KOMPAS.com - Pekerja disebut lebih memprioritaskan bekerja jarak jauh (remote working) daripada gaji dan tunjangan, menurut laporan State of the Workplace 2026 dari FlexJobs, perusahaan penyedia pekerjaan jarak jauh.
Temuan dari laporan itu diperoleh dari survei terhadap lebih dari 4.000 profesional Amerika Serikat (AS) selama pada Februari 2025, tepatnya dari Minggu (2/2/2025) sampai Minggu (16/2/2025).
Baca juga:
Sebesar 35 persen responden survei menyatakan, kerja jarak jauh atau fleksibel menjadi faktor penentu terpenting saat mempertimbangkan pekerjaan baru, dilansir dari laman resmi FlexJobs, Sabtu (14/3/2026).
Persentase tersebut disusul dengan sekitar 33 persen responden menyebut gaji dan tujuangan hidup, lalu 17 persen menyebut keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan (work-life balance), serta lima persen menyebutkan budaya dan nilai perusahaan.
Selanjutnya, ada lima persen responden menyebutkan keamanan kerja, empat persen menyebutkan peluang pengembangan karir, serta kurang dari satu persen menyebutkan membangun keterampilan yang tahan terhadap AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan).
Padahal, selama bertahun-tahun, gaji disebut menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan pekerjaan dan karier.
Kerja jarak jauh menjadi tren saat pandemi Covid-19 memicu keadaan darurat nasional. Ancaman penularan virus menyebabkan banyak karyawan dipulangkan, bekerja jarak jauh, dipaksa cuti sementara, atau bahkan diberhentikan sepenuhnya.
Meski pandemi Covid-19 telah berlalu, dampak jangka panjang dari pembatasan sosial (lockdown) telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan pada angkatan kerja global.
Baca juga:
Pekerja disebut lebih memprioritaskan bekerja jarak jauh (remote working) daripada gaji dan tunjangan.Untuk pertama kalinya, para profesional merasakan seperti apa sebenarnya 'keseimbangan kerja-hidup' dan fleksibilitas itu. Gagasan kerja jarak jauh, yang dianggap hampir mustahil sebelum tahun 2020, kini telah menjadi topik hangat dekade ini dan hanya dikalahkan oleh booming AI.
Dilansir dari Forbes, temuan laporan tersebut memperingatkan para pemimpin dan manajer perusahaan untuk beradaptasi dengan cara kerja baru. Jika tidak mampu beradaptasi, maka para pemimpin dan manajer perusahaan harus bersiap melepaskan talenta-talenta mereka.
Temuan lain dari laporan tersebut adalah mayoritas pekerja siap untuk pindah "kantor" jika kesempatan yang tepat muncul.
Pindah "kantor" tetap menjadi tren utama tahun 2026. Sekitar 79 persen responden mengaku lebih cenderung menerima pekerjaan baru dibandingkan setahun yang lalu.
Sementara itu, sekitar 66 persen responden telah mengubah atau mempertimbangkan untuk mengubah bidang karir dalam setahun terakhir.
Lalu, 41 persen reseponden melaporkan baru-baru ini mengundurkan diri atau sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan mereka.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya