Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Kota dengan Penjualan Ritel Tertinggi Awal 2026: Surabaya Memimpin

JAKARTA, KOMPAS.com – Kinerja penjualan eceran di sejumlah kota besar di Indonesia menunjukkan perkembangan yang bervariasi pada awal 2026.

Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dirilis Bank Indonesia (BI) mencatat beberapa kota mengalami pertumbuhan penjualan ritel cukup tinggi secara tahunan, sementara beberapa kota lain justru mengalami perlambatan bahkan kontraksi.

Data tersebut tercermin dari perkembangan Indeks Penjualan Riil (IPR) yang menggambarkan kinerja penjualan ritel di berbagai wilayah.

Secara nasional, IPR Januari 2026 tercatat sebesar 223,6, atau tumbuh 5,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, kinerja penjualan eceran pada awal tahun masih menunjukkan peningkatan secara tahunan.

“Kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 diprakirakan meningkat secara tahunan,” ujar Ramdan dalam keterangan resmi BI, dikutip pada Selasa (10/3/2026).

Menurut dia, peningkatan tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan penjualan pada kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman dan tembakau, serta subkelompok sandang.

Meski demikian, secara bulanan kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 mengalami kontraksi 2,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/mtm).

Kondisi ini sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.

Ramdan menjelaskan, kontraksi secara bulanan tersebut terjadi setelah tingginya aktivitas konsumsi masyarakat pada periode akhir tahun.

“Kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 diprakirakan mengalami kontraksi secara bulanan sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah HBKN Natal dan Tahun Baru,” kata dia.

Di tingkat daerah, survei ini juga menunjukkan dinamika yang berbeda-beda antar kota.

Surabaya mencatat pertumbuhan tertinggi

Beberapa kota mencatat pertumbuhan penjualan ritel yang cukup kuat pada awal 2026. Salah satu yang menonjol adalah Surabaya.

Berdasarkan hasil survei, penjualan ritel di Surabaya pada Januari 2026 tercatat memiliki indeks sekitar 491,9 dengan pertumbuhan 15,0 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi di antara sejumlah kota yang disurvei BI.

Selain Surabaya, kota lain yang juga menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah Banjarmasin. Penjualan ritel di kota ini tercatat memiliki indeks sekitar 115,6 dengan pertumbuhan 14,7 persen secara tahunan.

Sementara itu, Semarang (termasuk Purwokerto) juga menunjukkan kinerja yang cukup kuat. Penjualan ritel di wilayah tersebut tercatat memiliki indeks sekitar 87,9 dengan pertumbuhan 10,1 persen secara tahunan.

Kinerja di sejumlah kota tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas perdagangan eceran pada awal tahun.

Sejumlah kota mencatat pertumbuhan moderat

Selain kota dengan pertumbuhan tinggi, beberapa kota lain mencatat kenaikan penjualan ritel dengan laju yang lebih moderat.

Di Denpasar, penjualan ritel tercatat memiliki indeks sekitar 124,4 dengan pertumbuhan 6,4 persen secara tahunan.

Sementara itu, Makassar menunjukkan pertumbuhan positif dengan indeks sekitar 214,2 dan pertumbuhan 3,6 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas perdagangan ritel meskipun tidak setinggi kota-kota dengan pertumbuhan dua digit.

Selain itu, penjualan ritel di Jakarta juga tercatat meningkat dengan pertumbuhan sekitar 4,9 persen secara tahunan.

Adapun Medan mencatat pertumbuhan sekitar 1,3 persen secara tahunan, yang menunjukkan peningkatan relatif terbatas dibandingkan sejumlah kota lainnya.

Bandung dan Manado mengalami kontraksi

Berbeda dengan sejumlah kota yang mencatat pertumbuhan positif, beberapa wilayah justru mengalami penurunan kinerja penjualan ritel.

Survei BI mencatat, Bandung mengalami kontraksi penjualan ritel sekitar minus 3,9 persen secara tahunan.

Penurunan yang lebih dalam terjadi di Manado, yang mencatat kontraksi sekitar minus 13,3 persen secara tahunan.

Perbedaan kinerja antar kota tersebut menunjukkan adanya variasi kondisi aktivitas konsumsi masyarakat di berbagai daerah.

Penjualan ritel meningkat secara tahunan

Secara keseluruhan, BI menyatakan, kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil Januari 2026 yang tercatat 223,6, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 3,5 persen pada Desember 2025.

Berdasarkan kelompok barangnya, peningkatan penjualan terutama berasal dari kelompok barang budaya dan rekreasi yang memiliki indeks 64,0 dengan pertumbuhan sekitar 15,9 persen secara tahunan.

Selain itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga menunjukkan peningkatan dengan indeks sekitar 315,9 dan pertumbuhan sekitar 8,1 persen secara tahunan.

Subkelompok sandang juga mencatat pertumbuhan dengan indeks sekitar 86,3 atau naik sekitar 3,4 persen secara tahunan.

Sementara itu, secara bulanan sebagian besar kelompok barang tercatat mengalami kontraksi pada Januari 2026.

Kelompok peralatan informasi dan komunikasi tercatat mengalami kontraksi sekitar 7,7 persen secara bulanan, diikuti oleh kelompok suku cadang dan aksesori sekitar minus 3,8 persen, serta kelompok makanan, minuman dan tembakau sekitar minus 2,5 persen.

Penurunan tersebut terjadi seiring berakhirnya momentum konsumsi pada periode akhir tahun.

Penjualan diperkirakan meningkat pada Februari 2026

Ke depan, penjualan ritel diperkirakan akan kembali meningkat.

Dalam survei yang sama, BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil pada Februari 2026 akan mencapai sekitar 233,5. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan 6,9 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Januari 2026.

Secara bulanan, penjualan ritel pada Februari 2026 juga diperkirakan tumbuh sekitar 4,4 persen, meningkat dibandingkan kontraksi pada bulan sebelumnya.

Ramdan mengatakan peningkatan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang bulan Ramadhan serta persiapan menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Peningkatan penjualan eceran tersebut juga sejalan dengan kenaikan penjualan pada sejumlah kelompok barang, terutama kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang.

Ekspektasi penjualan beberapa bulan ke depan

Selain memotret kondisi terkini, survei juga mencatat ekspektasi pelaku usaha terhadap kinerja penjualan pada periode mendatang.

Responden memperkirakan penjualan eceran dalam tiga bulan ke depan relatif stabil, tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) April 2026 sebesar 146,7.

Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat 146,8, seiring dengan normalisasi kegiatan konsumsi setelah periode Idulfitri.

Sementara itu, untuk enam bulan ke depan, pelaku usaha memperkirakan penjualan akan meningkat. Hal ini tercermin dari IEP Juli 2026 sebesar 149,1, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 135,4.

Peningkatan ekspektasi penjualan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan permintaan pada periode liburan sekolah serta momentum mid season sale.

Gambaran kondisi harga ke depan

Survei juga mencatat perkembangan ekspektasi harga barang pada beberapa bulan mendatang.

Tekanan inflasi dalam tiga bulan ke depan diperkirakan menurun. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) April 2026 sebesar 153,9, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 175,7.

Penurunan tersebut seiring dengan normalisasi harga barang setelah periode Idul Fitri.

Namun demikian, tekanan harga diperkirakan meningkat dalam enam bulan ke depan. Hal ini tercermin dari IEH Juli 2026 sebesar 157,1, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat 156,3.

Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya harga pada periode awal tahun ajaran baru.

https://money.kompas.com/read/2026/03/10/125903126/kota-dengan-penjualan-ritel-tertinggi-awal-2026-surabaya-memimpin

Terkini Lainnya

Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com