Editor
WASHINGTONG, KOMPAS.com - Senator Elizabeth Warren melontarkan kritik keras terhadap kebijakan Presiden Donald Trump terkait perang Iran yang dinilai berisiko besar terhadap ekonomi Amerika Serikat.
Dalam sebuah surat yang dikirim pada Jumat (20/3/2026) kepada pejabat pemerintahan AS, dia menuntut jawaban atas berbagai pertanyaan ekonomi terkait perang Iran, dengan merinci sejumlah isu mengenai dampaknya terhadap harga pangan, energi, dan ritel, serta kekhawatiran lainnya.
Politisi Demokrat liberal dari Massachusetts itu menyebut Presiden Donald Trump telah “menyeret Amerika Serikat ke dalam perang ilegal dan ceroboh” yang akan merugikan konsumen AS, terutama kelas menengah dan bawah.
Baca juga: 85 Negara Alami Kenaikan Harga BBM sejak Perang Iran Pecah
“Saya menulis hari ini dengan kekhawatiran besar bahwa Presiden Trump sedang melemahkan ekonomi yang sudah rapuh, dan akan terus melakukannya, dengan menggelontorkan miliaran dolar ke dalam perang yang akan mendorong kenaikan harga, memperlambat pertumbuhan, dan membuat keluarga Amerika menanggung biaya lebih tinggi sambil dipaksa membayar beban tersebut,” kata Warren, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu (21/3/2026).
Sebagai anggota senior di Komite Perbankan Senat, Warren menilai perang tersebut memperburuk tekanan ekonomi yang sudah ada. Ia juga menyoroti belum adanya rencana konkret dari pemerintah untuk menahan kenaikan harga.
“Daftar konsekuensi ekonomi ini terus bertambah,” tulisnya.
“Dan tampaknya Pemerintahan Trump tidak memiliki rencana yang berarti untuk menjaga harga tetap rendah atau mencegah warga Amerika kekurangan barang yang mereka butuhkan untuk bekerja, bersekolah, dan memberi makan keluarga mereka,” lanjut dia.
Sejak konflik berlangsung tiga minggu terakhir, harga energi melonjak signifikan. Harga minyak dunia mendekati 110 dollar AS per barrel, sementara harga bensin di AS hampir menyentuh 4 dollar AS per galon—sekitar 1 dollar lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski data inflasi resmi Maret belum dirilis, kenaikan biaya energi diperkirakan akan mendorong inflasi lebih tinggi selama perang berlangsung, termasuk efek rambatan ke harga pangan dan barang konsumsi lainnya.
Warren juga mempertanyakan apakah pemerintah telah melakukan analisis dampak ekonomi sebelum perang dimulai, serta bagaimana proyeksi harga hingga sisa 2026.
Surat tersebut ditujukan kepada sejumlah pejabat ekonomi utama, termasuk Menteri Keuangan, Direktur Dewan Ekonomi Nasional, dan pimpinan Dewan Penasihat Ekonomi.
Sementara itu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell sebelumnya mengakui kemungkinan kenaikan harga energi, meski belum bisa memastikan dampak jangka panjangnya. Bank sentral AS juga memilih menahan suku bunga acuan, salah satunya karena ketidakpastian akibat perang.
Isu ini mempertegas kekhawatiran bahwa konflik geopolitik dapat langsung menekan daya beli masyarakat, sekaligus memperlambat pemulihan ekonomi global.
Baca juga: Kemenhub Bantah Seluruh Penerbangan International Dihentikan Imbas Konflik Timteng
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang