KOMPAS.com - Singapura berencana memasang 1.070 mesin pengembalian kemasan (reverse vending machines/RVMs) pada awal April 2026, berdasarkan skema pengembalian botol minum (The Beverage Container Return Scheme/BCRS) yang baru.
Program Return Right yang diluncurkan Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura jadi langkah besar untuk meningkatkan tingkat daur ulang domestik usai mencapai titik terendah pada 2025 yang hanya 11 persen, dilansir dari Eco-Business, Senin (23/3/2026).
Baca juga:
Skema tersebut merupakan kerangka tanggung jawab produsen yang diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR) pertama di Negeri Singa untuk kemasan minuman.
Skema ini dirancang untuk meningkatkan tingkat pengumpulan dan memperpanjang umur satu-satunya tempat pembuangan sampah (tempat pemrosesan akhir/TPA) di Singapura, yang diproyeksikan akan penuh dalam 10 tahun mendatang.
Mulai April 2026, Singapura pasang 1.070 mesin pengembalian botol (RVM) untuk membiasakan warganya mendaur ulang kemasan minuman.RVMs dipasang di 430 supermarket dan gerai di 610 lokasi yang dikelola dewan kota. RVMs juga dipasang di 17 pusat jajanan yang ramai pengunjung.
Setiap kemasan minuman plastik dan logam yang dikembalikan melalui RVMS dapat ditukar dengan deposit 10 sen Singapura atau sekitar Rp 1.359, yang ditransfer ke kantur pintar EZ-Link atau aplikasi seluler.
Kartu EZ-Link adalah kartu prabayar nirsentuh di Singapura, yang biasanya digunakan untuk transportasi umum dan pembayaran ritel kecil.
Singapura menargetkan untuk menambah jadi 2.000 titik lokasi RVMs beberapa bulan mendatang, dengan unit tambahan yang direncanakan untuk lembaga pendidikan tinggi, kawasan industri, dan asrama pekerja migran.
Masyarakat dapat menemukan mesin terdekat melalui situs web Return Right, yang juga telah menampilkan lokasi penempatan ke depannya.
Kemudahan mengakses RVMs dirancang untuk menormalisasi perilaku daur ulang yang menjadi faktor kunci dalam meningkatkan tingkat pengumpulan botol plastik dan kaleng aluminium.
Baca juga:
Mulai April 2026, Singapura pasang 1.070 mesin pengembalian botol (RVM) untuk membiasakan warganya mendaur ulang kemasan minuman.Dilansir dari laman resmi NEA, skema BCRS pertama kali diusulkan Kelompok Kerja Warga yang Bertanggung Jawab atas Daur Ulang (Recycle Right Citizens) pada tahun 2019.
Tujuannya meningkatkan tingkat daur ulang rumah tangga dan mengurangi kontaminasi di tempat sampah daur ulang.
Adapun jumlah sampah kemasan di Singapura saat ini mencapai sepertiga dari sampah domestik. Namun, tingkat daur ulang sampah kemasan secara keseluruhan masih rendah.
Skema ini akan mencakup lebih dari satu miliar kemasan minuman yang digunakan setiap tahun.
Langkah ini memungkinkan untuk memulihkan lebih dari 16.000 ton material setiap tahunnya, yang berarti lebih sedikit sampah dikirim untuk pembakaran sehingga emisi gas rumah kaca (GRK) Singapura semakin rendah dan ekonomi sirkular membaik.
Skema ini bertujuan mendorong perubahan perilaku warga Singapura ke arah kebiasaan mendaur ulang sampah, dengan mengosongkan botol sebelum mengembalikannya, mengurangi pembuangan sampah sembarangan, dan menjaga kebersihan ruang publik.
BCRS ini merupakan skema EPR kedua di Singapura setelah yang diperuntukkan untuk limbah elektronik.
Skema ini dikelola oleh Beverage Container Return Scheme Ltd (BCRS Ltd.), perusahaan nirlaba yang berlisensi dari Badan Lingkungan Nasional (National Environment Agency/NEA).
BCRS Ltd. didirikan industri dan diatur oleh dewan yang terdiri dari produsen besar dan kecil, serta bertanggung jawab atas pengumpulan sekaligus daur ulang kemasan minuman.
Dilansir dari dalam laman resmi BCRS, skema EPR yang dipimpin oleh produsen ini memungkinkan industri untuk merancang sistem yang hemat biaya dan efisien, seperti di Norwegia, Denmark, serta Lithuania.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya