Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Pakar Ungkap, Gen Z dan Milenial Mudah Burnout karena Kehilangan Harapan

JAKARTA, KOMPAS.com - Perdebatan mengenai generasi muda di dunia kerja kembali mencuat dalam beberapa tahun terakhir.

Gen Z dan milenial kerap disebut lebih mudah mengalami burnout dibanding generasi sebelumnya.

Mereka juga sering mendapat stigma sebagai pekerja yang kurang tahan tekanan, terlalu menuntut keseimbangan hidup, atau kurang loyal terhadap pekerjaan.

Namun, profesor praktik manajemen di New York University (NYU) sekaligus penulis bisnis, Suzy Welch, melihat fenomena tersebut dari sudut pandang berbeda.

Menurut dia, generasi muda tidak mengalami burnout karena bekerja lebih keras, melainkan karena mereka kehilangan keyakinan bahwa kerja keras akan membawa hasil yang sepadan.

Pandangan tersebut muncul dalam percakapan Welch di podcast Masters of Scale yang kemudian dilaporkan oleh Fortune. Ia menilai perbedaan utama antara generasi muda dan generasi sebelumnya terletak pada tingkat harapan terhadap masa depan karier dan kehidupan ekonomi.

Burnout yang berbeda dari generasi sebelumnya

Welch menjelaskan, intensitas kerja sebenarnya bukan faktor utama yang membedakan generasi muda dengan generasi sebelumnya.

Banyak pekerja pada generasi baby boomer atau generasi X juga menjalani jam kerja panjang ketika mereka berada di usia 20-an.

Dalam percakapan di podcast tersebut, Welch bahkan menceritakan pengalamannya sendiri ketika masih muda. Ia mengatakan pernah bekerja hampir tanpa henti selama masa awal kariernya.

Namun, ia merasa pekerjaan tersebut tetap memberi kepuasan karena ada keyakinan bahwa kerja keras akan membawa kemajuan.

Menurut Welch, perbedaan mendasar muncul ketika ia berdialog dengan seorang pekerja lepas berusia 25 tahun. Pekerja muda itu meminta Welch membuat lebih banyak konten tentang kelelahan kerja yang dialami generasi muda.

Welch menjawab, ketika ia berada di usia yang sama, ia juga bekerja hampir setiap hari dalam seminggu dan bahkan menikmati ritme tersebut.

Respons yang ia terima dari pekerja muda itu justru mengubah perspektifnya. Pekerja tersebut menjawab singkat: “Tapi Anda memiliki harapan.”

Welch kemudian mengakui bahwa pernyataan tersebut benar.

Ia mengatakan, “Dan saya memiliki harapan. Kita semua memiliki harapan."

Menurutnya, generasi sebelumnya percaya bahwa kerja keras akan membawa hasil nyata, seperti promosi, kestabilan finansial, atau kemampuan membeli rumah.

“Kami percaya bahwa jika Anda bekerja keras, Anda akan mendapatkan imbalannya. Dan di sinilah letak kesenjangannya,” kata Welch.

Ia menilai kesenjangan harapan inilah yang menjadi penyebab utama munculnya burnout di kalangan generasi muda.

Krisis harapan di kalangan pekerja muda

Welch menyebut kondisi ini sebagai “krisis harapan”. Menurutnya, banyak pekerja muda tidak lagi yakin bahwa upaya yang mereka lakukan akan menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Perasaan tersebut muncul dari berbagai tekanan ekonomi dan sosial yang mereka hadapi saat memasuki dunia kerja.

Salah satu faktor yang sering disebut adalah biaya hidup yang terus meningkat. Harga perumahan dan kebutuhan dasar meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan.

Dalam kondisi tersebut, banyak pekerja muda merasa bahwa kerja keras tidak lagi menjamin stabilitas finansial atau mobilitas ekonomi.

Situasi ini membuat generasi muda memandang masa depan dengan lebih skeptis dibandingkan generasi sebelumnya.

Data mendukung tingginya burnout

Pandangan Welch juga didukung sejumlah data mengenai kondisi psikologis pekerja muda.

Survei Gallup pada 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 31 persen pekerja di bawah usia 35 tahun yang merasa “berkembang” atau thriving dalam hidup mereka.

Dalam survei yang sama, sekitar 22 persen pekerja muda juga melaporkan merasa kesepian.

Jim Harter, kepala ilmuwan untuk bidang tempat kerja dan kesejahteraan di Gallup, mengatakan perubahan pola kerja dan kehidupan sosial turut memengaruhi kondisi tersebut.

“Saya rasa jarak antarmanusia lebih besar daripada sebelumnya," tutur dia.

Menurut Harter, jarak fisik yang semakin besar, misalnya akibat kerja jarak jauh, juga berpengaruh pada hubungan sosial di tempat kerja.

Ketika hubungan antarpekerja semakin renggang, dampaknya tidak hanya dirasakan pada produktivitas, tetapi juga pada kesehatan mental.

Selain itu, laporan dari perusahaan asuransi Aflac menunjukkan bahwa sekitar 66 persen milenial mengalami tingkat burnout moderat hingga tinggi.

Angka tersebut menggambarkan, kelelahan kerja bukan lagi fenomena individual, melainkan tren yang meluas di kalangan pekerja muda.

Selain tekanan di tempat kerja, kondisi ekonomi juga menjadi faktor penting dalam meningkatnya burnout.

Banyak pekerja muda menghadapi situasi di mana pendapatan mereka tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup.

Dalam beberapa dekade terakhir, harga perumahan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan rumah tangga.

Akibatnya, kepemilikan rumah menjadi semakin sulit dicapai oleh generasi muda.

Bagi sebagian besar pekerja Gen Z dan milenial, membeli rumah atau mencapai stabilitas finansial kini dianggap jauh lebih sulit dibandingkan generasi sebelumnya.

Beberapa bahkan terpaksa menunda atau membatalkan berbagai tonggak kehidupan seperti menikah, memiliki anak, atau membeli properti.

Dalam kondisi tersebut, banyak pekerja muda merasa bahwa mereka bekerja keras tanpa melihat hasil yang sebanding.

Fenomena ini yang oleh Welch disebut sebagai “diminished returns” atau menurunnya imbal hasil dari kerja keras.

Ketidakpercayaan terhadap sistem karier

Welch juga menilai generasi muda tumbuh dengan menyaksikan berbagai krisis ekonomi dan perubahan besar di dunia kerja.

Beberapa di antaranya termasuk krisis keuangan global, pandemi, serta gelombang pemutusan hubungan kerja di berbagai industri.

Banyak pekerja muda melihat orang tua mereka bekerja keras selama bertahun-tahun tetapi tetap mengalami PHK atau ketidakstabilan ekonomi.

Pengalaman tersebut membentuk cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan.

Menurut Welch, situasi ini membuat sebagian Gen Z tidak ingin terlalu banyak mengorbankan diri untuk pekerjaan.

Mereka cenderung mempertanyakan apakah sistem karier tradisional masih layak diperjuangkan.

Dalam beberapa kasus, generasi muda juga menunjukkan nilai yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Jika generasi baby boomer dikenal menekankan pencapaian karier dan loyalitas terhadap perusahaan, generasi muda lebih menekankan keseimbangan hidup, fleksibilitas kerja, dan makna pekerjaan.

Perbedaan nilai ini sering memicu kesalahpahaman antara pekerja muda dan manajer yang berasal dari generasi lebih tua.

Label “malas” terhadap Gen Z

Dalam beberapa tahun terakhir, Gen Z sering mendapat label negatif di dunia kerja.

Sebagian kritik menyebut mereka terlalu sensitif, tidak tahan tekanan, atau kurang memiliki etos kerja.

Namun Welch menilai penilaian tersebut tidak sepenuhnya adil. Ia mengatakan, generasi muda justru menghadapi tekanan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Menurutnya, banyak dari sikap yang dianggap sebagai “kurang ambisius” sebenarnya berasal dari rasa ketidakpastian terhadap masa depan.

Welch mengatakan bahwa generasi muda menghadapi berbagai persoalan sekaligus, mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga kekhawatiran mengenai masa depan planet.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kerentanan emosional yang sering disalahpahami oleh generasi yang lebih tua.

Welch mengatakan masyarakat seharusnya lebih memahami kondisi tersebut, bukan sekadar mengkritik generasi muda.

Ia menyebut situasi yang dihadapi Gen Z sebagai kombinasi antara “kerentanan dan kesedihan” yang jarang dipahami oleh orang yang tidak mengalaminya secara langsung.

Perubahan nilai di dunia kerja

Perubahan nilai juga memengaruhi cara generasi muda memandang pekerjaan.

Penelitian yang dilakukan Welch terhadap mahasiswa MBA menunjukkan, nilai yang dianggap penting oleh Gen Z berbeda dari yang biasanya dicari perusahaan.

Jika perusahaan cenderung mencari kandidat dengan ambisi kuat untuk berprestasi dan bekerja keras, banyak Gen Z justru menempatkan kesejahteraan pribadi dan makna sosial sebagai prioritas.

Beberapa nilai yang banyak muncul di kalangan Gen Z antara lain kesejahteraan diri, kontribusi terhadap orang lain, serta kemampuan mengekspresikan diri.

Perbedaan tersebut membuat hubungan antara pekerja muda dan organisasi menjadi lebih kompleks.

Sebagian perusahaan masih menggunakan pendekatan manajemen tradisional yang berfokus pada produktivitas dan pencapaian target.

Sementara itu, generasi muda cenderung mengharapkan lingkungan kerja yang lebih fleksibel dan mendukung kesejahteraan mental.

Perbedaan ekspektasi ini sering memicu konflik di tempat kerja.

Empati terhadap generasi muda

Dalam berbagai kesempatan, Welch menekankan pentingnya empati terhadap generasi muda.

Ia menilai, kritik terhadap Gen Z sering kali mengabaikan realitas ekonomi dan sosial yang mereka hadapi. Menurutnya, generasi yang lebih tua perlu memahami bahwa konteks dunia kerja telah berubah secara signifikan.

Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, serta perubahan teknologi membuat jalur karier menjadi lebih tidak pasti dibandingkan beberapa dekade lalu.

Dalam situasi tersebut, wajar jika generasi muda memiliki pandangan berbeda tentang pekerjaan.

Welch menilai memahami perbedaan tersebut menjadi langkah penting untuk menjembatani kesenjangan generasi di tempat kerja.

Ia juga menilai diskusi mengenai burnout tidak seharusnya hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada struktur ekonomi dan sistem kerja yang memengaruhi kehidupan pekerja muda.

Dengan kata lain, burnout yang dialami Gen Z dan milenial tidak semata-mata berasal dari tekanan pekerjaan, tetapi juga dari perubahan besar dalam harapan terhadap masa depan.

https://money.kompas.com/read/2026/03/02/173253826/pakar-ungkap-gen-z-dan-milenial-mudah-burnout-karena-kehilangan-harapan

Terkini Lainnya

Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com