Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Prospek Emas hingga 2026: Tinjauan Inflasi AS dan Kebijakan Bank Sentral

Kompas.com, 31 Maret 2026, 16:17 WIB
Agustinus Rangga Respati,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga emas dunia berangsur kembali menguat di tengah tingginya permintaan aset aman atau safe haven.

Menguatnya harga emas terjadi setelah rentetan pelemahan beberapa waktu belakangan karena muncul kekhawatiran meningkatnya inflasi dan suku bunga acuan imbas konflik di Timur Tengah.

Dalam membaca pergerakan harga emas ke depan, terdapat beberapa faktor yang dapat dicermati.

Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini (31/3) Kompak Menguat, UBS-Galeri 24 Naik Rp 38.000

Ilustrasi emas. Freepik Ilustrasi emas.

Pengamat komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, salah satu faktor yang penting dalam membaca harga emas adalah data Inflasi AS.

Ia meminta masyarakat fokus pada Consumer Price Index (CPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE).

Pasalnya, data inflasi yang tinggi bisa menjegal peluang The Fed memangkas suku bunga acuan.

Suku bunga acuan yang tinggi akan membuat emas sebagai investasi yang tidak memiliki imbal hasil (non-yielding asset) jadi kurang menarik.

Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Dipicu Ketegangan AS-Iran

Selain itu, data tenaga kerja dan pengangguran AS juga penting.

"Pelemahan data tenaga kerja bisa menjadi pertimbangan The Fed untuk melakukan pelonggaran moneter," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026).

Masyarakat juga dapat memerhatikan imbal hasil obligasi atau treasury yield.

Wahyu menuturkan, ketika imbal hasil obligasi AS turun, daya tarik emas akan meningkat.

Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.

Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini (31/3) Turun Lagi Rp 10.000 per Gram, Cek Daftarnya

Tak hanya itu, harga emas juga dipengaruhi oleh kebijakan Bank Sentral China (PBOC).

"Pembelian emas oleh bank sentral dunia, terutama China, merupakan pendukung fundamental harga yang sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir," ucap dia.

Mengutip Reuters, sejumlah data ekonomi AS pun dijadwalkan rilis pekan ini, termasuk data lowongan pekerjaan, penjualan ritel, laporan tenaga kerja ADP, serta nonfarm payrolls.

Data-data ini menjadi perhatian investor untuk mengetahui arah kebijakan suku bunga ke depannya.

Baca juga: Harga Emas Turun Saat Dunia Bergejolak: Ada Apa Sebenarnya?

Di samping itu, harga emas di pasar spot hari ini Selasa (31/3/2026) naik 0,6 persen menjadi 4.518,57 dollar AS per ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak November 2025 pada awal pekan lalu.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS ditutup menguat 0,7 persen ke posisi 4.557,50 dollar AS per ons.

Sedikit catatan, harga emas tercatat telah turun lebih dari 14 persen sepanjang Maret 2026.

Penurunan ini menempatkan emas pada jalur kinerja bulanan terburuk sejak 2008.

Baca juga: Harga Emas Diproyeksi Menguat hingga Akhir 2026, Apa Alasannya?

Harga emas dunia diprediksi menguat pada kuartal II-2026

Secara umum, pengamat meramal harga emas dapat berangsur menguat di sepanjang sisa 2026.

Namun demikian, penguatan harga emas sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dunia terutama dari perkembangan konflik di Timur Tengah dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed).

Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.Shutterstock/VladKK Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.

Halaman:


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau