Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Emas Dunia Turun ke 5.091 Dollar AS per Ons di Tengah Konflik Timur Tengah

Kompas.com, 10 Maret 2026, 07:55 WIB
Yohana Artha Uly,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

Sumber Reuters

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia tiba-tiba berbalik arah pada awal pekan ini. Di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang mendorong harga minyak melonjak dan memperkuat dollar AS, logam mulia yang biasanya menjadi tempat berlindung investor justru melemah lebih dari satu persen.

Penurunan harga emas terjadi pada akhir perdagangan Senin (9/3/2026) waktu setempat atau Selasa (10/3/2026) pagi WIB.

Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 1,5 persen menjadi 5.091,62 dollar AS per ons atau sekitar Rp 84.011.730 per ons (kurs Rp 16.500). Sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup melemah 1,1 persen ke level 5.103,70 dollar AS per ons atau sekitar Rp 84.211.050 per ons.

Tekanan terhadap emas terjadi seiring penguatan dollar AS yang dipicu lonjakan harga minyak dunia yang mendekati 120 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1.980.000 per barrel.

Kondisi ini mendorong investor beralih ke aset yang lebih likuid di tengah kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan energi global sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca juga: Harga Emas Dunia Terkoreksi, Pasar Khawatir Suku Bunga AS Tetap Tinggi

Penguatan dollar AS juga membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Akibatnya, minat terhadap logam kuning tersebut ikut berkurang.

Di sisi lain, meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga akibat ketidakpastian geopolitik juga menambah tekanan terhadap harga emas.

"Tetapi konflik yang berkepanjangan juga diperkirakan akan mempertahankan permintaan terhadap aset safe haven dan memberikan batas bawah bagi harga emas," ujar analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff.

Selama ini emas dikenal sebagai aset lindung nilai atau safe haven terhadap inflasi dan gejolak global. Namun daya tarik emas biasanya meningkat ketika suku bunga rendah, karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.

Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin meningkat. Militer Israel sebelumnya menyatakan telah melancarkan serangan ke wilayah Iran bagian tengah serta menghantam ibu kota Lebanon, Beirut.

Konflik tersebut juga berdampak besar terhadap jalur energi global. Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dunia dan gas alam cair melalui laut di dekat pantai Iran, dilaporkan tertutup akibat eskalasi konflik.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun, Tertekan Lonjakan Minyak dan Dollar AS

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat. Indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Februari 2026 dijadwalkan diumumkan pada Rabu, sementara indikator inflasi pilihan bank sentral AS yaitu indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) akan dirilis pada Jumat.

Wyckoff menilai, jika data inflasi lebih tinggi dari perkiraan, tekanan terhadap harga emas bisa semakin besar.

"Jika kita mendapatkan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, maka itu benar-benar akan menempatkan The Fed dalam posisi yang sulit. Hal tersebut bisa memicu penurunan lebih lanjut pada harga emas," kata dia.

Bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan berikutnya pada 17-18 Maret 2026. Pasar memperkirakan bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Adapun logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Harga perak di pasar spot turun 0,2 persen menjadi 84,18 dollar AS per ons atau sekitar Rp 1.388.970 per ons.

Sementara harga platinum naik 1,1 persen menjadi 2.158,02 dollar AS per ons atau sekitar Rp 35.607.330 per ons, dan paladium menguat 2,4 persen ke level 1.663,79 dollar AS per ons atau sekitar Rp 27.452.535 per ons.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun 2,5 Persen, Tertekan Penguatan Dollar AS dan Kekhawatiran Inflasi

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau