Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mohammad Nur Rianto
Dosen dan Peneliti

Al Arif merupakan dosen dan peneliti di UIN Syarif Hidayatullah dan CSEAS Indonesia

Ekonomi Indonesia Pasca-Ramadhan

Kompas.com, 24 Maret 2026, 15:19 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

RAMADHAN selalu menghadirkan denyut yang berbeda dalam kehidupan ekonomi Indonesia. Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga peristiwa ekonomi tahunan yang memiliki daya dorong luar biasa terhadap konsumsi, distribusi pendapatan, dan aktivitas produksi.

Dalam periode ini, ritme ekonomi bergerak lebih cepat. Pusat perbelanjaan dipenuhi masyarakat, pasar tradisional hidup hingga larut malam, dan jalur-jalur transportasi dipadati arus mudik yang mengalir dari kota ke desa.

Namun, seperti gelombang yang mencapai puncaknya, euforia tersebut tidak berlangsung lama.

Selepas Idul Fitri, ekonomi memasuki fase yang lebih tenang atau bahkan dalam banyak kasus, ekonomi cenderung melambat.

Konsumsi mulai menurun, aktivitas usaha kembali normal, dan daya beli masyarakat mengalami penyesuaian.

Pada tahun ini, fase tersebut menjadi jauh lebih kompleks karena berlangsung di tengah ketidakpastian global yang meningkat, terutama akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dalam konteks ini, ekonomi Indonesia pasca-Ramadhan tidak lagi sekadar berbicara tentang siklus musiman, tetapi juga tentang bagaimana daya tahan ekonomi nasional diuji oleh tekanan eksternal yang semakin kuat.

Ramadhan dan Idul Fitri tetap menjadi motor utama konsumsi domestik. Dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB).

Hal ini berarti setiap peningkatan konsumsi akan langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga: Mencermati Kesehatan Mental Pekerja Pasca-Libur Lebaran

Selama Ramadhan, peningkatan konsumsi terjadi hampir di semua lapisan masyarakat. Kebutuhan pangan meningkat, belanja sandang melonjak, dan aktivitas sosial seperti buka puasa bersama serta pemberian zakat, infak, dan sedekah turut memperkuat peredaran uang.

Puncaknya terjadi menjelang Idul Fitri, ketika tunjangan hari raya (THR) dibagikan dan masyarakat mempersiapkan kebutuhan Lebaran.

Momentum ini mencapai klimaks pada tradisi mudik. Ratusan juta orang bergerak dari kota ke kampung halaman, membawa serta dana yang tidak sedikit.

Data menunjukkan bahwa skala fenomena mudik di Indonesia sangat besar. Pada musim mudik Idul Fitri 2025, jumlah pemudik diperkirakan mencapai 146,48 juta orang, atau sekitar 52 persen dari total penduduk Indonesia.

Jumlah ini memang lebih rendah dibanding tahun 2024 yang mencapai 193,6 juta pemudik, tetapi tetap menunjukkan besarnya mobilitas masyarakat saat Lebaran.

Pada lebaran tahun 2026 ini, data Kementerian Perhubungan akan sedikit menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Secara numerik, arus pemudik diproyeksikan menyusut tipis sekitar 1,7 persen menjadi 143,9 juta orang.

Perputaran uang selama periode ini mencapai ratusan triliun rupiah, menciptakan efek ekonomi yang luas dan berlapis.

Pada musim Lebaran 2024, perputaran uang selama Ramadhan dan Idul Fitri diperkirakan mencapai Rp 157,3 triliun.

Sementara itu, pada tahun 2025, nilai perputaran uang berada pada kisaran Rp 137 triliun hingga Rp 145 triliun. Perputaran uang pada musim mudik lebaran 2026 ini diproyeksikan mencapai Rp 190 triliun.

Di daerah, dampaknya terasa signifikan. Pasar tradisional menjadi lebih ramai, warung makan dipadati pembeli, dan usaha kecil mengalami lonjakan omzet.

Sektor transportasi dan pariwisata juga menikmati peningkatan permintaan yang tinggi. Dalam waktu singkat, ekonomi lokal yang biasanya bergerak lambat berubah menjadi sangat dinamis.

Fenomena ini sering dipahami sebagai bentuk redistribusi ekonomi dari kota ke desa. Dalam periode tertentu, kesenjangan spasial ekonomi seolah menyempit.

Uang yang biasanya berputar di pusat-pusat ekonomi nasional mengalir ke daerah-daerah, memberikan stimulus langsung bagi masyarakat lokal.

Namun, sifat dari distribusi ini tetap sementara. Setelah arus balik selesai, aktivitas ekonomi di daerah kembali ke kondisi semula.

Uang yang beredar selama Lebaran sebagian besar terserap untuk konsumsi jangka pendek, bukan untuk investasi produktif yang berkelanjutan.

Di sinilah paradoks itu muncul. Ramadhan memperlihatkan betapa kuatnya konsumsi dalam menggerakkan ekonomi. Pada saat yang sama, ia juga menunjukkan keterbatasan struktur ekonomi yang masih bertumpu pada konsumsi, bukan produksi.

Selepas Idul Fitri, ekonomi Indonesia memasuki fase normalisasi. Dalam teori ekonomi, fase ini merupakan bagian dari siklus musiman yang wajar.

Namun, dalam praktiknya, normalisasi sering kali terasa sebagai perlambatan. Salah satu faktor utama adalah menurunnya daya beli masyarakat.

Baca juga: Mengelola Ambisi, Menyelamatkan Negeri

Selama Ramadhan, pengeluaran rumah tangga meningkat secara signifikan. Banyak keluarga mengalokasikan sebagian besar pendapatan, bahkan tabungan, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Setelah periode ini berakhir, ruang belanja menjadi lebih terbatas.

Halaman:


Terkini Lainnya
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Ekbis
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Ekbis
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
Ekbis
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
Ekbis
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Ekbis
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Ekbis
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Ekbis
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau