Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Direlokasi dari Lahan Makam Jakbar, Kori Kaget Lihat Rusun: Kenapa Enggak Digusur dari Dulu?

Kompas.com, 1 April 2026, 15:46 WIB
Ridho Danu Prasetyo,
Larissa Huda

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kehidupan Kori Temu (38), perantau asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, berubah drastis setelah terdampak penggusuran untuk pembangunan pemakaman di Kamal, Kalideres, Jakarta Barat.

Sempat diliputi ketakutan dan penolakan, ia kini justru mengaku bersyukur setelah direlokasi ke rumah susun.

Kori sebelumnya tinggal di RW 04 Pegadungan, Kalideres, sebelum akhirnya direlokasi ke Rusun Tegal Alur oleh Pemerintah Kota Jakarta Barat. Relokasi yang awalnya dianggap sebagai ancaman kini justru ia rasakan sebagai berkah.

Baca juga: “Bukan Hak Saya, Maka Saya Kembalikan”: Saat Warga Tinggalkan Lahan Makam di Jakbar

"Makanya aku ngomong sama suamiku, 'ya ampun ini doa aku dikabulin'. Senang sih punya tempat yang lebih layak, malah kayak 'kenapa enggak dari dulu aja ya digusur?'," kelakar Kori saat berbincang dengan Kompas.com di Rusun Tegal Alur, Rabu (1/4/2026).

Saat pertama kali menerima surat pemberitahuan pengosongan lahan, Kori mengaku kaget dan stres. Ia baru mengetahui bahwa lahan yang telah ditempatinya selama belasan tahun merupakan aset negara yang akan digunakan untuk pembangunan pemakaman.

Penolakan sempat muncul, terutama karena ia membayangkan kehidupan di rumah susun akan lebih merepotkan dibandingkan tinggal di rumah sebelumnya.

"Pikirannya rusun kan ya pakai tangga apa segala macam kan. Nanti repot, gimana ya kalau air habis kan harus gotong galon ke atas. Kepikiran pasti capek dan enggak nyaman. Awalnya mikir mending di rumah sendiri walaupun begitu," ungkap Kori.

Namun, pandangannya berubah setelah mengikuti sosialisasi di Kantor Kelurahan Tegal Alur pada akhir tahun lalu. Dalam sosialisasi tersebut, warga diberikan penjelasan terkait fasilitas dan sistem hunian di rumah susun.

"Eh ternyata sampai sini ada lift, terus ada taman, unitnya bagus, bersih, rapi. Pas dikasih tahu sama kelurahan sistemnya begini, malah langsung aja, 'ah buru-buru pindah aja lah' kata saya, tempatnya bagus banget," ujarnya.

Kori kemudian meyakinkan suaminya untuk menerima relokasi dan akhirnya pindah pada 10 Februari 2026 dalam tahap pertama relokasi.

"Saya malah langsung ngomong ke saudara yang di sana juga, eh buruan udah ikut aja enak tempatnya di rusun daripada di sana," kata dia.

Baca juga: Rumah Warga di Lahan TPU Kamal Kalideres Akan Dibongkar Total Senin Depan

Hunian layak

Rasa syukur Kori bukan tanpa alasan. Sebelumnya, ia tinggal di bangunan semi permanen berdinding triplek yang berdiri di atas lahan persawahan.

Kondisinya memprihatinkan, mulai dari rumah yang kerap kebanjiran, jalanan becek dan berlumpur, hingga air tanah yang asin sehingga ia harus mengambil air untuk mendapatkan akses air PAM.

Sementara di Rusun Tegal Alur, Kori kini mendapatkan hunian yang jauh lebih layak dan nyaman.

"Sekarang anak-anak punya kamar sendiri, saya sama suami punya kamar sendiri. Terus ada ruang depan, dapur, tempat kompor, kamar mandi bersih, malah lebih bagus, bersih. Airnya gampang, masak nggak ribet," ucapnya.

Halaman:


Terkini Lainnya
Kali di Ancol Berbau Limbah Mirip Kotoran Manusia, Bukti Penegakan Hukum Belum Efektif
Kali di Ancol Berbau Limbah Mirip Kotoran Manusia, Bukti Penegakan Hukum Belum Efektif
Megapolitan
Polisi Periksa Karni Ilyas Terkait Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi
Polisi Periksa Karni Ilyas Terkait Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi
Megapolitan
Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Joki Antre dan Praktik Percaloan
Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Joki Antre dan Praktik Percaloan
Megapolitan
Joki Antre Jadi Jalan Pintas Warga...
Joki Antre Jadi Jalan Pintas Warga...
Megapolitan
Tumpukan Sampah di Pasar Kopro Dibersihkan, Pengangkutan Kembali Normal
Tumpukan Sampah di Pasar Kopro Dibersihkan, Pengangkutan Kembali Normal
Megapolitan
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Megapolitan
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Megapolitan
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
Megapolitan
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Megapolitan
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Megapolitan
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Megapolitan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Megapolitan
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Megapolitan
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Megapolitan
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Direlokasi dari Lahan Makam Jakbar, Kori Kaget Lihat Rusun: Kenapa Enggak Digusur dari Dulu?
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat