Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan Warga Beli Air Zamzam di Tanah Abang: Dari Oleh-oleh hingga Konsumsi Pribadi

Kompas.com, 4 Maret 2026, 05:01 WIB
Hafizh Wahyu Darmawan,
Larissa Huda

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Air zamzam ukuran lima liter ramai diperjualbelikan di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, dengan harga mencapai Rp 350.000 hingga Rp 400.000 per galon.

Permintaan datang tidak hanya dari jamaah yang baru pulang umrah, tetapi juga warga yang rutin mengonsumsinya untuk kebutuhan pribadi.

Papan nama bertuliskan “Mekkah” dan “Pusat Grosir Kurma” berjajar di atas kios. Rak-rak dipenuhi kotak kurma, sajadah, tasbih, hingga galon air zamzam yang ditata di bagian depan agar mudah terlihat pembeli.

Baca juga: Cara Membedakan Air Zamzam Asli dan Palsu Versi Pedagang Pasar Tanah Abang

Aroma kurma kering bercampur dengan hiruk-pikuk percakapan pedagang dan pengunjung yang lalu-lalang di lorong sempit pasar.

Di salah satu sisi, tumpukan kurma disusun menggunung dalam wadah merah besar. Beberapa karyawan duduk di bangku kecil menunggu pembeli, sesekali memperhatikan orang yang berhenti untuk melihat-lihat.

Di tengah suasana itulah, galon-galon air zamzam lima liter menjadi salah satu barang yang kerap ditanyakan.

Pembelinya datang dengan tujuan berbeda. Ada yang hendak memborong untuk oleh-oleh sepulang ibadah, ada pula yang rutin membeli untuk dikonsumsi sendiri.

Bagi sebagian warga, Tanah Abang menjadi pilihan karena mudah dijangkau dan stoknya tersedia tanpa harus menunggu musim haji.

Mereka tak perlu membawa tambahan beban dari Tanah Suci. Cukup datang ke Tanah Abang, lalu membawa pulang air zamzam yang dibutuhkan.

Sebagai oleh-oleh keluarga dan kerabat

Yani, salah satu pembeli yang ditemui di lokasi, mengaku sengaja membeli tambahan air zamzam di Tanah Abang setelah pulang umrah.

Jatah yang didapat saat perjalanan ibadah dinilainya tidak cukup untuk dibagikan kepada seluruh keluarga dan kerabat.

Baca juga: Air Zamzam Galonan Dijual Rp 400.000 di Tanah Abang, Dipasok Pramugari dan Travel

Ia menyebutkan, tradisi berbagi air zamzam masih dipegang kuat di lingkungan keluarganya. Memberikan oleh-oleh tersebut dianggap sebagai bagian dari kebahagiaan sepulang ibadah.

“Umrah memang dapat jatah zamzam, tapi kan terbatas, Sementara keluarga saya banyak, belum lagi saudara dekat dan tetangga. Enggak enak kalau cuma kasih ke sebagian. Jadi lebih praktis beli lagi di sini (Tanah Abang) supaya cukup buat dibagi-bagi," ujar dia kepada Kompas.com, Senin (2/3/2026).

Dalam sekali pembelian, jumlah yang dibawa pulang pun tidak sedikit. Yani mengatakan ia bisa membeli belasan galon demi memastikan semua kebagian.

“Kalau buat oleh-oleh bisa sampai 10–20 galon. Supaya semua dapat bagian, Soalnya yang penting kan simbolisnya, bisa berbagi," katanya.

Ia juga menuturkan bahwa pembelian air zamzam biasanya dilakukan setelah kepulangannya dari Tanah Suci, menyesuaikan waktu keberangkatan umrah.

“Biasanya saya beli setelah pulang umrah saja tergantung kapan berangkatnya," kata dia.

Tetap melihat harga dan keaslian

Meski memiliki nilai ibadah, Yani mengaku tetap mempertimbangkan harga saat membeli dalam jumlah banyak. Selisih harga antar toko di Tanah Abang, menurut dia, tetap diperhatikan sebelum memutuskan pembelian.

Ia biasanya berkeliling terlebih dahulu untuk membandingkan harga. Perbedaannya bisa tipis, tetapi ada pula yang cukup signifikan.

Baca juga: Jemaah Haji Nekat Bawa Air Zamzam ke Tanah Air, Sembunyikan di Termos hingga Kursi Roda

Halaman:


Terkini Lainnya
Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Joki Antre dan Praktik Percaloan
Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Joki Antre dan Praktik Percaloan
Megapolitan
Joki Antre Jadi Jalan Pintas Warga...
Joki Antre Jadi Jalan Pintas Warga...
Megapolitan
Tumpukan Sampah di Pasar Kopro Dibersihkan, Pengangkutan Kembali Normal
Tumpukan Sampah di Pasar Kopro Dibersihkan, Pengangkutan Kembali Normal
Megapolitan
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Megapolitan
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Megapolitan
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
Megapolitan
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Megapolitan
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Megapolitan
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Megapolitan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Megapolitan
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Megapolitan
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Megapolitan
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Megapolitan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Megapolitan
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Alasan Warga Beli Air Zamzam di Tanah Abang: Dari Oleh-oleh hingga Konsumsi Pribadi
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat