KOMPAS.com - Pernah merasa cemas atau tidak nyaman akibat membaca informasi atau mengalami peristiwa yang dipicu perubahan iklim? Bisa jadi kamu mengalami eco-anxiety (kecemasan ekologis).
Kecemasan ekologis menggambarkan serangkaian respons emosional masyarakat terhadap antisipasi dan pengalaman terkait fenomena cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim.
Baca juga:
Konsep kecemasan ekologis pertama kali diperkenalkan filsuf lingkungan, Glenn Albrecht pada 2007.
Sekitar 10 tahun kemudian, Asosiasi Psikologi Amerika (APA) secara resmi mendefinisikan kecemasan ekologis sebagai sebagai ketakutan kronis terhadap degradasi lingkungan.
Kecemasan ekologis dapat dicirikan oleh variabilitas emosional, yang pada gilirannya bermanifestasi melalui berbagai bentuk gejala psikologis, misalnya kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, kemarahan, atau rasa bersalah.
Namun, kecemasan ekologis juga bisa bermanifestasi melalui berbagai bentuk gejala fisiologis atau perubahan dalam rutinitas kehidupan sehari-hari individu, di antaranya perubahan pola tidur, kehilangan nafsu makan, pencarian informasi terus-menerus tentang krisis iklim, atau penurunan prestasi akademik dalam kasus anak muda.
"Dampak degradasi lingkungan terhadap kesehatan mental harus dipertimbangkan pada tiga tingkatan. Salah satunya berkaitan dengan konsekuensi langsung dari fenomena iklim, dengan kata lain, ketika seseorang secara langsung mengalami situasi ini dan dalam hal ini, gejala seperti kecemasan, depresi, dan akhirnya, gangguan stres pasca-trauma dapat muncul," jelas psikolog Teresa Pereira, dilansir dari Euronews, Senin (23/2/2026).
Bahkan, gejalanya juga dapat dirasakan orang-orang yang tidak secara langsung terdampak cuaca ekstrem. Contohnya adalah petani yang lahan perkebunannya hancur akibat bencana hidrometeorologi.
BANJIR SUMATERA: Petugas Kementerian Kehutanan dan Dinas Kehutanan Provinsi Aceh mengambil sampel kayu gelondongan yang terbawa arus luapan Sungai Tamiang, di area pasantren Islam Terpadu Darul Mukhlishin, Desa Tanjung Karang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (19/12/2025). Kemenhut telah mengirim tim verifikasi dan membentuk tim investigasi gabungan bersama Polri untuk menelusuri asal-usul kayu gelondongan yang ditemukan pascabencana banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Provinsi Aceh. Menurut Pereira, kecemasan ekologis yang dialami korban biasanya masuk ke tingkat ketiga justru usai mengetahui informasi secara lebih mendalam, misalnya dari media, tentang fenomena cuaca ekstrem dan dampaknya.
Fakta bahwa dampak krisis iklim semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari akan menyebabkan pengalaman kecemasan ekologis kepada siapa pun, bahkan jika mereka belum pernah menyaksikan langsung fenomena cuaca ekstrem.
Menurut Pereira, wajar jika orang-orang menunjukkan serangkaian respons emosional dengan berbagai gejala kecemasan ekologis ketika dihadapkan dengan fenomena cuaca ekstrem.
Ia menggarisbawahi bahwa kecemasan ekologis bukanlah suatu patologis, meski secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari atau mengakibatkan "kelumpuhan" tertentu.
Pengidap kecemasan ekologis dapat mencari bantuan profesional untuk dukungan khusus, meskipun umumnya validasi dan dukungan dari komunitas, keluarga, guru, dan teman sebaya, yang dikombinasikan dengan berbagai strategi ampuh lain bisa menjadi lebih penting.
Oleh karena itu, Pereira mengimbau masyarakat untuk lebih berempati untuk mendorong validasi yang semakin besar terhadap emosi-emosi tersebut.
Di sisi lain, mereka diimbau mempromosikan literasi tentang krisis iklim, terutama dengan melibatkan lembaga pendidikan.
"Saat ini, dalam kurikulum sekolah, kita umumnya memiliki pendekatan yang sedikit lebih berfokus pada dimensi kognitif yaitu memahami apa itu krisis iklim. Tetapi penting juga untuk memasukkan dimensi afektif, untuk memahami bagaimana kita merasa terpengaruh dan bagaimana kita dapat lebih aktif terlibat dalam menanggapinya," tutur Pereira.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya