NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia tiba-tiba berbalik arah pada awal pekan ini. Di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang mendorong harga minyak melonjak dan memperkuat dollar AS, logam mulia yang biasanya menjadi tempat berlindung investor justru melemah lebih dari satu persen.
Penurunan harga emas terjadi pada akhir perdagangan Senin (9/3/2026) waktu setempat atau Selasa (10/3/2026) pagi WIB.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 1,5 persen menjadi 5.091,62 dollar AS per ons atau sekitar Rp 84.011.730 per ons (kurs Rp 16.500). Sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup melemah 1,1 persen ke level 5.103,70 dollar AS per ons atau sekitar Rp 84.211.050 per ons.
Tekanan terhadap emas terjadi seiring penguatan dollar AS yang dipicu lonjakan harga minyak dunia yang mendekati 120 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1.980.000 per barrel.
Kondisi ini mendorong investor beralih ke aset yang lebih likuid di tengah kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan energi global sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Baca juga: Harga Emas Dunia Terkoreksi, Pasar Khawatir Suku Bunga AS Tetap Tinggi
Penguatan dollar AS juga membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Akibatnya, minat terhadap logam kuning tersebut ikut berkurang.
Di sisi lain, meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga akibat ketidakpastian geopolitik juga menambah tekanan terhadap harga emas.
"Tetapi konflik yang berkepanjangan juga diperkirakan akan mempertahankan permintaan terhadap aset safe haven dan memberikan batas bawah bagi harga emas," ujar analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff.
Selama ini emas dikenal sebagai aset lindung nilai atau safe haven terhadap inflasi dan gejolak global. Namun daya tarik emas biasanya meningkat ketika suku bunga rendah, karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin meningkat. Militer Israel sebelumnya menyatakan telah melancarkan serangan ke wilayah Iran bagian tengah serta menghantam ibu kota Lebanon, Beirut.
Konflik tersebut juga berdampak besar terhadap jalur energi global. Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dunia dan gas alam cair melalui laut di dekat pantai Iran, dilaporkan tertutup akibat eskalasi konflik.
Baca juga: Harga Emas Dunia Turun, Tertekan Lonjakan Minyak dan Dollar AS
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat. Indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Februari 2026 dijadwalkan diumumkan pada Rabu, sementara indikator inflasi pilihan bank sentral AS yaitu indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) akan dirilis pada Jumat.
Wyckoff menilai, jika data inflasi lebih tinggi dari perkiraan, tekanan terhadap harga emas bisa semakin besar.
"Jika kita mendapatkan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, maka itu benar-benar akan menempatkan The Fed dalam posisi yang sulit. Hal tersebut bisa memicu penurunan lebih lanjut pada harga emas," kata dia.
Bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan berikutnya pada 17-18 Maret 2026. Pasar memperkirakan bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Adapun logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Harga perak di pasar spot turun 0,2 persen menjadi 84,18 dollar AS per ons atau sekitar Rp 1.388.970 per ons.
Sementara harga platinum naik 1,1 persen menjadi 2.158,02 dollar AS per ons atau sekitar Rp 35.607.330 per ons, dan paladium menguat 2,4 persen ke level 1.663,79 dollar AS per ons atau sekitar Rp 27.452.535 per ons.
Baca juga: Harga Emas Dunia Turun 2,5 Persen, Tertekan Penguatan Dollar AS dan Kekhawatiran Inflasi
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang