JAKARTA, KOMPAS.com - Harga emas dunia berangsur kembali menguat di tengah tingginya permintaan aset aman atau safe haven.
Menguatnya harga emas terjadi setelah rentetan pelemahan beberapa waktu belakangan karena muncul kekhawatiran meningkatnya inflasi dan suku bunga acuan imbas konflik di Timur Tengah.
Dalam membaca pergerakan harga emas ke depan, terdapat beberapa faktor yang dapat dicermati.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini (31/3) Kompak Menguat, UBS-Galeri 24 Naik Rp 38.000
Ilustrasi emas. Pengamat komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, salah satu faktor yang penting dalam membaca harga emas adalah data Inflasi AS.
Ia meminta masyarakat fokus pada Consumer Price Index (CPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE).
Pasalnya, data inflasi yang tinggi bisa menjegal peluang The Fed memangkas suku bunga acuan.
Suku bunga acuan yang tinggi akan membuat emas sebagai investasi yang tidak memiliki imbal hasil (non-yielding asset) jadi kurang menarik.
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Dipicu Ketegangan AS-Iran
Selain itu, data tenaga kerja dan pengangguran AS juga penting.
"Pelemahan data tenaga kerja bisa menjadi pertimbangan The Fed untuk melakukan pelonggaran moneter," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026).
Masyarakat juga dapat memerhatikan imbal hasil obligasi atau treasury yield.
Wahyu menuturkan, ketika imbal hasil obligasi AS turun, daya tarik emas akan meningkat.
Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini (31/3) Turun Lagi Rp 10.000 per Gram, Cek Daftarnya
Tak hanya itu, harga emas juga dipengaruhi oleh kebijakan Bank Sentral China (PBOC).
"Pembelian emas oleh bank sentral dunia, terutama China, merupakan pendukung fundamental harga yang sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir," ucap dia.
Mengutip Reuters, sejumlah data ekonomi AS pun dijadwalkan rilis pekan ini, termasuk data lowongan pekerjaan, penjualan ritel, laporan tenaga kerja ADP, serta nonfarm payrolls.
Data-data ini menjadi perhatian investor untuk mengetahui arah kebijakan suku bunga ke depannya.
Baca juga: Harga Emas Turun Saat Dunia Bergejolak: Ada Apa Sebenarnya?
Di samping itu, harga emas di pasar spot hari ini Selasa (31/3/2026) naik 0,6 persen menjadi 4.518,57 dollar AS per ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak November 2025 pada awal pekan lalu.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS ditutup menguat 0,7 persen ke posisi 4.557,50 dollar AS per ons.
Sedikit catatan, harga emas tercatat telah turun lebih dari 14 persen sepanjang Maret 2026.
Penurunan ini menempatkan emas pada jalur kinerja bulanan terburuk sejak 2008.
Baca juga: Harga Emas Diproyeksi Menguat hingga Akhir 2026, Apa Alasannya?
Secara umum, pengamat meramal harga emas dapat berangsur menguat di sepanjang sisa 2026.
Namun demikian, penguatan harga emas sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dunia terutama dari perkembangan konflik di Timur Tengah dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed).
Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.