Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Al Taqdir Badari
Co-founder dan Direktur Temu Ide

Peneliti dan Konsultan ERP

Perang, Emisi, dan Masa Depan Bumi

Kompas.com, 8 Maret 2026, 15:04 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

SETIAP hari kita disajikan berita dan gambar yang hampir sama: langit yang diterangi rudal, kota yang terbakar, dan laporan korban yang terus bertambah. Konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat kembali menegaskan betapa rapuhnya perdamaian global.

Tidak hanya itu, berita tentang strategi militer, keseimbangan kekuatan kawasan, hingga lonjakan harga minyak memenuhi halaman-halaman media nasional maupun internasional.

Namun di balik semua itu ada satu pertanyaan yang hampir tidak pernah diajukan: berapa besar jejak karbon dari perang ini?

Tentu saja ini adalah pertanyaan penting di tengah dunia yang sedang berlomba menurunkan emisi karbon, dan perang justru menjadi salah satu aktivitas paling intensif energi di planet ini, dan sekaligus yang paling jarang dihitung secara terbuka.

Militer modern pada dasarnya adalah mesin yang digerakkan oleh bahan bakar fosil. Jet tempur, kapal induk, tank, hingga logistik militer bergantung pada konsumsi minyak dalam jumlah sangat besar. Jika seluruh aktivitas militer dunia digabungkan, emisinya diperkirakan mencapai sekitar 5,5 persen dari total emisi global, angka yang menempatkan militer sebagai salah satu “pengemisi terbesar” di dunia.

Amerika Serikat sendiri menghasilkan sekitar 636 juta ton CO2 per tahun dari aktivitas militernya, angka yang bahkan melampaui emisi tahunan banyak negara berkembang. Ironisnya, sebagian besar emisi militer tidak wajib dilaporkan secara rinci dalam perjanjian iklim internasional. Akibatnya, ketika dunia menghitung emisi kendaraan pribadi, pabrik, atau bahkan dapur rumah tangga, jejak karbon perang justru sering luput dari perhatian global.

Baca juga: Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global

Ledakan Emisi di Medan Perang

Perang modern menghasilkan emisi karbon melalui berbagai cara. Serangan udara dan peluncuran rudal menghasilkan emisi langsung dari bahan bakar jet dan bahan peledak. Tidak hanya itu, infrastruktur energi yang hancur kemudian memicu kebakaran besar yang melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar.

Dalam konflik terbaru di kawasan Teluk, serangan terhadap fasilitas energi bahkan memicu kebakaran kilang minyak dan meningkatkan risiko tumpahan minyak yang mencemari udara dan laut.

Apakah dampaknya berhenti di medan tempur saja? Ketika konflik mengganggu jalur perdagangan energi seperti Selat Hormuz, kapal tanker harus berputar dan mencari rute alternatif yang aman namun jauh lebih panjang. Dalam beberapa kasus, perjalanan kapal dapat bertambah hingga 50 persen lebih jauh dari rute normal, yang berarti konsumsi bahan bakar dan emisi karbon ikut meningkat secara signifikan.

Dengan kata lain, perang tidak hanya menghasilkan emisi lokal. Ia juga memperluas jejak karbon melalui gangguan pada sistem ekonomi global.

Baca juga: Dampak Lingkungan Perang Rusia-Ukraina, Total Emisi Capai 311 Juta Ton

Ekosistem yang Ikut Menjadi Korban

Kerusakan akibat perang tidak hanya terjadi pada manusia dan bangunan. Ledakan bom dan rudal dapat melepaskan berbagai bahan kimia berbahaya, mulai dari logam berat hingga bahan bakar pesawat, yang mencemari udara, air, dan tanah. Serangan terhadap fasilitas energi juga meningkatkan risiko pencemaran laut yang dapat mengganggu ekosistem pesisir maupun migrasi biota laut di kawasan Teluk.

Dalam jangka panjang, puing bangunan, limbah bahan peledak, dan tanah yang terkontaminasi dapat meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang bertahan puluhan tahun setelah perang berakhir.

Sejarah menunjukkan bahwa dampak ekologis perang sering kali baru terlihat sepenuhnya ketika konflik telah lama berlalu. Sangat ironis.

Pelajaran dari Chernobyl

Dalam konflik yang melibatkan negara dengan fasilitas nuklir, kekhawatiran terhadap dampak lingkungan tentu saja akan menjadi jauh lebih serius. Dunia pernah menyaksikan bagaimana satu kecelakaan nuklir di Chernobyl pada tahun 1986 mengubah wilayah luas di Eropa Timur menjadi zona yang tidak layak huni selama puluhan tahun.

Radiasi menyebar lintas batas negara, memengaruhi jutaan orang dan meninggalkan warisan ekologis yang masih terasa hingga hari ini.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau