Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Bank Sampah hingga Maggot, Cara Warga Kebon Melati Kurangi Limbah dari Rumah

Kompas.com, 29 Desember 2025, 07:56 WIB
Lidia Pratama Febrian,
Faieq Hidayat

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah padatnya pusat bisnis Jakarta, sekelompok warga di Kampung Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, memilih tidak menyerahkan urusan sampah sepenuhnya ke sistem kota.

Dari rumah ke rumah, sampah dipilah, dikumpulkan, dan diolah sendiri.

Botol plastik masuk bank sampah, sisa makanan rumah tangga diolah menjadi pakan maggot, sementara residu lain diproses lewat komposter.

Upaya ini dijalankan secara swadaya, konsisten, dan sudah berlangsung bertahun-tahun.

Setiap hari, sekitar 40 kilogram sampah organik di RW 06 Kampung Kebon Melati diolah melalui budidaya maggot.

Baca juga: Di Balik Gedung Pencakar Langit, Kampung Kebon Melati Bertahan dengan Ruang Hijau

Sampah dapur yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini menjadi bagian dari siklus ekonomi kecil warga.

Maggot yang dihasilkan dijual ke pemancing atau dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan unggas.

Hasilnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk menambah pemasukan warga yang terlibat.

“Kami punya inovasi pengelolaan sampah. Ada bank sampah, pengolahan sampah organik pakai maggot, dan pernah juga ekobrick. Sampah plastik masuk bank sampah, sampah organik rumah tangga masuk maggot,” kata Andi (48), Ketua RT 008 RW 06 Kebon Melati saat ditemui Kompas.com, Rabu (24/12/2025).

Budidaya Maggot untuk sampah organik di RW 06 Kebon Melati, Jakarta PusatKOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Budidaya Maggot untuk sampah organik di RW 06 Kebon Melati, Jakarta Pusat

Menurut Andi, pengelolaan maggot di RW 06 sudah berjalan sekitar lima tahun. Awalnya, warga hanya memiliki satu kotak maggot. Bahkan, mereka sempat kebingungan menyalurkan hasilnya karena jumlahnya terlalu banyak.

“Saking banyaknya, ada yang dikasih ke ayam atau ikan. Ini pengolahan sampah murni dari warga,” ujar Andi.

Ia menjelaskan, maggot harus dikelola secara berkelanjutan karena memiliki siklus hidup yang terus berulang.

Baca juga: Jerit Hati Para Anak Fatherless: Kehilangan Sosok Ayah Sangat Berat

Setelah kawin, lalat mati dan diolah menjadi pupuk, sementara telur menetas menjadi maggot baru.

“Makanya kalau sudah penuh, kita juga harus mikir mau dikemanain hasilnya,” kata Andi.

Selain maggot, RW 06 juga memiliki komposter untuk mengolah sampah yang sulit diproses.

Pupuk yang dihasilkan dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanah dan tanaman warga.

Tidak heran jika kampung ini terlihat lebih hijau dibandingkan kawasan sekitarnya yang didominasi beton dan aspal.

“Semua ini dikerjakan bareng-bareng warga. Di RW 6 ini kami jaga betul kebersihan dan pengolahan sampahnya,” ujar dia.

Sedekah Sampah dan Kesadaran Kolektif

Pengelolaan sampah di Kebon Melati tidak berhenti pada aspek teknis.

Warga juga membangun budaya kolektif melalui program “sedekah sampah”.

Di setiap RT tersedia drop box tempat warga menyumbangkan sampah plastik.

Sampah tersebut kemudian diambil oleh anak-anak karang taruna untuk dijual.

“Hasilnya buat kegiatan mereka,” kata Andi.

Baca juga: Arif Rela Izin Kerja Demi Ambil Rapor Anak, Komitmen Lawan Fenomena Fatherless

Halaman:


Terkini Lainnya
Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Joki Antre dan Praktik Percaloan
Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Joki Antre dan Praktik Percaloan
Megapolitan
Joki Antre Jadi Jalan Pintas Warga...
Joki Antre Jadi Jalan Pintas Warga...
Megapolitan
Tumpukan Sampah di Pasar Kopro Dibersihkan, Pengangkutan Kembali Normal
Tumpukan Sampah di Pasar Kopro Dibersihkan, Pengangkutan Kembali Normal
Megapolitan
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Megapolitan
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Megapolitan
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
Megapolitan
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Megapolitan
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Megapolitan
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Megapolitan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Megapolitan
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Megapolitan
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Megapolitan
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Megapolitan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Megapolitan
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Dari Bank Sampah hingga Maggot, Cara Warga Kebon Melati Kurangi Limbah dari Rumah
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat