Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menambang Nikel di Kota, Ini Keuntungan Daur Ulang Baterai Bekas

Kompas.com, 12 Maret 2026, 18:12 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nikel dan kobalt menjadi logam kritis yang dipakai dalam mendukung transisi energi. Kedua logam tersebut banyak digunakan sebagai bahan utama dalam baterai lithium-ion kendaraan listrik, perangkat elektronik, dan berbagai alat penyimpan energi.

Kebutuhan baterai lithium-ion akan semakin bertambah seiring dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan perangkat elektronik. Imbasnya, permintaan terhadap nikel dan kobalt sebagai bahan baku utamanya, meningkat.

Baca juga:

Maka dari itu, ke depannya, diperlukan daur ulang baterai untuk mengurangi ketergantungan pada penambangan primer.

Daur ulang baterai juga penting supaya logam berharga di dalamnya bisa dipakai kembali sehingga efisien secara sumber daya dan ramah lingkungan.

Nikel dan kobalt: Keuntungan daur ulang baterai bekas

Baterai bekas bisa jadi sumber urban mining

Daur ulang baterai bisa jadi alternatif yang potensial untuk memenuhi kebutuhan logam kritis, termasuk nikel dan kobalt.SHUTTERSTOCK/EVGHENY_V Daur ulang baterai bisa jadi alternatif yang potensial untuk memenuhi kebutuhan logam kritis, termasuk nikel dan kobalt.

Sumber utama nikel dan kobalt berasal dari penambangan. Sebagian besar cadangannya berasal dari nikel laterit atau sebesar 70 persen. Sisanya, 30 persen merupakan bijih nikel sulfida.

Selain itu, nikel dan kobalt juga berasal dari sumber sekunder yang masih memiliki logam bernilai, seperti slag metalurgi, limbah sisa pada elektronik, dan baterai bekas.

Salah satu sumber sekunder yang saat ini diunggulkan adalah katoda dari lithium ion baterai bekas.

Material katoda pada baterai memiliki kandungan nikel dan kobalt yang lebih tinggi konsentrasinya dibandingkan kandungan dalam bijihnya.

Oleh karena itu, daur ulang baterai bisa menjadi alternatif yang sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan logam kritis sekaligus mengurangi ketergantungan pada penambangan.

Menurut Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Material Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nur Vita Permatasari, daur ulang baterai bekas memiliki beberapa keuntungan.

Baterai bekas berpotensi sebagai sumber urban mining atau menambang di perkotaan. Sebab, katoda dalam baterai masih memiliki kandungan nikel dan kobalt yang cukup tinggi.

Di sisi lain, daur ulang juga menghasilkan jejak lingkungan dan kebutuhan energi yang lebih rendah dibandingkan dengan melakukan penambangan.

"Hal ini sekaligus mendukung konsep dalam ekonomi sirkular," ujar Vita, dalam webinar ORNAMAT #82, Selasa (10/3/2026).

Namun, proses daur ulang memiliki tantangan tersendiri. Material baterai memiliki komposisi kimia yang sangat kompleks karena mengandung berbagai logam lain. Misalnya, litium dan mangan. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau