Penulis
KOMPAS.com - Campak masih ditemukan di berbagai negara meskipun vaksin untuk mencegah penyakit ini telah tersedia selama puluhan tahun.
Mengutip laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (28/11/2025), campak tetap menjadi ancaman kesehatan karena masih ada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga mengingatkan bahwa ketimpangan cakupan imunisasi di sejumlah wilayah dapat meningkatkan risiko terjadinya penularan campak.
Karena itu, upaya meningkatkan cakupan imunisasi menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Baca juga: Ciri-ciri Campak yang Sering Diabaikan, Awalnya Mirip Flu Biasa
Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti, menjelaskan bahwa kasus campak sering muncul di daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah.
Menurutnya, secara nasional capaian imunisasi campak-rubella sudah melampaui target. Namun kasus masih terjadi di provinsi, kabupaten, bahkan desa tertentu yang tingkat imunisasinya belum merata.
“Secara nasional capaian imunisasi MR sudah melampaui target, tetapi kasus masih terjadi di provinsi, kabupaten, bahkan desa tertentu yang memiliki cakupan imunisasi rendah,” jelas dr. Mulya dalam konferensi pers Kemenkes pada Kamis (26/2/2026).
Ia menambahkan bahwa wilayah dengan cakupan imunisasi rendah dapat menjadi kantong penyebaran penyakit.
Baca juga: Kasus Campak Masih Ditemukan di Indonesia, Kemenkes Ingatkan Risiko Penularannya
Ilustrasi batuk. Meski vaksin telah tersedia selama puluhan tahun, campak masih terjadi karena cakupan imunisasi belum merata.WHO menjelaskan bahwa campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Virus campak menyebar melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau bernapas.
Virus tersebut bahkan dapat bertahan di udara maupun pada permukaan benda hingga dua jam.
Akibatnya, satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan virus kepada hingga 18 orang lainnya yang belum memiliki kekebalan.
Baca juga: Campak Bukan Penyakit Ringan, IDAI Ingatkan Risiko Komplikasi dan Pentingnya Imunisasi Lengkap
WHO mencatat bahwa masih banyak anak di dunia yang belum mendapatkan vaksin campak.
Menurut data WHO dan UNICEF, sekitar 30 juta bayi pada 2024 belum mendapatkan perlindungan imunisasi campak secara memadai. Kondisi tersebut membuat penyebaran virus campak masih terjadi di berbagai wilayah.
Beberapa faktor yang menyebabkan masih rendahnya cakupan imunisasi antara lain:
Ketika cakupan imunisasi rendah, risiko terjadinya wabah campak dapat meningkat.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa imunisasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah campak.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, mengatakan bahwa cakupan imunisasi yang tinggi dapat memutus rantai penularan penyakit ini.
“Pencegahan campak sangat bergantung pada imunisasi yang lengkap dan merata. Ketika cakupan tinggi dan tidak ada wilayah yang tertinggal, rantai penularan bisa dihentikan,” ujar dr. Andi.
WHO juga menegaskan bahwa vaksin campak aman, efektif, dan telah digunakan selama puluhan tahun untuk melindungi masyarakat dari penyakit ini.
Dengan cakupan imunisasi yang tinggi, risiko penyebaran campak dapat ditekan sehingga masyarakat lebih terlindungi dari penyakit tersebut.
Baca juga: Campak Bukan Penyakit Biasa, Satu Penderita Bisa Menulari 18 Orang
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang