Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Universitas Brawijaya Kembangkan Biochar dan Kompos untuk Pengelolaan Limbah Pertanian Berbasis Desa

Kompas.com, 25 Desember 2025, 19:31 WIB
Sri Noviyanti

Editor


KOMPAS.com — Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan inovasi biochar dan kompos sebagai solusi pengelolaan limbah pertanian dan peternakan berbasis desa. Inovasi ini diterapkan di Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, untuk menjawab persoalan limbah sekaligus mendorong praktik pertanian berkelanjutan.

Pertanian dan peternakan merupakan sektor vital penyokong pangan, tetapi di sisi lain menghasilkan limbah dalam jumlah besar, mulai dari jerami padi, sekam, hingga kotoran ternak. Tanpa pengelolaan yang tepat, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan, menurunkan kualitas tanah dan air, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Melalui penerapan teknologi biochar dan kompos, UB berupaya mentransformasi limbah menjadi sumber daya bernilai guna. Program ini merupakan bagian dari Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) yang bertujuan memperkuat hilirisasi riset perguruan tinggi agar berdampak langsung bagi masyarakat desa.

Baca juga: Riset Dunia Ungkap, Biochar Bisa Jadikan Pengomposan Lebih Hijau

Desa Kuwonharjo dipilih karena merupakan sentra pertanian dan peternakan dengan produksi limbah jerami padi dan kotoran ternak yang cukup besar.

Selama ini, jerami padi kerap dibakar setelah panen atau hanya dimanfaatkan secara terbatas, sementara limbah peternakan ditumpuk di sekitar kandang. Praktik tersebut berisiko menimbulkan pencemaran lingkungan dan degradasi kualitas tanah.

Dalam program tersebut, UB menyerahkan teknologi pengolahan limbah kepada Kelompok Tani Margo Utomo dan Kelompok Ternak Kuwon Maju sebagai mitra di tingkat desa. Teknologi yang diperkenalkan meliputi sistem pirolisis sederhana untuk mengolah jerami padi menjadi biochar serta teknologi pengomposan berbahan dasar limbah organik dan peternakan.

Baca juga: Biochar dari Limbah Manusia Dapat Atasi Kelangkaan Pupuk Global

Sebagai informasi, program tersebut didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Tahun Anggaran 2025.

Ketua Tim Pengabdian Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Nur Hidayat, MP, mengatakan pengelolaan limbah berbasis desa menjadi kunci dalam mendorong pertanian berkelanjutan.
Biochar dan kompos dinilai mampu memperbaiki sifat tanah, meningkatkan efisiensi pemupukan, serta mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

“Limbah pertanian dan peternakan memiliki potensi besar jika dikelola dengan teknologi yang tepat. Biochar dan kompos tidak hanya memperbaiki kualitas tanah, tetapi juga menekan biaya produksi pertanian,” ujar Nur Hidayat dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (25/12/2025).

Baca juga: Dipimpin Adik Prabowo, Indonesia Kini Punya Asosiasi Pengembang Biochar

Kegiatan turut didukung oleh anggota pengabdian, Prof Dr Sucipto, STP, MP dan Lia Nihlah Najwah, SIP, MSi. Selain itu, turut berperan aktif mahasiswa pascasarjana, yakni Indah Fitriana Subekti, ST, Arlis Erliana Savitri, ST, serta Sania Rahma Kurniawati, STP.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan berdasarkan hibah dengan nomor kontrak 500/C3/DT.05.00/PM-PTTI/2025.

Selain manfaat lingkungan, inovasi tersebut juga diharapkan membuka peluang nilai ekonomi baru bagi masyarakat desa melalui pengelolaan limbah secara kolektif. Pendekatan berbasis kelompok dinilai dapat memperkuat kemandirian petani sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi desa.

Baca juga: Biochar Diangkat Jadi Andalan Baru Tekan Emisi GRK

Program pengabdian dilaksanakan pada periode Oktober–Desember 2025, mencakup identifikasi potensi limbah, serah terima teknologi, serta pendampingan teknis kepada mitra desa.

UB juga memberikan pelatihan produksi dan pemanfaatan biochar serta kompos di lahan pertanian, disertai evaluasi dampaknya terhadap kualitas tanah.

“Dengan demikian, Desa Kuwonharjo diharapkan dapat menjadikan inovasi ini sebagai ciri khas daerah sekaligus sumber pengembangan ekonomi baru,” kata Nur Hidayat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau