berulang agar antibodi bisa terbentuk tinggi,” katanya.
Baca juga: Campak Hanya Menular Lewat Sentuhan, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasan Dokter
Dr. Anggraini menjelaskan, efektivitas vaksin campak meningkat setelah pemberian dosis lengkap. Jika vaksin diberikan satu kali, perlindungannya berkisar 84 hingga 93 persen.
Namun jika anak menerima dua dosis sesuai jadwal, efektivitasnya dapat meningkat hingga sekitar 95 sampai 97 persen.
Meskipun demikian, imunisasi tidak berarti seseorang sepenuhnya kebal terhadap infeksi. Anak yang telah divaksin masih mungkin terinfeksi campak, tetapi gejala yang muncul biasanya jauh lebih ringan dibandingkan anak yang tidak divaksin.
Selain itu, imunisasi juga berperan penting dalam membentuk perlindungan di tingkat masyarakat atau herd immunity.
Jika cakupan imunisasi rendah, maka masih akan ada kelompok anak yang rentan terhadap penularan.
Baca juga: Imunisasi Campak Jadi Cara Paling Efektif Mencegah Penularan, Ini Penjelasannya
Adapun dr. Anggraini mencontohkan, jika dari 500.000 bayi yang lahir hanya sekitar 80 persen yang menerima vaksin campak, maka masih ada sebagian anak yang berisiko tertular karena belum divaksin atau karena respons kekebalan tubuhnya tidak terbentuk optimal.
Dalam kondisi tersebut, jumlah populasi yang rentan terhadap campak masih cukup besar sehingga berpotensi memicu kejadian luar biasa (KLB).
Selain menyebabkan gejala infeksi akut, campak juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh anak.
Baca juga: Bukan Hanya Ruam, Campak Bisa Sebabkan Pneumonia hingga Menyerang Otak
Kondisi ini dikenal sebagai immune amnesia, yaitu ketika tubuh kehilangan sebagian kemampuan untuk melawan berbagai penyakit setelah terinfeksi campak.
Akibatnya, anak yang pernah terkena campak dapat menjadi lebih rentan terhadap penyakit lain seperti pertusis (batuk rejan), difteri, hingga pneumonia.
“Campak seperti membuka pintu bagi penyakit lain untuk masuk karena kekebalan tubuh anak menjadi lemah,” ujar dr. Anggraini.
Maka dari itu, ia mengingatkan pentingnya memastikan anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap sesuai jadwal agar risiko infeksi dan komplikasi dapat dicegah.
Baca juga: Kemenkes Pastikan Vaksin Campak MR Aman, Sudah Kantongi Izin Edar BPOM
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang