Penulis
KOMPAS.com – Campak merupakan penyakit infeksi yang sangat menular dan masih menjadi masalah kesehatan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Penyakit ini disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus yang menyerang saluran pernapasan dan dapat menyebar dengan cepat di lingkungan yang padat.
Dikutip dari laman Instagram resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan penyakit ini kepada banyak orang lain, terutama jika mereka belum mendapatkan imunisasi.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bagaimana campak menyebar agar dapat melakukan pencegahan sejak dini.
Baca juga: Kapan Anak Wajib Imunisasi Campak? Ini Penjelasan IDAI
Campak termasuk penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Virusnya dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui udara ketika penderita batuk atau bersin.
Partikel virus yang keluar bersama percikan ludah bisa bertahan di udara atau menempel pada permukaan benda dalam waktu tertentu.
Jika orang lain menghirup udara yang terkontaminasi atau menyentuh benda yang terpapar virus lalu menyentuh wajah, risiko penularan bisa terjadi.
Dalam kondisi tertentu, satu orang yang sakit campak bahkan dapat menularkan virus kepada hingga belasan orang lain yang belum memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.
Penularan juga bisa terjadi sebelum penderita menyadari dirinya sakit. Seseorang yang terinfeksi campak biasanya sudah dapat menularkan virus beberapa hari sebelum ruam merah muncul di kulit.
Baca juga: Tanda Khas Campak pada Anak, Waspadai Sebelum Terlambat
Penularan campak umumnya terjadi melalui beberapa cara berikut:
Saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, virus dapat keluar bersama percikan ludah dan terhirup oleh orang lain yang berada di dekatnya.
Virus campak dapat bertahan di udara dalam ruangan untuk sementara waktu. Orang yang berada di ruangan yang sama dengan penderita tetap berisiko terinfeksi meskipun tidak melakukan kontak langsung.
Virus juga bisa menempel pada permukaan benda seperti meja, gagang pintu, atau mainan.
Jika seseorang menyentuh benda tersebut lalu menyentuh hidung, mulut, atau mata, virus dapat masuk ke dalam tubuh.
Karena cara penularannya yang sangat mudah, campak kerap menyebar cepat di lingkungan seperti sekolah, tempat penitipan anak, atau rumah dengan banyak anggota keluarga.
Gejala campak biasanya muncul sekitar 7 hingga 14 hari setelah seseorang terpapar virus. Pada tahap awal, gejalanya sering menyerupai infeksi saluran pernapasan biasa.
Beberapa gejala yang umum terjadi antara lain:
Pada sebagian kasus, penderita juga dapat mengalami gatal atau gangguan pencernaan seperti diare.
Jika tidak ditangani dengan baik, campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), hingga dehidrasi berat.
Ilustrasi campak. Meski vaksin telah tersedia selama puluhan tahun, campak masih terjadi karena cakupan imunisasi belum merata.Kelompok yang paling berisiko tertular campak adalah anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubella (MR) atau yang status imunisasinya tidak lengkap.
Selain itu, anak dengan kondisi gizi kurang juga lebih rentan mengalami komplikasi.
Oleh karena itu, tenaga kesehatan menekankan pentingnya imunisasi sebagai langkah pencegahan yang paling efektif terhadap penyakit ini.
Di Indonesia, imunisasi campak atau MR diberikan beberapa kali sesuai jadwal imunisasi nasional, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan penguat saat anak duduk di kelas 1 sekolah dasar.
Baca juga: Waspadai, Gejala Awal Campak pada Anak Mirip Flu
Selain imunisasi, beberapa langkah pencegahan juga dapat membantu mengurangi risiko penularan campak, antara lain:
Jika anak mengalami demam yang disertai ruam merah pada kulit, orangtua disarankan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Dengan memahami cara penyebaran campak dan langkah pencegahannya, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada sekaligus berperan aktif dalam memutus rantai penularan penyakit ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang