Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Wall Street Kembali Anjlok, Perang Iran Vs AS-Israel Jadi Pemicu

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 443,96 poin atau 0,96 persen ke level 45.577,47. Indeks S&P 500 melemah 1,51 persen ke 6.506,48, sementara Nasdaq Composite merosot 2,01 persen ke 21.647,61.

Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 turun lebih dari 2 persen dan masuk ke wilayah koreksi—yakni penurunan 10 persen dari posisi puncak terakhirnya.

Pada titik terendah hari itu, Dow dan Nasdaq juga sempat masuk wilayah koreksi, namun akhirnya ditutup masih di bawah ambang penurunan 10 persen tersebut.

Pergerakan ini terjadi setelah Iran dan Israel saling melancarkan serangan semalam, sementara Iran juga meluncurkan serangan baru ke fasilitas energi di kawasan Teluk Persia.

The Wall Street Journal melaporkan, mengutip pejabat AS, Pentagon mengirim ribuan tambahan Marinir ke Timur Tengah. CBS News juga menyebutkan adanya “persiapan besar-besaran” untuk pengiriman pasukan darat ke Iran, mengutip berbagai sumber.

Tekanan jual meningkat pada sore hari setelah Reuters melaporkan Irak menetapkan status force majeure pada seluruh ladang minyak yang dioperasikan perusahaan asing. Hal ini mendorong harga minyak melonjak, dengan minyak Brent sempat menembus 113 dollar AS per barrel dan minyak WTI diperdagangkan di atas 98 dollar AS per barrel.

“Jika ini merupakan eskalasi yang melibatkan pasukan darat, maka kita kemungkinan akan menghadapi setidaknya beberapa minggu ke depan dengan kondisi pasar seperti ini: harga minyak dan bensin tinggi; pasar sangat sensitif terhadap setiap berita terkait infrastruktur energi di kawasan tersebut,” kata analis strategi investasi Baird, Ross Mayfield, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu (21/3/2026).

“Sejujurnya, pasar saham belum terkoreksi sepenuhnya untuk mencerminkan peristiwa sebesar ini, sehingga masih ada potensi penurunan lebih lanjut,” tambah dia.

Sementara itu, kekhawatiran bahwa inflasi kembali meningkat dan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve menjadi semakin kecil kemungkinannya mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik pada Jumat, yang turut menekan pasar saham.

Indeks-indeks utama mencatatkan pekan keempat berturut-turut mengalami penurunan. S&P 500 relatif lebih tahan dibanding indeks lainnya, dengan penurunan sekitar 7 persen dari puncak terbarunya.

“Tidaklah aneh dalam kondisi seperti saat ini, dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, jika terjadi koreksi 10 persen pada suatu indeks,” ujar Art Hogan dari B. Riley.

“Karena S&P lebih luas dan terdiversifikasi, kemungkinan menjadi yang terakhir turun. Namun ini juga menunjukkan bahwa kita sedang berada dalam periode yang sangat tidak pasti,” lanjutnya.

Tekanan jual terjadi secara luas pada Jumat, dengan saham-saham teknologi yang sebelumnya memimpin reli pasar justru mengalami penurunan terbesar. Nvidia dan Tesla masing-masing turun sekitar 3 persen. Hampir tidak ada sektor yang aman, karena kenaikan imbal hasil juga menekan sektor utilitas yang biasanya relatif stabil.

https://money.kompas.com/read/2026/03/21/054427526/wall-street-kembali-anjlok-perang-iran-vs-as-israel-jadi-pemicu

Terkini Lainnya

Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com