Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Musim Kemarau Bikin Kering Daratan, tapi Jadi Berkah di Lautan

Kompas.com, 20 Maret 2026, 11:12 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan, musim kemarau di Indonesia tahun ini bakal menjadi "berkah" bagi nelayan karena adanya peningkatan kesuburan laut yang luar biasa melalui fenomena upwelling.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Pranowo menyampaikan bahwa awal musim kemarau yang diprediksi terjadi pada April 2026 memicu pergerakan angin timuran yang kuat.

Baca juga:

Angin tersebut mendorong massa air permukaan laut ke arah lepas pantai, lalu digantikan massa air dingin kaya nutrien dari lapisan lebih dalam.

Adapun upwelling adalah fenomena massa air dingin yang lebih dalam dan kaya nutrisi naik ke permukaan laut, menggantikan air permukaan yang lebih hangat.

"Massa air yang terangkat ini membawa pupuk alami berupa nitrat dan fosfat. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis masif oleh fitoplankton, inilah yang mendasari peningkatan produktivitas primer laut kita," kata Widodo dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).

Musim kemarau bisa jadi "berkah" di laut

El Nino bisa perkuat upwelling

Fenomena upwelling pada musim kemarau di Indonesia tahun ini diprediksi bakal menambah populasi ikan tangkap nelayan. FREEPIK/FREEPIK Fenomena upwelling pada musim kemarau di Indonesia tahun ini diprediksi bakal menambah populasi ikan tangkap nelayan.

Berdasarkan riset yang dipublikasikan dalam Majalah Indo-Maritime 2014, fenomena upwelling di selatan Jawa memiliki karakteristik unik yang dikenal secara internasional dengan sebutan Semi-permanent Java Coastal Upwelling (RATU).

Widodo menyampaikan, intensitas fenomena RATU sangat dipengaruhi oleh dinamika musiman serta variabilitas iklim global.

Peneliti memanfaatkan teknologi Argo Float yakni robot penyelam otomatis yang mampu beroperasi hingga kedalaman 2.000 meter untuk merekam data temperatur dan salinitas laut secara real-time.

Hasil penelitian menunjukkan adanya lapisan termoklin yang terangkat ke permukaan selama proses upwelling. Lapisan ini menjadi indikator penting dalam menentukan wilayah potensial penangkapan ikan.

Widodo mencatat, wilayah selatan Jawa hingga Nusa Tenggara merupakan habitat krusial bagi migrasi dan pemijahan ikan ekonomis penting, termasuk tuna sirip biru selatan, cakalang, dan tuna mata besar.

Baca juga: BMKG: Musim Kemarau di Jabar Diprediksi Datang Lebih Awal

Ia juga menekankan, angin timuran serta fenomena El Niño berpotensi memperkuat intensitas upwelling, yang secara langsung berdampak pada peningkatan stok ikan pelagis.

Fenomena ini diperkirakan mulai terasa pada April–Mei 2026, ditandai dengan berkembangnya fitoplankton. Peningkatan akan semakin signifikan pada Juni dan mencapai puncaknya pada Juli–Agustus 2026.

"Dinamika laut sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim. Jika El Niño 2026 terjadi, potensi penguatan upwelling tidak hanya di selatan Jawa, tetapi juga meluas ke wilayah perairan Indonesia lainnya," beber Widodo.

Temuannya menegaskan di tengah meningkatnya risiko kekeringan panjang akibat El Niño yang mengancam ketahanan pangan dari sektor darat, sumber pangan dari laut berpotensi menjadi alternatif penting.

Oleh karena itu, BRIN menilai pemantauan dinamika laut dan atmosfer secara berkelanjutan menjadi langkah strategis untuk menjaga kedaulatan pangan nasional, khususnya dari sektor maritim.

Baca juga: Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau