Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BTN Tetap Terbitkan Obligasi Meski Berpotensi Dapat Dana Pemerintah

Kompas.com, 14 Maret 2026, 15:30 WIB
Isna Rifka Sri Rahayu,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN memastikan tetap akan menerbitkan obligasi pada Semester II 2026, meskipun perseroan berpotensi memperoleh tambahan likuiditas dari penempatan dana pemerintah di bank-bank Himbara.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, rencana penerbitan obligasi tetap dijalankan sesuai strategi pendanaan perusahaan. Instrumen ini dinilai memiliki fungsi yang berbeda dibandingkan penempatan dana pemerintah.

“Bond tetap. Karena bukan masalah rupiahnya, yang panjang dengan yang pendek kan nggak bisa saling menggantikan sebenarnya,” ujar Nixon saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

“Karena peruntukannya beda dan aset liability manajemennya juga, cara pricing-nya, risiko suku bunga itu beda,” lanjut dia.

Baca juga: BTN Siapkan Dividen Rp 1,05 Triliun, Likuiditas Jadi Sorotan

Obligasi untuk pendanaan jangka panjang

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu saat Anugerah Jurnalistik dan Foto BTN 2026 di Ballroom Menara 1 BTN, Jakarta, Jumat (13/3/2026).KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu saat Anugerah Jurnalistik dan Foto BTN 2026 di Ballroom Menara 1 BTN, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Nixon menjelaskan, obligasi merupakan sumber pendanaan jangka panjang dengan tenor sekitar lima hingga tujuh tahun. Sementara itu, penempatan dana pemerintah biasanya berjangka lebih pendek karena sewaktu-waktu dapat ditarik kembali.

Karena perbedaan karakter tersebut, kedua sumber dana tersebut tidak bisa saling menggantikan. Oleh sebab itu, BTN tetap menjalankan rencana penerbitan obligasi meskipun likuiditas perseroan saat ini masih relatif memadai.

“Tetap (akan diterbitkan), tapi mungkin Semester II lah ya karena sekarang masih cukup likuid lah,” kata Nixon.

Sebagai informasi, BTN berencana menghimpun dana sebesar Rp 6 triliun pada tahun ini melalui dua aksi korporasi. Rinciannya, perseroan akan menerbitkan modal tier II senilai Rp 2 triliun serta menerbitkan obligasi sebesar Rp 4 triliun.

Baca juga: BTN Incar Tambahan Likuiditas Rp 12,5 Triliun dari Pemerintah

Harap tambahan likuiditas dari pemerintah

Di sisi lain, BTN juga berharap dapat memperoleh tambahan penempatan dana dari pemerintah untuk memperkuat likuiditas penyaluran kredit.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyampaikan rencana penambahan penempatan dana sebesar Rp 100 triliun ke bank-bank Himbara. Kebijakan ini melanjutkan penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun pada September 2025.

Pada penempatan dana sebelumnya, BTN memperoleh likuiditas sebesar Rp 25 triliun yang kemudian disalurkan menjadi kredit. Perseroan berharap pemerintah dapat menambah penempatan dana sekitar Rp 12,5 triliun.

“Kita senang dan berharap dapat juga lah ya. Ya kita ada ngusulin setengah dari kemarin lah,” kata Nixon.

Namun demikian, Nixon menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah. Apabila memperoleh tambahan penempatan dana, BTN akan menyalurkannya untuk pembiayaan sektor perumahan.

“Ya masih majority perumahan, pendukung perumahan, berbagai program yang lagi jalan yang bagus sekarang,” tukasnya.

Baca juga: BTN (BBTN) Siapkan Uang Tunai Rp 23,18 Triliun untuk Lebaran 2026

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau