Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Purbaya: Defisit APBN Tetap Terkendali, Anggaran Tidak Morat-Marit

Kompas.com, 1 April 2026, 05:45 WIB
Debrinata Rizky,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

Ia menegaskan, defisit fiskal masih dalam batas aman dan pengelolaan anggaran dilakukan secara hati-hati.

Purbaya menyampaikan, pemerintah terus menjaga kesinambungan fiskal sekaligus menyiapkan ruang untuk merespons gejolak ekonomi global.

“Defisitnya terkendali dan anggarannya tidak morat marit. Kita kendalikan dengan baik semuanya,” ujar Purbaya dalam Konpers Kebijakan-kebijakan Pemerintah dalam Menyikapi Kondisi Geopolitik Saat Ini secara daring pada Selasa (31/3/2026).

Baca juga: Jaga Defisit APBN, Pemerintah Bakal Lakukan Efisiensi di Berbagai Kementerian

Menurut Purbaya, pemerintah telah menghitung berbagai skenario hingga akhir tahun, termasuk asumsi harga minyak yang bisa mencapai rata-rata 100 dollar AS per barel. Meski demikian, kondisi fiskal dinilai tetap terkendali.

“Hitungan kita sekarang sampai 100 dollar rata-rata sampai akhir tahun pun anggaran kita tetap berkesinambungan dan defisitnya masih terkendali,” kata dia.

Ia menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi APBN karena pemerintah telah mengelola anggaran secara disiplin dan terukur.

“Defisitnya terkendali dan anggarannya tidak morat-marit. Kita kendalikan dengan baik semuanya dan kita sudah hitung sampai dengan akhir tahun,” jelas Purbaya.

Baca juga: Antara Krisis Energi, Defisit APBN, dan Ilusi Himbauan Hemat BBM

Berdasarkan data Kemenkeu, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Februari 2026 mencapai Rp 135,7 triliun atau setara 0,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, defisit tersebut meningkat signifikan. Pada Februari 2025, defisit APBN tercatat sebesar Rp 30,7 triliun atau sekitar 0,13 persen dari PDB.

Dari siisi pendapatan negara hingga akhir Februari 2026 tercatat sebesar Rp 358 triliun atau 11,4 persen dari target APBN 2026 yang sebesar Rp 3.153,6 triliun. Realisasi tersebut meningkat 12,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 317,4 triliun.

Secara rinci, penerimaan perpajakan mencapai Rp 290 triliun atau 10,8 persen dari target Rp 2.693,7 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi penerimaan perpajakan pada Februari 2025 yang sebesar Rp 240,6 triliun.

Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 68 triliun atau 14,8 persen dari target Rp 459,2 triliun.

Di sisi belanja, pemerintah telah merealisasikan pengeluaran sebesar Rp 493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari pagu belanja negara dalam APBN 2026 yang mencapai Rp 3.842,7 triliun. Realisasi tersebut meningkat 41,9 persen dibandingkan belanja negara pada Februari 2025 yang sebesar Rp348,1 triliun.

“Pengumpulan pajak di dua bulan pertama 2026 ini tumbuh 30 persen. Kita akan pastikan itu akan stabil terus ke depan,” kata Purbaya dalam Buka Bersama wartawan di Kementerian Keuangan pada Jumat (6/3/2026).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau