Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Campak Masih Terjadi Meski Vaksin Sudah Tersedia? Ini Penyebabnya

Kompas.com, 6 Maret 2026, 07:00 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

Sumber WHO,

KOMPAS.com - Campak masih ditemukan di berbagai negara meskipun vaksin untuk mencegah penyakit ini telah tersedia selama puluhan tahun.

Mengutip laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (28/11/2025), campak tetap menjadi ancaman kesehatan karena masih ada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga mengingatkan bahwa ketimpangan cakupan imunisasi di sejumlah wilayah dapat meningkatkan risiko terjadinya penularan campak.

Karena itu, upaya meningkatkan cakupan imunisasi menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit ini.

Baca juga: Ciri-ciri Campak yang Sering Diabaikan, Awalnya Mirip Flu Biasa

Cakupan imunisasi yang belum merata memicu penularan

Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti, menjelaskan bahwa kasus campak sering muncul di daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah.

Menurutnya, secara nasional capaian imunisasi campak-rubella sudah melampaui target. Namun kasus masih terjadi di provinsi, kabupaten, bahkan desa tertentu yang tingkat imunisasinya belum merata.

“Secara nasional capaian imunisasi MR sudah melampaui target, tetapi kasus masih terjadi di provinsi, kabupaten, bahkan desa tertentu yang memiliki cakupan imunisasi rendah,” jelas dr. Mulya dalam konferensi pers Kemenkes pada Kamis (26/2/2026).

Ia menambahkan bahwa wilayah dengan cakupan imunisasi rendah dapat menjadi kantong penyebaran penyakit.

Baca juga: Kasus Campak Masih Ditemukan di Indonesia, Kemenkes Ingatkan Risiko Penularannya

Ilustrasi batuk. Meski vaksin telah tersedia selama puluhan tahun, campak masih terjadi karena cakupan imunisasi belum merata.Freepik/Partystock Ilustrasi batuk. Meski vaksin telah tersedia selama puluhan tahun, campak masih terjadi karena cakupan imunisasi belum merata.

WHO menjelaskan bahwa campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Virus campak menyebar melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau bernapas.

Virus tersebut bahkan dapat bertahan di udara maupun pada permukaan benda hingga dua jam.

Akibatnya, satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan virus kepada hingga 18 orang lainnya yang belum memiliki kekebalan.

Baca juga: Campak Bukan Penyakit Ringan, IDAI Ingatkan Risiko Komplikasi dan Pentingnya Imunisasi Lengkap

Masih banyak anak belum terlindungi vaksin

WHO mencatat bahwa masih banyak anak di dunia yang belum mendapatkan vaksin campak.

Menurut data WHO dan UNICEF, sekitar 30 juta bayi pada 2024 belum mendapatkan perlindungan imunisasi campak secara memadai. Kondisi tersebut membuat penyebaran virus campak masih terjadi di berbagai wilayah.

Beberapa faktor yang menyebabkan masih rendahnya cakupan imunisasi antara lain:

  • Keterbatasan akses layanan kesehatan
  • Gangguan layanan imunisasi di beberapa wilayah
  • Rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya vaksin

Ketika cakupan imunisasi rendah, risiko terjadinya wabah campak dapat meningkat.

Imunisasi tetap menjadi kunci pencegahan

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa imunisasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah campak.

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, mengatakan bahwa cakupan imunisasi yang tinggi dapat memutus rantai penularan penyakit ini.

“Pencegahan campak sangat bergantung pada imunisasi yang lengkap dan merata. Ketika cakupan tinggi dan tidak ada wilayah yang tertinggal, rantai penularan bisa dihentikan,” ujar dr. Andi.

WHO juga menegaskan bahwa vaksin campak aman, efektif, dan telah digunakan selama puluhan tahun untuk melindungi masyarakat dari penyakit ini.

Dengan cakupan imunisasi yang tinggi, risiko penyebaran campak dapat ditekan sehingga masyarakat lebih terlindungi dari penyakit tersebut.

Baca juga: Campak Bukan Penyakit Biasa, Satu Penderita Bisa Menulari 18 Orang

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau