KOMPAS.com - Deforestasi skala kecil sama merusaknya, bahkan bisa lebih merusak, bagi iklim.
Aktivitas tersebut juga tetap berdampak dalam mengurangi kapasitas hutan hujan tropis untuk menyerap karbon dari atmosfer, menurut penelitian terbaru yang terbit di jurnal Nature.
Baca juga:
"Meskipun hanya mempengaruhi sekitar lima persen dari area yang terganggu, peristiwa deforestasi berskala kecil (kurang dari dua hektar) ini bertanggung jawab atas sekitar 56 persen dari kerugian karbon, akibat konversi penggunaan lahan yang berkelanjutan tanpa regenerasi hutan," bunyi studi tersebut, dilansir dari Nature, Kamis (8/1/2026).
Menurut ilmuwan Perancis, Philippe Ciais, tindakan merusak hutan skala kecil ini bertanggung jawab atas sebagian besar kehilangan karbon yang diamati selama 30 tahun terakhir di hutan hujan tropis dunia.
Dalam studi ini, Ciais dan peneliti lainnya menemukan bahwa pembukaan lahan kurang dari dua hektar hanya mewakili sebagian kecil dari deforestasi tropis, tapi menyumbang 56 persen dari hilangnya karbon dari penyerap karbon yang vital ini.
Temuan ini pun menyoroti dampak iklim yang "tidak proporsional" dari deforestasi tropis skala kecil. Mereka juga menyerukan agar kebijakan ditinjau kembali, dilansir dari Phys.org.
Hal ini mempertegas pentingnya menangani deforestasi di tingkat lokal. Sebab, bencana tersebut dapat terjadi tanpa terdeteksi karena tertutup oleh kerusakan yang lebih besar dan lebih mencolok, misalnya di Amazon.
Baca juga: 2,5 Juta Hektare Hutan di Jambi Hilang dalam 5 dekade
Studi mengungkap deforestasi skala kecil di hutan hujan tropis justru menyumbang 56 persen kehilangan karbon, meski areanya terbatas.Hutan hujan tropis mengandung separuh dari karbon yang tersimpan di pepohonan dunia, serta memainkan peran penting dalam mengunci karbon pemerangkap panas dari atmosfer yang utamanya disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia.
Kendati demikian, hutan hujan tropis paling terancam oleh deforestasi atau degradasi sebagian akibat kebakaran atau untuk membuka lahan pertanian, penebangan, atau pertambangan.
Laporan terbaru Global Forest Watch memperkirakan pada tahun 2024, hutan hujan tropis setara dengan 18 lapangan sepak bola rusak per menitnya.
Lebih lanjut, tim peneliti di balik studi baru ini mengandalkan data dari pengamatan satelit untuk memeriksa deforestasi di zona tropis sejak 1990.
Metode mereka dikembangkan berdasarkan penelitian sebelumnya dengan memasukkan faktor pertumbuhan kembali pohon ke dalam persamaan tersebut.
Hal ini terjadi dalam kasus-kasus yang mana pepohonan dibiarkan tumbuh kembali setelah deforestasi, yang merepresentasikan perolehan karbon.
Baca juga:
Studi mengungkap deforestasi skala kecil di hutan hujan tropis justru menyumbang 56 persen kehilangan karbon, meski areanya terbatas.Meskipun kebakaran besar dapat menghanguskan petak-petak hutan yang sangat luas menjadi abu, dampak karbonnya dapat terimbangi dalam jangka panjang seiring tumbuhnya kembali vegetasi yang subur.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya