Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di Tengah Konflik Global, Ekspor Furnitur RI Dibidik Rp 101,6 Triliun

Kompas.com, 9 Maret 2026, 17:08 WIB
Kiki Safitri,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketidakpastian geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan dunia. Namun bagi industri furnitur Indonesia, situasi tersebut dinilai belum memberi dampak langsung terhadap pasar ekspor nasional.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menyebut pasar utama furnitur Indonesia masih berada di Amerika Serikat dan Eropa sehingga dampak konflik tersebut tidak secara langsung dirasakan oleh industri dalam negeri.

“Dampak terhadap industri furnitur Indonesia tidak bersifat langsung karena pasar utama ekspor furnitur nasional masih didominasi oleh Amerika Serikat dan Eropa,” kata Abdul Sobur, dalam keterangan resmi, Senin (9/3/2026).

Baca juga: IFEX 2026 Jadi Pintu Ekspor Furnitur Indonesia, Libatkan 500 Eksibitor

Biaya logistik dan energi jadi perhatian

Sobur mengatakan, meski tidak terdampak langsung, pelaku industri tetap perlu mencermati potensi kenaikan biaya logistik dan energi global yang dapat memengaruhi distribusi dan biaya produksi.

Dia menilai, dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu, pembeli global cenderung mencari negara dengan rantai pasok yang stabil dan lingkungan bisnis yang relatif aman.

“Dalam situasi dunia yang tidak pasti, buyers global akan semakin mencari negara yang memiliki supply chain stabil, produksi yang dapat diandalkan, serta lingkungan bisnis yang relatif aman,” jelas Abdul Sobur.

Menurut dia, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk memanfaatkan peluang tersebut, antara lain stabilitas politik serta dukungan sistem legalitas kayu melalui Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK).

Selain itu, industri furnitur nasional juga telah berkembang selama puluhan tahun sehingga dinilai memiliki posisi strategis dalam memperkuat perannya di rantai pasok furnitur dunia.

Baca juga: IFEX 2026: HIMKI Perkuat Daya Saing Industri Mebel Global Indonesia

Nilai budaya jadi diferensiasi furnitur Indonesia

Di tengah persaingan global, Sobur menilai masa depan industri furnitur Indonesia tidak hanya bergantung pada volume produksi, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan produk bernilai tambah tinggi.

“Furnitur Indonesia memiliki karakter yang khas karena memadukan kekayaan material alami seperti kayu, rotan, dan bambu, keahlian kriya yang diwariskan secara turun-temurun, dan sentuhan desain yang terinspirasi dari keragaman budaya Nusantara,” ujarnya.

Menurut dia, kombinasi material alami, keterampilan kriya, dan inspirasi budaya tersebut menjadikan furnitur Indonesia memiliki identitas kuat yang sulit ditiru negara lain.

“Keunggulan Indonesia bukan hanya pada produksi, tetapi pada kreativitas desain dan nilai budaya yang melekat pada setiap produk,” kata Abdul Sobur.

“Inilah yang menjadi diferensiasi furnitur Indonesia di pasar global,” tambahnya.

Baca juga: IFEX 2026 Jadi Strategi Pelaku Usaha Bidik Pasar Global

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau