JAKARTA, KOMPAS.com — Gen Z menunjukkan pendekatan yang berbeda terhadap investasi dibanding generasi sebelumnya.
Perubahan ini tidak hanya dipengaruhi perkembangan teknologi dan akses informasi yang lebih luas, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor kepercayaan terhadap lembaga keuangan dan sistem ekonomi secara umum.
Menurut laporan Global Retail Investor Outlook 2024 dari World Economic Forum (WEF), Gen Z cenderung mulai berinvestasi lebih awal dalam hidup dan lebih tertarik pada produk investasi yang kompleks, termasuk aset kripto maupun kelas aset alternatif lainnya.
Fenomena ini mencerminkan perubahan struktur pasar ritel global, di mana investor muda semakin memainkan peran penting dalam dinamika investasi.
Investasi dimulai lebih dini
WEF mencatat, sekitar 30 persen Gen Z mulai berinvestasi saat masih berada di perguruan tinggi atau pada awal masa dewasa.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, seperti Gen X yang hanya mencapai 9 persen dan baby boomers sebesar 6 persen.
Selain itu, tingkat literasi investasi generasi ini juga relatif lebih tinggi pada usia muda. Sekitar 86 persen Gen Z sudah mempelajari investasi pribadi sebelum memasuki dunia kerja, dibandingkan hanya 47 persen pada generasi baby boomers.
Perbedaan ini menunjukkan transformasi generasional dalam cara individu mengenal dan berinteraksi dengan instrumen keuangan.
Ketersediaan platform digital, biaya transaksi yang lebih rendah, serta kemudahan akses informasi menjadi faktor yang mendorong partisipasi lebih awal di pasar modal.
WEF juga menyoroti sekitar 45 persen Gen Z dan milenial mulai berinvestasi pada usia dewasa awal, dibandingkan hanya 15 persen dari generasi yang lebih tua.
Kompleksitas produk investasi
Selain memulai investasi lebih cepat, Gen Z juga dinilai lebih terbuka terhadap instrumen investasi yang memiliki tingkat kompleksitas lebih tinggi.
Hal ini termasuk minat pada kripto, investasi alternatif, serta penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan dalam pengambilan keputusan finansial.
Laporan WEF menyebutkan bahwa investor muda lebih mungkin berinvestasi pada produk kompleks dibandingkan generasi sebelumnya.
Keterbukaan terhadap teknologi ini juga tercermin dari meningkatnya minat pada layanan berbasis AI dalam sektor keuangan. Sekitar 41 persen investor muda dan milenial menyatakan bersedia mengizinkan asisten AI mengelola investasi mereka.
Adopsi teknologi tersebut menjadi bagian dari perubahan perilaku finansial yang lebih luas, di mana digitalisasi memengaruhi cara generasi muda mengakses, memahami, dan menilai peluang investasi.
Faktor kepercayaan yang kompleks
Meski terlihat lebih aktif di pasar investasi, pendekatan Gen Z tidak sepenuhnya didorong oleh optimisme terhadap sistem keuangan tradisional.
WEF menekankan, faktor kepercayaan memainkan peran penting dalam membentuk perilaku investasi generasi ini. Sekitar satu dari lima Gen Z yang tidak berinvestasi menyebutkan alasan utama mereka adalah kurangnya kepercayaan terhadap lembaga keuangan.
Namun, gambaran kepercayaan ini tidak bersifat hitam-putih. Berdasarkan Edelman Trust in Financial Services Barometer, tingkat kepercayaan Gen Z terhadap perusahaan jasa keuangan sebenarnya relatif setara dengan generasi lain.
Meski demikian, secara keseluruhan terjadi penurunan kepercayaan terhadap institusi tradisional, baik keuangan maupun teknologi, dalam dua tahun terakhir.
Situasi ini menunjukkan adanya paradoks. Di satu sisi, Gen Z lebih aktif berinvestasi dan terbuka terhadap inovasi finansial.
Namun, di sisi lain, mereka juga menunjukkan sikap skeptis terhadap institusi yang telah lama menjadi pilar sistem keuangan.
Peran teknologi dan media sosial
Lingkungan digital yang membentuk pengalaman hidup Gen Z turut memengaruhi pola pengambilan keputusan finansial mereka.
Generasi ini tumbuh bersama kemunculan perusahaan teknologi besar dan platform media sosial, yang kini menjadi sumber utama informasi investasi.
Penelitian WEF sebelumnya menunjukkan, Gen Z hampir lima kali lebih mungkin mencari nasihat keuangan melalui media sosial dibandingkan individu berusia di atas 41 tahun.
Fenomena munculnya “finfluencer” alias influencer yang memberikan edukasi atau rekomendasi finansial menjadi bagian dari lanskap baru dalam industri investasi ritel.
Perubahan ini turut mendorong perusahaan jasa keuangan untuk menyesuaikan strategi komunikasi dan pendekatan layanan mereka.
Selain itu, kemajuan teknologi memungkinkan personalisasi layanan keuangan, termasuk melalui pemanfaatan AI yang dapat memberikan rekomendasi berbasis data dan preferensi pengguna.
Perubahan preferensi dan nilai investasi
Perilaku investasi Gen Z juga dipengaruhi oleh nilai dan prioritas yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
WEF menyoroti generasi muda semakin memperhatikan tujuan investasi yang tidak hanya berfokus pada keuntungan finansial, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan.
Dalam konteks ini, investasi berkelanjutan menjadi salah satu tema yang mendapatkan perhatian.
Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global serta perubahan struktur pasar tenaga kerja turut memengaruhi sikap mereka terhadap risiko dan perencanaan keuangan jangka panjang.
WEF mencatat, generasi muda diproyeksikan akan memainkan peran semakin besar dalam ekonomi global, termasuk dalam pasar tenaga kerja yang diperkirakan akan diisi hingga 30 persen oleh Gen Z pada 2030.
Perubahan demografis ini berpotensi menggeser prioritas investasi, inovasi produk finansial, serta strategi lembaga keuangan dalam menjangkau nasabah baru.
Tantangan bagi industri jasa keuangan
Dengan meningkatnya partisipasi investor muda, industri jasa keuangan menghadapi tantangan untuk membangun hubungan yang lebih relevan dan berbasis kepercayaan.
WEF menekankan pentingnya memahami motivasi, preferensi teknologi, serta ekspektasi transparansi dari generasi ini. Upaya membangun kepercayaan menjadi kunci dalam menjembatani kesenjangan antara inovasi finansial dan kebutuhan investor muda.
Selain itu, perusahaan perlu menyesuaikan model layanan agar lebih fleksibel dan digital-first, sekaligus tetap memberikan perlindungan konsumen yang memadai.
Transformasi ini tidak hanya berdampak pada produk investasi, tetapi juga pada cara edukasi finansial disampaikan, bagaimana nasabah berinteraksi dengan institusi keuangan, serta bagaimana risiko dipahami dan dikelola oleh investor ritel.
https://money.kompas.com/read/2026/03/22/183600326/wef-ungkap-tren-investasi-gen-z-lebih-cepat-dan-lebih-berani-risiko