KOMPAS.com - Nikel dan kobalt menjadi logam kritis yang dipakai dalam mendukung transisi energi. Kedua logam tersebut banyak digunakan sebagai bahan utama dalam baterai lithium-ion kendaraan listrik, perangkat elektronik, dan berbagai alat penyimpan energi.
Kebutuhan baterai lithium-ion akan semakin bertambah seiring dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan perangkat elektronik. Imbasnya, permintaan terhadap nikel dan kobalt sebagai bahan baku utamanya, meningkat.
Baca juga:
Maka dari itu, ke depannya, diperlukan daur ulang baterai untuk mengurangi ketergantungan pada penambangan primer.
Daur ulang baterai juga penting supaya logam berharga di dalamnya bisa dipakai kembali sehingga efisien secara sumber daya dan ramah lingkungan.
Daur ulang baterai bisa jadi alternatif yang potensial untuk memenuhi kebutuhan logam kritis, termasuk nikel dan kobalt.Sumber utama nikel dan kobalt berasal dari penambangan. Sebagian besar cadangannya berasal dari nikel laterit atau sebesar 70 persen. Sisanya, 30 persen merupakan bijih nikel sulfida.
Selain itu, nikel dan kobalt juga berasal dari sumber sekunder yang masih memiliki logam bernilai, seperti slag metalurgi, limbah sisa pada elektronik, dan baterai bekas.
Salah satu sumber sekunder yang saat ini diunggulkan adalah katoda dari lithium ion baterai bekas.
Material katoda pada baterai memiliki kandungan nikel dan kobalt yang lebih tinggi konsentrasinya dibandingkan kandungan dalam bijihnya.
Oleh karena itu, daur ulang baterai bisa menjadi alternatif yang sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan logam kritis sekaligus mengurangi ketergantungan pada penambangan.
Menurut Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Material Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nur Vita Permatasari, daur ulang baterai bekas memiliki beberapa keuntungan.
Baterai bekas berpotensi sebagai sumber urban mining atau menambang di perkotaan. Sebab, katoda dalam baterai masih memiliki kandungan nikel dan kobalt yang cukup tinggi.
Di sisi lain, daur ulang juga menghasilkan jejak lingkungan dan kebutuhan energi yang lebih rendah dibandingkan dengan melakukan penambangan.
"Hal ini sekaligus mendukung konsep dalam ekonomi sirkular," ujar Vita, dalam webinar ORNAMAT #82, Selasa (10/3/2026).
Namun, proses daur ulang memiliki tantangan tersendiri. Material baterai memiliki komposisi kimia yang sangat kompleks karena mengandung berbagai logam lain. Misalnya, litium dan mangan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya