Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Udin Suchaini
ASN di Badan Pusat Statistik

Praktisi Statistik Bidang Pembangunan Desa

Mencermati Kesehatan Mental Pekerja Pasca-Libur Lebaran

Kompas.com, 24 Maret 2026, 08:02 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

MOMEN Lebaran yang secara ideal dirayakan sebagai puncak kebahagiaan justru menyimpan ironi yang jarang diakui: ia adalah salah satu periode paling rentan bagi kesehatan mental masyarakat.

Di balik narasi kemenangan dan kebersamaan, tersembunyi tekanan psikologis dan finansial yang terakumulasi secara intens dalam waktu singkat, membuat perlindungan kesehatan mental bukan lagi sekadar wacana, tetapi kebutuhan yang mendesak.

Tragedi di Pariaman, di mana seorang ibu rumah tangga mengakhiri hidupnya dengan minum racun tepat di hari Lebaran (Kompas.com, 22 Maret 2026), bukanlah anomali, melainkan puncak dari gunung es persoalan yang lebih besar.

Ketika kebutuhan ekonomi melonjak, sementara kapasitas finansial stagnan atau bahkan menurun, individu bisa terjebak dalam perasaan gagal yang menghancurkan.

Peristiwa serupa yang berhasil digagalkan di Bekasi pada malam Idul Fitri semakin menegaskan bahwa ini bukan kasus tunggal, melainkan pola berulang.

Fakta-fakta ini memaksa kita untuk melihat Lebaran secara lebih jujur: bahwa di balik kemeriahannya, terdapat kelompok masyarakat yang justru mengalami titik terendah dalam hidupnya.

Beban peran berlapis, finansial, sosial, fisik, dan emosional, dapat berubah menjadi tekanan destruktif ketika tidak diimbangi dengan sistem dukungan dan kesadaran kolektif.

Baca juga: Mengelola Ambisi, Menyelamatkan Negeri

Pada tahun 2024 saja, terdapat 4,21 persen atau sebanyak 3.548 desa/kelurahan yang menjadi lokasi bunuh diri dalam setahun terakhir, baik meninggal maupun percobaan bunuh diri.

Sementara, Lebaran hari ini tidak lagi sekadar ruang spiritual, melainkan berubah menjadi arena ekonomi sekaligus arena psikologis. Ia adalah momen ketika konsumsi mencapai titik puncaknya. Namun justru di titik itulah, kecemasan ikut mencapai klimaksnya.

Inilah paradoks yang jarang disadari: semakin tinggi konsumsi liburan, semakin besar pula beban mental yang menyertainya.

Secara teori, fenomena ini tampak rasional. Dalam kerangka mikroekonomi, masyarakat memang akan mengalokasikan pendapatan tidak hanya untuk kebutuhan dasar, tetapi juga untuk “kebahagiaan tambahan”, termasuk mudik, rekreasi, dan perayaan.

Seiring naiknya pendapatan, proporsi konsumsi rekreasi meningkat, sebagaimana dijelaskan dalam Hukum Engel.

Namun dalam praktik sosial, konsumsi ini tidak lagi murni soal utilitas, melainkan telah bergeser menjadi simbol status.

Di sinilah Efek Veblen bekerja secara halus, tapi kuat, yakni fenomena ekonomi di mana permintaan terhadap suatu barang meningkat seiring dengan kenaikan harganya, sebagai simbol status sosial tinggi, kemewahan, dan eksklusivitas.

Harga mahal, perjalanan jauh, pakaian baru, hingga oleh-oleh berlimpah bukan lagi soal kebutuhan, tetapi tentang bagaimana seseorang ingin dilihat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Pemerintah Berlakukan Transformasi Budaya Kerja Nasional, Ini Poin-poinnya
Pemerintah Berlakukan Transformasi Budaya Kerja Nasional, Ini Poin-poinnya
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, Teheran Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, Teheran Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Tren
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau