Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu

Kompas.com, 20 Januari 2026, 20:40 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Produk Madu Pelawan yang dihasilkan dari pengelolaan hutan lestari di Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mulai menembus pasar global dengan dukungan Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

Keberhasilan tersebut berangkat dari inisiatif Kepala Desa Namang, Muhammad Zaiwan, yang sejak 2008 menetapkan Peraturan Desa untuk melindungi Hutan Pelawan seluas sekitar 300 hektare dari aktivitas penambangan timah ilegal. Kebijakan itu diambil di tengah tingginya tekanan ekonomi akibat harga timah yang menggiurkan.

Alih-alih membuka tambang, Zaiwan bersama masyarakat memilih mengembangkan potensi hasil hutan bukan kayu secara berkelanjutan, salah satunya Madu Pelawan.

Baca juga: Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah

"Madu pahit khas yang dihasilkan lebah liar dari bunga pohon pelawan ini memiliki warna gelap, rasa pahit, dan kandungan nutrisi tinggi, sehingga memiliki karakter berbeda dibandingkan madu dari daerah lain," ujar Zaiwan dalam penjelasan resmi, Selasa (20/1/2026).

Upaya perlindungan hutan tersebut sempat menuai pro dan kontra karena kawasan Hutan Pelawan berstatus Areal Penggunaan Lahan (APL) yang secara hukum memungkinkan untuk kegiatan pertambangan.

Namun, Zaiwan tetap mempertahankan kawasan hutan dan mengajak masyarakat beralih ke pemanfaatan ekonomi berkelanjutan.

Libatkan 125 Petani

Produksi Madu Pelawan kini melibatkan sekitar 125 petani dan pencari madu di Desa Namang. Dalam kondisi normal, masyarakat mampu memproduksi sekitar 200 botol madu per bulan, dan dapat meningkat hingga 600 botol pada periode tertentu, seperti hari libur dan kunjungan pemerintah. Dari aktivitas tersebut, petani memperoleh penghasilan rata-rata Rp 5–6 juta per bulan.

Harga jual Madu Pelawan juga relatif tinggi. Madu kualitas premium dipasarkan hingga Rp 1,5 juta per kilogram, sementara kualitas menengah sekitar Rp 750.000 per kilogram.

Dukungan Indonesia Eximbank membuka peluang pemasaran internasional, salah satunya melalui keikutsertaan dalam Trade Expo Indonesia 2025 untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli luar negeri.

Baca juga: Ekspor Produk Hasil Hutan Stagnan, Kemenhut Genjot Hilirisasi

Pada 2024, Madu Pelawan memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sertifikasi ini mengakui Madu Pelawan sebagai produk khas Desa Namang sekaligus memberikan perlindungan terhadap potensi pemalsuan.

Saat ini, Madu Pelawan tidak hanya diminati wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Hutan Pelawan, tetapi juga telah dipasarkan ke sejumlah negara. Produk turunan berupa teh daun pelawan bahkan telah menembus pasar Jepang.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan hutan lestari dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa dan penguatan ekonomi berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau