Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Harga Emas Dunia Tertahan di 5.017 Dollar AS per Ons

Harga logam mulia tersebut bertahan di kisaran 5.000 dollar AS per ons.

Pelemahan dollar Amerika Serikat membantu menahan tekanan harga emas. Kondisi ini terjadi di tengah meredupnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve atau The Fed.

Mengutip Economic Times, harga emas di pasar spot tercatat tidak berubah di level 5.017,53 dollar AS per ons pada pukul 08.01 WIB.

Nilai tersebut setara sekitar Rp 79,2 juta per ons dengan asumsi kurs Rp 15.780 per dollar AS.

Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April tercatat turun 0,8 persen menjadi 5.020,90 dollar AS per ons.

Dollar AS melemah tipis pada perdagangan awal pekan.

Kondisi ini membuat harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Permintaan investor terhadap emas pun cenderung meningkat.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun juga tercatat menurun.

Penurunan yield tersebut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven.

Emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Penurunan yield obligasi membuat logam mulia tersebut relatif lebih menarik bagi investor.

Tekanan terhadap pasar tetap muncul dari lonjakan harga minyak dunia.

Harga minyak mentah bertahan di atas 100 dollar AS per barrel. Kondisi ini terjadi seiring konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah memasuki pekan ketiga.

Konflik tersebut meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah.

Selat Hormuz juga masih ditutup sehingga memicu gangguan pasokan minyak global.

Selat tersebut merupakan jalur penting perdagangan energi dunia. Sebagian besar pasokan minyak global melewati jalur tersebut.

Kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi. Biaya transportasi dan produksi dapat meningkat akibat lonjakan harga energi.


Kondisi inflasi biasanya meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Namun suku bunga tinggi tetap menjadi faktor penekan bagi emas.

Investor cenderung beralih ke aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi ketika suku bunga berada pada level tinggi.

Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 hingga 3,75 persen.

Keputusan tersebut diperkirakan diumumkan dalam pertemuan kebijakan pada Rabu pekan ini.

Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump mengancam akan melancarkan serangan tambahan terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg.

Pemerintah Amerika Serikat juga belum menunjukkan kesiapan untuk mencapai kesepakatan damai.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan pemerintah Amerika Serikat berencana membentuk koalisi internasional.

Koalisi tersebut bertujuan mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Pergerakan positif juga terlihat pada logam mulia lain.

Harga perak di pasar spot naik 0,4 persen menjadi 80,88 dollar AS per ons.

Harga platinum meningkat 0,9 persen ke level 2.049,50 dollar AS per ons.

Harga palladium juga menguat 0,3 persen pada perdagangan yang sama.

https://money.kompas.com/read/2026/03/16/093957426/harga-emas-dunia-tertahan-di-5017-dollar-as-per-ons

Terkini Lainnya

Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Ekbis
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Ekbis
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
Ekbis
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
Ekbis
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Ekbis
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Ekbis
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Ekbis
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com