Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Saham Global Tertekan

Kompas.com, 19 Maret 2026, 04:54 WIB
Teuku Muhammad Valdy Arief

Editor

Sumber Reuters

JAKARTA, KOMPAS.com — Pasar saham global melemah pada Rabu. Tekanan berlanjut setelah Federal Reserve menahan suku bunga.

Kenaikan harga minyak dan data inflasi Amerika Serikat turut membebani pasar.

Bank sentral AS memberi sinyal hanya satu kali penurunan suku bunga tahun ini sebesar 25 basis poin. Proyeksi inflasi akhir tahun naik menjadi 2,7 persen dari 2,4 persen pada Desember.

"Secara keseluruhan, investor mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka mendapatkan Fed yang sabar, mengakui bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat memperumit lingkungan yang sudah tidak pasti dan mereka masih memproyeksikan satu kali penurunan suku bunga tahun ini meskipun ekspektasi inflasi meningkat, setidaknya berdasarkan proyeksi median," kata Anthony Saglimbene dari Ameriprise Financial.

"Namun sebenarnya ini tentang ketegangan di Timur Tengah, kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali dan apa risikonya terhadap pasokan minyak negara-negara Teluk. Itulah yang menjadi fokus pasar," sambungnya.

Baca juga: Tertahan di Level Kunci, Harga Emas Tunggu Suku Bunga The Fed

Wall Street kompak melemah

Seluruh sektor dalam indeks S&P 500 ditutup di zona merah.

Indeks Dow Jones turun 768,11 poin atau 1,63 persen ke 46.225,15. S&P 500 turun 91,33 poin atau 1,36 persen ke 6.624,76. Nasdaq merosot 327,11 poin atau 1,45 persen ke 22.152,42.

Tekanan pasar diperkuat lonjakan harga energi.

Minyak mentah AS naik 0,11 persen ke 96,63 dollar AS per barel atau sekitar Rp1,63 juta. Brent naik 3,83 persen ke 107,38 dollar AS per barel atau sekitar Rp1,81 juta.

Kenaikan Brent dipicu serangan terhadap ladang gas Pars di Iran. Serangan ini menjadi yang pertama terhadap infrastruktur energi di Teluk sejak konflik AS dan Israel melawan Iran.

Eskalasi tersebut mendorong Iran memperingatkan negara tetangga untuk mengevakuasi fasilitas energi.

Upaya pemerintah AS meredakan tekanan pasokan belum memberi dampak besar. Pemerintahan Donald Trump memberi pengecualian 60 hari terhadap Jones Act untuk memperlancar distribusi bahan bakar dan pupuk.

Baca juga: Jelang Keputusan The Fed, Dollar AS Melemah Tipis

Inflasi kembali menekan

Data inflasi menunjukkan tekanan masih kuat.

Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index melonjak 0,7 persen pada Februari. Angka ini jauh di atas perkiraan 0,3 persen dan menjadi kenaikan tertinggi sejak Juli.

Secara tahunan, PPI naik 3,4 persen dari 2,9 persen pada Januari.

Data lain menunjukkan pesanan pabrik naik 0,1 persen setelah sebelumnya turun 0,4 persen pada Desember.

Indeks saham global MSCI turun 0,89 persen ke 1.004,00. Indeks STOXX 600 di Eropa turun 0,75 persen.

Perhatian pasar kini tertuju pada kebijakan bank sentral lain. Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank Nasional Swiss akan mengumumkan keputusan dalam waktu dekat.

Bank Sentral Australia lebih dulu menaikkan suku bunga menjadi 4,1 persen. Kenaikan dilakukan dua bulan berturut-turut untuk merespons risiko inflasi akibat perang Iran.

Bank Sentral Kanada menahan suku bunga, tetapi membuka ruang kenaikan jika tekanan inflasi berlanjut.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau