JAKARTA, KOMPAS.com - PT PAM Jaya (Perseroda) berencana memproduksi air minum kemasan ramah lingkungan menggunakan kemasan berbahan kertas atau tetra pak.
Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, mengatakan inisiatif ini dilakukan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekaligus menghadirkan alternatif air minum yang lebih ramah lingkungan.
“Nanti ada air kemasan dari kita, tapi kemasannya kertas, tetra pak. Kita nggak pakai plastik,” ucap Arief dalam diskusi bersama media di Press Room Balai Kota Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Baca juga: Tak Perlu Bongkar Pipa, PAM Jaya Gunakan Gel untuk Tutup Kebocoran Air
Menurut Arief, air minum tersebut nantinya akan dikemas menggunakan bahan tetra pak yang berbasis kertas sehingga lebih mudah didaur ulang dibandingkan botol plastik sekali pakai.
Sebelum dijual ke masyarakat, produk tersebut akan diuji coba terlebih dahulu di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terutama untuk kebutuhan rapat atau kegiatan resmi.
“Saya rencananya mau memberikan pemerintah DKI, Pemprov itu nggak boleh pakai air kemasan plastik lagi dan kita mau trial free,” ujar Arief dalam paparannya.
Arief berharap kehadiran air minum kemasan tetra pak dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi penggunaan botol plastik yang selama ini banyak digunakan dalam berbagai kegiatan perkantoran.
“Harapannya nanti setiap rapat di lingkungan pemerintah tidak lagi menggunakan air kemasan plastik,” katanya.
Selain itu, PAM Jaya juga tengah melakukan berbagai pembaruan dalam sistem pelayanan air bersih di Jakarta, mulai dari pengembangan teknologi, digitalisasi layanan, hingga peningkatan jaringan perpipaan.
Baca juga: Galian PAM Jaya di Kalideres Ditutup Sementara Saat Libur Lebaran untuk Kurangi Macet
Salah satu inovasi yang sedang disiapkan adalah pengembangan teknologi yang mampu menghasilkan air minum dengan menangkap kandungan air dari udara.
Teknologi tersebut rencananya akan ditempatkan di kawasan Sudirman–Thamrin.
Nantinya warga bisa langsung mengonsumsi air tanpa perlu dimasak.
“Nanti kami akan punya alat yang namanya trapping atmosphere. Jadi dia itu water trapping atmosphere, dia tidak ada sumber airnya tapi bisa menciptakan air,” ucap Arief.
Selain itu, PAM Jaya juga tengah mempercepat digitalisasi layanan pelanggan, termasuk pengembangan smart water meter yang memungkinkan pencatatan penggunaan air dilakukan secara otomatis melalui sistem digital.
Perusahaan juga mengembangkan super aplikasi layanan pelanggan yang memungkinkan masyarakat melaporkan gangguan layanan air, memantau penggunaan air, hingga mengakses berbagai layanan PAM Jaya melalui ponsel.
Di sisi teknis, PAM Jaya juga mulai menggunakan teknologi gel khusus untuk menutup kebocoran pipa tanpa perlu membongkar jaringan pipa yang ada.
Teknologi ini diklaim mampu menutup kebocoran kecil pada pipa dan bertahan hingga delapan tahun.
Saat ini, cakupan layanan air perpipaan di Jakarta disebut telah mencapai sekitar 80 persen dan ditargetkan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang