Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Panic Buying" BBM dan Krisis Energi Bayangi Ekonomi Australia

Kompas.com, 18 Maret 2026, 20:20 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

SYDNEY, KOMPAS.com - Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) global akibat konflik di Timur Tengah mulai memberi dampak nyata terhadap aktivitas ekonomi domestik Australia.

Tekanan biaya energi tidak hanya memengaruhi sektor transportasi dan pariwisata, tetapi juga berpotensi mengubah pola mobilitas masyarakat serta prospek kebijakan moneter di negara tersebut.

Kenaikan harga BBM yang terjadi dalam waktu singkat telah memicu perubahan perilaku konsumen, meningkatkan kekhawatiran terhadap ketahanan pasokan energi, serta menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha.

Baca juga: Stok BBM Aman Jelang Lebaran, Imbauan Tak Panic Buying Menguat

Ilustrasi pemandangan kota Sydney, Australia. UNSPLASH/DAN FREEMAN Ilustrasi pemandangan kota Sydney, Australia.

Perjalanan domestik mulai tertunda

Sejumlah warga Australia mulai menunda rencana perjalanan domestik karena kenaikan harga BBM dan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan di wilayah terpencil.

Leigh dan Lindsay Ludwig, pasangan pensiunan dari Gold Coast, memutuskan membatalkan perjalanan karavan selama enam bulan yang telah mereka rencanakan untuk menjelajahi Far North Queensland, Northern Territory, hingga Australia Barat.

Mereka mengaku khawatir akan risiko kehabisan bahan bakar di kota-kota kecil.

“Saya lebih dari sekadar kecewa. Saya benar-benar sangat kesal,” ujar Lindsay Ludwig, dikutip dari ABC Australia, Rabu (18/3/2026).

Baca juga: 85 Negara Alami Kenaikan Harga BBM sejak Perang Iran Pecah


“Kami tidak bisa mengambil risiko terjebak di hutan tanpa bahan bakar. Jika Anda tidak bisa menggerakkan mobil Anda, Anda tidak bisa membeli makanan. Anda tidak bisa bertahan hidup," imbuh dia.

Kenaikan biaya energi juga dirasakan oleh sektor perjalanan udara dan kapal pesiar. Profesor Susanne Becken dari Griffith University mengatakan lonjakan harga BBM meningkatkan tekanan pada seluruh moda transportasi wisata.

Ilustrasi BBM. Cadangan BBM di Indonesia Tersisa 20 Hari, Apa yang Terjadi jika Konflik Timur Tengah Tak Kunjung Mereda?Freepik/jcomp Ilustrasi BBM. Cadangan BBM di Indonesia Tersisa 20 Hari, Apa yang Terjadi jika Konflik Timur Tengah Tak Kunjung Mereda?

Di saat yang sama, permintaan wisata internasional ke Australia juga mengalami pelemahan.

Data Biro Statistik Australia menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara turun 8,2 persen pada Februari 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga: Pertamina Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Hingga Arus Balik

Wilayah regional paling terdampak

Dampak kenaikan harga BBM diperkirakan lebih terasa di wilayah regional, yang memiliki ketergantungan lebih tinggi pada transportasi darat dan menghadapi biaya distribusi energi yang lebih mahal.

Keterbatasan pasokan di daerah terpencil membuat masyarakat dan pelaku industri pariwisata mulai mendorong wisata jarak dekat sebagai alternatif.

Para pakar juga menilai volatilitas harga energi global memperlihatkan perlunya evaluasi terhadap ketergantungan sektor perjalanan pada bahan bakar fosil.

CEO Asosiasi Industri Karavan Australia, Stuart Lamont, mengatakan belum ada pembatalan besar-besaran untuk periode perjalanan Paskah.

Baca juga: Pemerintah Masih Sanggup Subsidi BBM, Bahlil: Setelah Maret Kita Pikirkan Lagi

"(Namun) kami mengakui bahwa mereka yang merencanakan perjalanan yang lebih besar di sekitar Australia mungkin terpengaruh oleh harga bahan bakar," katanya.

"Kekhawatiran yang lebih besar adalah tentang ketersediaan bahan bakar di daerah regional, serta banjir yang terjadi saat ini di Australia utara, daripada harga," imbuh dia.

Ia memperingatkan beberapa daerah dapat terkena dampak parah.

"Kami sangat prihatin bahwa daerah-daerah ini akan mengalami musim liburan yang hancur, berdasarkan komentar media," tutur Lamont.

Baca juga: Pertamina Siaga Penuh, Jamin BBM hingga Elpiji di Kalimantan Tak Langka

Ilustrasi BBM. Pemerintah memastikan stok BBM aman selama Ramadhan-Lebaran 2026.SHUTTERSTOCK Ilustrasi BBM. Pemerintah memastikan stok BBM aman selama Ramadhan-Lebaran 2026.

Panic buying memicu lonjakan permintaan BBM

Selain faktor harga global, perilaku konsumen turut memperburuk tekanan pada sistem distribusi energi domestik. 

Aksi panic buying atau pembelian BBM dalam jumlah besar dilaporkan meningkatkan permintaan secara signifikan di sejumlah wilayah di Australia.

Pakar energi dan mantan perwira Angkatan Udara Australia John Blackburn mengatakan permintaan di beberapa daerah meningkat hingga sekitar 35 hingga 40 persen.

“Alasan kita menghadapi masalah adalah karena orang-orang yang melihat apa yang terjadi di Timur Tengah berbondong-bondong mencoba membeli stok tambahan,” ujarnya.

Baca juga: Harga BBM Pertamina Hari Ini 18 Maret 2026, Lengkap di Seluruh Indonesia dari Pertamax hingga Dex

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau