Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Deforestasi Skala Kecil Jadi Ancaman Serius Iklim Dunia, Mengapa?

Kompas.com, 8 Januari 2026, 18:43 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG, Nature

KOMPAS.com - Deforestasi skala kecil sama merusaknya, bahkan bisa lebih merusak, bagi iklim.

Aktivitas tersebut juga tetap berdampak dalam mengurangi kapasitas hutan hujan tropis untuk menyerap karbon dari atmosfer, menurut penelitian terbaru yang terbit di jurnal Nature.

Baca juga:

"Meskipun hanya mempengaruhi sekitar lima persen dari area yang terganggu, peristiwa deforestasi berskala kecil (kurang dari dua hektar) ini bertanggung jawab atas sekitar 56 persen dari kerugian karbon, akibat konversi penggunaan lahan yang berkelanjutan tanpa regenerasi hutan," bunyi studi tersebut, dilansir dari Nature, Kamis (8/1/2026).

Deforestasi skala kecil tetap bisa merusak iklim

Faktor pertumbuhan kembali tidak ada di deforestasi skala kecil

Menurut ilmuwan Perancis, Philippe Ciais, tindakan merusak hutan skala kecil ini bertanggung jawab atas sebagian besar kehilangan karbon yang diamati selama 30 tahun terakhir di hutan hujan tropis dunia.

Dalam studi ini, Ciais dan peneliti lainnya menemukan bahwa pembukaan lahan kurang dari dua hektar hanya mewakili sebagian kecil dari deforestasi tropis, tapi menyumbang 56 persen dari hilangnya karbon dari penyerap karbon yang vital ini.

Temuan ini pun menyoroti dampak iklim yang "tidak proporsional" dari deforestasi tropis skala kecil. Mereka juga menyerukan agar kebijakan ditinjau kembali, dilansir dari Phys.org.

Hal ini mempertegas pentingnya menangani deforestasi di tingkat lokal. Sebab, bencana tersebut dapat terjadi tanpa terdeteksi karena tertutup oleh kerusakan yang lebih besar dan lebih mencolok, misalnya di Amazon.

Baca juga: 2,5 Juta Hektare Hutan di Jambi Hilang dalam 5 dekade

Studi mengungkap deforestasi skala kecil di hutan hujan tropis justru menyumbang 56 persen kehilangan karbon, meski areanya terbatas.Pexels/Tom Fisk Studi mengungkap deforestasi skala kecil di hutan hujan tropis justru menyumbang 56 persen kehilangan karbon, meski areanya terbatas.

Hutan hujan tropis mengandung separuh dari karbon yang tersimpan di pepohonan dunia, serta memainkan peran penting dalam mengunci karbon pemerangkap panas dari atmosfer yang utamanya disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia.

Kendati demikian, hutan hujan tropis paling terancam oleh deforestasi atau degradasi sebagian akibat kebakaran atau untuk membuka lahan pertanian, penebangan, atau pertambangan.

Laporan terbaru Global Forest Watch memperkirakan pada tahun 2024, hutan hujan tropis setara dengan 18 lapangan sepak bola rusak per menitnya.

Lebih lanjut, tim peneliti di balik studi baru ini mengandalkan data dari pengamatan satelit untuk memeriksa deforestasi di zona tropis sejak 1990.

Metode mereka dikembangkan berdasarkan penelitian sebelumnya dengan memasukkan faktor pertumbuhan kembali pohon ke dalam persamaan tersebut.

Hal ini terjadi dalam kasus-kasus yang mana pepohonan dibiarkan tumbuh kembali setelah deforestasi, yang merepresentasikan perolehan karbon.

Baca juga:

Studi mengungkap deforestasi skala kecil di hutan hujan tropis justru menyumbang 56 persen kehilangan karbon, meski areanya terbatas.Unsplash/Vlas Hilitanu Studi mengungkap deforestasi skala kecil di hutan hujan tropis justru menyumbang 56 persen kehilangan karbon, meski areanya terbatas.

Meskipun kebakaran besar dapat menghanguskan petak-petak hutan yang sangat luas menjadi abu, dampak karbonnya dapat terimbangi dalam jangka panjang seiring tumbuhnya kembali vegetasi yang subur.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau