Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
MOMEN Lebaran yang secara ideal dirayakan sebagai puncak kebahagiaan justru menyimpan ironi yang jarang diakui: ia adalah salah satu periode paling rentan bagi kesehatan mental masyarakat.
Di balik narasi kemenangan dan kebersamaan, tersembunyi tekanan psikologis dan finansial yang terakumulasi secara intens dalam waktu singkat, membuat perlindungan kesehatan mental bukan lagi sekadar wacana, tetapi kebutuhan yang mendesak.
Tragedi di Pariaman, di mana seorang ibu rumah tangga mengakhiri hidupnya dengan minum racun tepat di hari Lebaran (Kompas.com, 22 Maret 2026), bukanlah anomali, melainkan puncak dari gunung es persoalan yang lebih besar.
Ketika kebutuhan ekonomi melonjak, sementara kapasitas finansial stagnan atau bahkan menurun, individu bisa terjebak dalam perasaan gagal yang menghancurkan.
Peristiwa serupa yang berhasil digagalkan di Bekasi pada malam Idul Fitri semakin menegaskan bahwa ini bukan kasus tunggal, melainkan pola berulang.
Fakta-fakta ini memaksa kita untuk melihat Lebaran secara lebih jujur: bahwa di balik kemeriahannya, terdapat kelompok masyarakat yang justru mengalami titik terendah dalam hidupnya.
Beban peran berlapis, finansial, sosial, fisik, dan emosional, dapat berubah menjadi tekanan destruktif ketika tidak diimbangi dengan sistem dukungan dan kesadaran kolektif.
Baca juga: Mengelola Ambisi, Menyelamatkan Negeri
Pada tahun 2024 saja, terdapat 4,21 persen atau sebanyak 3.548 desa/kelurahan yang menjadi lokasi bunuh diri dalam setahun terakhir, baik meninggal maupun percobaan bunuh diri.
Sementara, Lebaran hari ini tidak lagi sekadar ruang spiritual, melainkan berubah menjadi arena ekonomi sekaligus arena psikologis. Ia adalah momen ketika konsumsi mencapai titik puncaknya. Namun justru di titik itulah, kecemasan ikut mencapai klimaksnya.
Inilah paradoks yang jarang disadari: semakin tinggi konsumsi liburan, semakin besar pula beban mental yang menyertainya.
Secara teori, fenomena ini tampak rasional. Dalam kerangka mikroekonomi, masyarakat memang akan mengalokasikan pendapatan tidak hanya untuk kebutuhan dasar, tetapi juga untuk “kebahagiaan tambahan”, termasuk mudik, rekreasi, dan perayaan.
Seiring naiknya pendapatan, proporsi konsumsi rekreasi meningkat, sebagaimana dijelaskan dalam Hukum Engel.
Namun dalam praktik sosial, konsumsi ini tidak lagi murni soal utilitas, melainkan telah bergeser menjadi simbol status.
Di sinilah Efek Veblen bekerja secara halus, tapi kuat, yakni fenomena ekonomi di mana permintaan terhadap suatu barang meningkat seiring dengan kenaikan harganya, sebagai simbol status sosial tinggi, kemewahan, dan eksklusivitas.
Harga mahal, perjalanan jauh, pakaian baru, hingga oleh-oleh berlimpah bukan lagi soal kebutuhan, tetapi tentang bagaimana seseorang ingin dilihat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya