Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperparah oleh perubahan iklim dinilai memperburuk kualitas udara global pada tahun 2025.
Emisi biomassa dari kebakaran di Eropa dan Kanada mencapai rekor, menyumbang sekitar 1.380 megaton karbon ke atmosfer.
Kualitas udara Kanada dilaporkan lebih tercemar dibandingkan Amerika Serikat untuk kedua kalinya dalam delapan tahun laporan ini. Salah satu sebabnya adalah musim kebakaran hutan.
Di Amerika Serikat, rata-rata tahunan PM2.5 meningkat menjadi 7,3 µg/m3 dibandingkan tahun sebelumnya. El Paso menjadi kota besar paling tercemar di Negeri Paman Sam.
Badai debu meningkatkan 46 persen PM2.5 menjadi 11,4 µg/m3. Wilayah Southeast Los Angeles seperti Cudahy, East Los Angeles, Huntington Park yang terdampak kebakaran di perbatasan hutan-perkotaan, menjadi area paling tercemar.
Di Eropa, 23 negara mengalami peningkatan PM2.5, dengan kadar di 18 negara menurun. Swiss dan Yunani mengalami kenaikan lebih dari 30 persen polusi kibat asap kebakaran lintas batas dari Amerika Utara dan debu Sahara dari Afrika.
“Kualitas udara adalah aset rapuh yang memerlukan pengelolaan aktif untuk melindungi kesehatan masyarakat," ucap CEO Global IQAir, Frank Hammes.
Laporan tersebut, lanjut dia, menunjukkan bahwa tanpa pemantauat masyarakat tidak dapat mengetahui apa yang mereka hirup selama ini.
IQAir dalam laporannya juga menekankan pentingnya memperluas jaringan pemantauan kualitas udara, terutama melalui sensor berbiaya rendah yang dapat memberdayakan masyarakat, peneliti, dan pembuat kebijakan dengan data yang dapat ditindaklanjuti.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya