Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Senator AS Tuntut Penjelasan Trump soal Dampak Ekonomi Perang Iran: Rugikan Kelas Menengah dan Bawah

Kompas.com, 21 Maret 2026, 07:31 WIB
Erlangga Djumena

Editor

Sumber CNBC

WASHINGTONG, KOMPAS.com - Senator Elizabeth Warren melontarkan kritik keras terhadap kebijakan Presiden Donald Trump terkait perang Iran yang dinilai berisiko besar terhadap ekonomi Amerika Serikat.

Dalam sebuah surat yang dikirim pada Jumat (20/3/2026) kepada pejabat pemerintahan AS, dia menuntut jawaban atas berbagai pertanyaan ekonomi terkait perang Iran, dengan merinci sejumlah isu mengenai dampaknya terhadap harga pangan, energi, dan ritel, serta kekhawatiran lainnya.

Politisi Demokrat liberal dari Massachusetts itu menyebut Presiden Donald Trump telah “menyeret Amerika Serikat ke dalam perang ilegal dan ceroboh” yang akan merugikan konsumen AS, terutama kelas menengah dan bawah.

Baca juga: 85 Negara Alami Kenaikan Harga BBM sejak Perang Iran Pecah

“Saya menulis hari ini dengan kekhawatiran besar bahwa Presiden Trump sedang melemahkan ekonomi yang sudah rapuh, dan akan terus melakukannya, dengan menggelontorkan miliaran dolar ke dalam perang yang akan mendorong kenaikan harga, memperlambat pertumbuhan, dan membuat keluarga Amerika menanggung biaya lebih tinggi sambil dipaksa membayar beban tersebut,” kata Warren, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu (21/3/2026).

Sebagai anggota senior di Komite Perbankan Senat, Warren menilai perang tersebut memperburuk tekanan ekonomi yang sudah ada. Ia juga menyoroti belum adanya rencana konkret dari pemerintah untuk menahan kenaikan harga.

“Daftar konsekuensi ekonomi ini terus bertambah,” tulisnya.

“Dan tampaknya Pemerintahan Trump tidak memiliki rencana yang berarti untuk menjaga harga tetap rendah atau mencegah warga Amerika kekurangan barang yang mereka butuhkan untuk bekerja, bersekolah, dan memberi makan keluarga mereka,” lanjut dia.

Harga Energi Melonjak

Sejak konflik berlangsung tiga minggu terakhir, harga energi melonjak signifikan. Harga minyak dunia mendekati 110 dollar AS per barrel, sementara harga bensin di AS hampir menyentuh 4 dollar AS per galon—sekitar 1 dollar lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski data inflasi resmi Maret belum dirilis, kenaikan biaya energi diperkirakan akan mendorong inflasi lebih tinggi selama perang berlangsung, termasuk efek rambatan ke harga pangan dan barang konsumsi lainnya.

Warren juga mempertanyakan apakah pemerintah telah melakukan analisis dampak ekonomi sebelum perang dimulai, serta bagaimana proyeksi harga hingga sisa 2026.

Surat tersebut ditujukan kepada sejumlah pejabat ekonomi utama, termasuk Menteri Keuangan, Direktur Dewan Ekonomi Nasional, dan pimpinan Dewan Penasihat Ekonomi.

Sementara itu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell sebelumnya mengakui kemungkinan kenaikan harga energi, meski belum bisa memastikan dampak jangka panjangnya. Bank sentral AS juga memilih menahan suku bunga acuan, salah satunya karena ketidakpastian akibat perang.

Isu ini mempertegas kekhawatiran bahwa konflik geopolitik dapat langsung menekan daya beli masyarakat, sekaligus memperlambat pemulihan ekonomi global.

Baca juga: Kemenhub Bantah Seluruh Penerbangan International Dihentikan Imbas Konflik Timteng

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau