Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan lonjakan harga minyak tersebut memicu efek domino terhadap komoditas energi lainnya, termasuk batu bara yang menembus level 140 dollar AS per ton.
Menurutnya, kenaikan itu didorong oleh pergeseran konsumsi global, di mana negara-negara seperti Jepang mulai beralih ke batu bara sebagai alternatif energi domestik yang lebih stabil.
Di sektor agrikultur, sentimen positif menyertai harga CPO Malaysia yang bertahan di level MYR 4.600 per ton, didukung oleh lonjakan ekspor dan meningkatnya daya tarik biofuel seiring reli harga minyak mentah.
Di sisi domestik, percepatan program B50 di Indonesia menjadi katalis kuat bagi sektor ini. Namun, pasar tetap mencermati risiko penurunan permintaan dari India serta perlambatan data ekonomi China yang dapat mempengaruhi prospek komoditas ini ke depan.
Bagi pasar modal Indonesia, dinamika ini membawa implikasi kompleks berupa tekanan pada nilai tukar dupiah dan capital outflow yang memicu aksi ambil untung oleh investor asing. Meski demikian, terdapat peluang pada emiten sektor energi (batu bara dan migas) serta CPO yang menjadi penerima manfaat utama dari kenaikan harga komoditas global.
Selain itu, emiten berbasis ekspor lainnya diuntungkan oleh pelemahan Rupiah yang meningkatkan daya saing mereka di pasar internasional.
Secara keseluruhan, pasar saat ini berada dalam fase wait and see, dengan fokus utama pada perkembangan negosiasi geopolitik dan arah harga energi global. Selama deadlock antara Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik temu, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi. Dengan demikian, pergerakan IHSG berpotensi cenderung sideways di rentang 6745-7323.
IHSG pada awal perdagangan Senin ini melemah. Indeks turun 48,27 poin atau 0,68 persen ke level 7.048,785 pada pukul 10.38 WIB.
Sejak awal sesi, indeks sempat dibuka di level 7.020,532 dan langsung mengalami tekanan hingga menyentuh posisi terendah di 6.945,502. Namun IHSG berhasil memangkas sebagian pelemahan dan bergerak naik mendekati angk 7.050.
Dari sisi breadth market, tekanan jual terlihat cukup dominan dengan 464 saham mengalami penurunan, 182 saham menguat dan 164 saham stagnan.
Aktivitas perdagangan cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 10,95 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 5,68 triliun, serta frekuensi perdagangan sebanyak 755.177 kali.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang