Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat

Kompas.com, 7 Maret 2026, 21:29 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan gelombang panas lebih sering terjadi dan menyebabkan peningkatan kekeringan yang merusak. Para ahli dari Korea Selatan dan Australia meneliti kombinasi panas dan kekeringan, lalu menemukan bahwa fenomena ini meningkat seiring dengan pemanasan global.

Peningkatan cuaca ekstrem terjadi sangat cepat, ketika panas datang terlebih dahulu dan memicu kekeringan yang merusak.

Dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances, peneliti mencatat jenis cuaca ekstrem tersebut hanya mencakup sekitar 2,5 persen daratan bumi setiap tahunnya di era tahun 1980-an.

Baca juga: 51 Persen Terumbu Karang Dunia Memutih akibat Gelombang Panas 2014–2017

Pada 2023, angkanya meningkat menjadi 16,7 persen. Artinya, jika dilihat dari rata-rata 10 tahun terakhir fenomena ini terjadi di sekitar 7,9 persen wilayah daratan dunia.

"Rata-rata suhu kemungkinan bahkan lebih tinggi lagi dengan rekor suhu global tahun 2024 dan tahun 2025 yang hampir sama hangatnya," kata para peneliti dilansir dari AP News, Sabtu (7/3/2026).

Selama sekitar dua dekade pertama sejak 1980, peningkatan kejadian panas ekstrem masih berlangsung relatif lambat. Namun dalam 22 tahun terakhir laju peningkatannya naik delapan kali lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya.

"Kondisi ini menyebabkan kekeringan mendadak, yang lebih merusak daripada kekeringan biasa karena terjadi tiba-tiba sehingga tidak memberi kesempatan kepada masyarakat dan petani untuk bersiap-siap," ujar penulis utama studi dari Hanyang University, Yong-Jun Kim.

Menurut Kim, kekeringan ini terjadi karena udara yang semakin hangat mampu menyerap lebih banyak kelembapan dari tanah. Akibatnya, tanah menjadi cepat kering dan tanaman lebih mudah mengalami kerusakan.

Baca juga: Hadapi Gelombang Panas Ekstrem, Spanyol Bangun Jaringan Penampungan

Para peneliti juga mengidentifikasi adanya “titik perubahan” sekitar tahun 2000. Sejak saat itu, hubungan antara gelombang panas dan kekeringan terjadi jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Selain itu, peningkatan kekeringan yang diawali gelombang panas paling besar terjadi di Amerika Selatan, Kanada bagian barat, Alaska, Amerika Serikat bagian barat, serta beberapa wilayah Afrika tengah dan timur.

Ilmuwan iklim dari Woodwell Climate Research Center yang tidak terlibat dalam penelitian, Jennifer Francis mengatakan bahwa titik perubahan tersebut bertepatan dengan dimulainya pemanasan Arktik yang cepat, hilangnya es laut, dan penurunan tutupan salju musim semi di benua-benua Belahan Bumi Utara.

Para peneliti juga melihat adanya percepatan pertukaran panas antara daratan dan atmosfer sebelum periode perubahan tersebut. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa bumi mungkin telah melewati titik kritis tertentu yang membuat perubahan iklim semakin sulit untuk dikendalikan.

Dampak Peristiwa Ekstrem Terjadi Bersamaan 

Sementara itu, ilmuwan iklim dari Victoria University, Andrew Weaver mengatakan penelitian ini menunjukkan bahwa dampak paling berbahaya dari perubahan iklim sering kali muncul ketika beberapa peristiwa ekstrem terjadi secara bersamaan.

“Saat gelombang panas, kekeringan, dan risiko kebakaran hutan terjadi pada waktu yang sama, dampaknya bisa meningkat sangat cepat,” papar Weaver.

Ia mencontohkan peristiwa besar dalam beberapa tahun terakhir, antara lain gelombang panas Rusia pada 2010, kebakaran hutan besar di Australia pada 2019-2020, kubah panas dan kekeringan di Amerika Utara pada 2021, serta gelombang panas dan kekeringan di Sungai Yangtze di China tahun 2022.

Weaver berpendapat, pemanasan global tidak hanya membuat gelombang panas lebih sering terjadi tetapi juga memperkuat hubungan antara panas dengan kekeringan. Sehingga meningkatkan risiko bencana di berbagai wilayah dunia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau