Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Napi Merasa Nyaman di Nusakambangan…

Kompas.com, 10 Februari 2026, 05:15 WIB
Singgih Wiryono,
Danu Damarjati

Tim Redaksi

CILACAP, KOMPAS.com - Hendro, seorang warga binaan asal Banjarnegara, Jawa Tengah bercerita tentang ketakutannya saat mendengar Pulau Nusakambangan.

Dia bergidik saat mengetahui hendak dipindahkan dari Lapas di Banjarnegara, menuju Pulau Nusakambangan.

Istrinya menjerit, keluarga menangis, rasa takut semakin nyata setelah mendengar cerita-cerita eksekusi mati dilaksanakan di pulau tersebut.

"Ya karena kan tempat eksekusi juga di sini, tempat eksekusi dan image-nya orang-orang luar (itu), Nusakambangan serem," kata Hendro saat ditemui di sela-sela kegiatan Lapas Terbuka Nusakambangan, Senin (9/2/2026).

Baca juga: Cerita Semangkuk Es Krim dari Pulau Nusakambangan

Tapi setelah sampai di Nusakambangan, Hendro menghela napas lega, Nusakambangan tak semenyeramkan cerita-cerita orang luar.

Pandangannya mengenai Nusakambangan berubah 180 derajat, karena yang diterima bukan cerita horor, melainkan cerita bagaimana beternak bebek dengan baik dan benar.

Dia adalah salah satu dari empat orang yang dipercaya mengelola peternakan bebek petelur dengan luas lahan 1 hektare milik Lapas Terbuka Nusakambangan.

Jumlah bebek yang diurus Hendro dan kawan-kawan sebanyak 3.368 ekor, dan mampu menghasilkan 180-200 telur per hari.

Hendro tak kerja rodi atau kerja tanpa upah. Mereka juga dapat premi dengan nilai Rp 150.000 per orang yang diberikan per bulannya.

Baca juga: Mental Ammar Zoni Drop Saat Dengar Akan Dibawa Lagi ke Nusakambangan

Ragam kegiatan di saat Hendro masih menyandang warga binaan membuat dia merasa betah di Nusakambangan.

Tapi Hendro bilang, bukan berarti dia ingin selamanya di Nusakambangan. Ia sebentar lagi bebas, tepatnya pada Juni 2026.

"Saya sudah merasa nyaman di sini, cuman senyaman-nyamannya di sini lebih nyaman kalau kita kumpul dengan keluarga," imbuhnya.

Akan gunakan ilmunya untuk usaha di rumah

Setelah belajar menjadi peternak telur bebek, Hendro membawa asa ingin menerapkannya di rumah.

Mantan tukang kayu ini percaya, apa yang dia dapatkan sebagai warga binaan di Lapas Terbuka Nusakambangan, akan menjadi bekal kehidupannya setelah bebas nanti.

"Saya (sebelumnya) belum pernah ternak ini (bebek), pengalaman dari sini (Nusakambangan) nanti di rumah akan kita coba untuk ternak bebek," ucapnya.

Halaman:


Terkini Lainnya
Gaspol Hari Ini: Pintu Maaf Dibuka, Anies-AHY 2029?
Gaspol Hari Ini: Pintu Maaf Dibuka, Anies-AHY 2029?
Nasional
Puluhan Ribu Relawan Lintas Lembaga Bahu-membahu Pulihkan Sumatera
Puluhan Ribu Relawan Lintas Lembaga Bahu-membahu Pulihkan Sumatera
Nasional
KPK Masih Kaji Pelaksanaan WFH Setiap Jumat agar Tak Ganggu Pelayanan
KPK Masih Kaji Pelaksanaan WFH Setiap Jumat agar Tak Ganggu Pelayanan
Nasional
KPK Cecar Pengusaha Rokok soal Temuan Uang di Safe House Pejabat Bea Cukai
KPK Cecar Pengusaha Rokok soal Temuan Uang di Safe House Pejabat Bea Cukai
Nasional
Pakar Usul Ada SOP WFH ASN agar Kinerja Tetap Optimal
Pakar Usul Ada SOP WFH ASN agar Kinerja Tetap Optimal
Nasional
Perjalanan Kereta Terganggu akibat Longsor, KAI Kebut Pembersihan Rel Maswati–Sasaksaat
Perjalanan Kereta Terganggu akibat Longsor, KAI Kebut Pembersihan Rel Maswati–Sasaksaat
Nasional
Nurhadi Bantah Penilaian Hakim soal Gratifikasi yang Diterima Menantunya
Nurhadi Bantah Penilaian Hakim soal Gratifikasi yang Diterima Menantunya
Nasional
PBNU Temui Dubes Arab Saudi, Dorong Diplomasi Hentikan Konflik Timur Tengah
PBNU Temui Dubes Arab Saudi, Dorong Diplomasi Hentikan Konflik Timur Tengah
Nasional
Tuntutan Lengkap Indonesia Terhadap DK PBB Atas Kematian Prajurit TNI
Tuntutan Lengkap Indonesia Terhadap DK PBB Atas Kematian Prajurit TNI
Nasional
KPK Sebut Prabowo-Gibran Laporkan LHKPN Tepat Waktu, Contoh bagi Pejabat Lain
KPK Sebut Prabowo-Gibran Laporkan LHKPN Tepat Waktu, Contoh bagi Pejabat Lain
Nasional
PSI soal Jokowi Dikunjungi Dubes Iran: Itu Bentuk Pengakuan Dunia
PSI soal Jokowi Dikunjungi Dubes Iran: Itu Bentuk Pengakuan Dunia
Nasional
Percepat Transformasi Tata Kelola, Pemerintah Terapkan Penyesuaian Pola Kerja ASN
Percepat Transformasi Tata Kelola, Pemerintah Terapkan Penyesuaian Pola Kerja ASN
Nasional
KPK Sebut Ono Surono Berada di Rumah Saat Penggeledahan
KPK Sebut Ono Surono Berada di Rumah Saat Penggeledahan
Nasional
Tak Hanya Jumat WFH, Pemerintah Pangkas Perjalanan Dinas
Tak Hanya Jumat WFH, Pemerintah Pangkas Perjalanan Dinas
Nasional
Hakim: Eks Sekretaris MA Nurhadi Berkepentingan Atas Gratifikasi via Menantu
Hakim: Eks Sekretaris MA Nurhadi Berkepentingan Atas Gratifikasi via Menantu
Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau