Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Emas Dunia Stabil di Tengah Ketegangan AS-Iran soal Akhir Perang

Kompas.com, Diperbarui 26/03/2026, 14:05 WIB
Nur Jamal Shaid

Penulis

KOMPAS.com – Harga emas dunia bergerak stabil setelah sempat mencatat pemulihan terbatas dalam dua hari terakhir. Pelaku pasar masih mencermati perbedaan sikap antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Dikutip dari Bloomberg, Kamis (26/3/2026), harga emas bertahan di kisaran 4.500 dollar AS per ons, setelah sebelumnya naik lebih dari 2 persen dalam dua sesi perdagangan terakhir.

Sementara itu, kontrak emas berjangka Comex untuk pengiriman April (GC=F) tercatat di level 4.444,30 dollar AS per ons, turun 108 dollar AS atau 2,37 persen pada perdagangan terakhir.

Baca juga: Harga Emas Dunia Menguat Hampir 2 Persen di Tengah Ketidakpastian Konflik Timur Tengah

Pemerintah AS menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan bahkan telah menyusun proposal perdamaian berisi 15 poin. Namun, Iran secara terbuka menolak proposal tersebut dan mengajukan syaratnya sendiri untuk mengakhiri konflik.

Di tengah upaya diplomasi tersebut, AS juga dilaporkan mengerahkan ribuan pasukan ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi invasi darat yang berisiko tinggi.

Sejak konflik pecah hampir sebulan lalu, harga emas justru turun sekitar 15 persen. Pergerakan logam mulia ini cenderung sejalan dengan saham dan berlawanan arah dengan harga minyak.

Lonjakan harga energi turut meningkatkan risiko inflasi dan mendorong ekspektasi bahwa bank sentral akan menahan suku bunga tetap tinggi, atau bahkan menaikkannya. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Ilustrasi emas. Freepik Ilustrasi emas.

Baca juga: Harga Emas Dunia Sepekan Terburuk Sejak 1983 di Tengah Geopolitik

Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve bisa tertahan oleh risiko perlambatan ekonomi akibat perang yang berkepanjangan.

Sejumlah analis Wall Street mulai memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS tahun ini. Di saat yang sama, mereka menaikkan perkiraan inflasi dan tingkat pengangguran, serta meningkatkan probabilitas terjadinya resesi.

Dari sisi arus dana, sekitar 85 ton emas telah keluar dari exchange-traded fund (ETF) sejak konflik dimulai, berdasarkan perhitungan Bloomberg.

Analis Standard Chartered Plc, termasuk Sudakshina Unnikrishnan, mencatat bahwa meskipun harga emas berada di kisaran 4.500 dollar AS per ons, masih ada sekitar 83 ton kepemilikan yang berada dalam posisi rugi dan berpotensi dilepas ke pasar.

Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah 4 Bulan saat Harga Minyak Naik

Nilainya diperkirakan mencapai sekitar 12 miliar dollar AS berdasarkan harga penutupan Rabu.

“Posisi pasar yang sudah tinggi kemungkinan masih rentan dalam jangka pendek,” tulis para analis tersebut.

Secara perdagangan, harga emas di pasar spot naik tipis 0,1 persen ke level 4.511,95 dollar AS per ons pada pukul 13.10 waktu Singapura.

Sementara itu, harga perak menguat 0,2 persen ke 71,32 dollar AS per ons. Platinum dan paladium juga mencatat kenaikan terbatas. Indeks dolar AS Bloomberg tercatat relatif stabil.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau