Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Mencermati Lebaran dan Mudik Minimalis

Kompas.com, 23 Maret 2026, 10:41 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI BAWAH langit terik, jutaan manusia Indonesia bergerak dalam ritme primordial bernama mudik. Namun, Lebaran kali ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena lebih tepat disebut sebagai Lebaran dan mudik minimalis.

Di satu sisi, ada rekor volume kendaraan di jalanan. Namun di sisi lain, pundi-pundi industri pariwisata dan ritel tak serta-merta membengkak akibat selektivitas belanja pemudik yang ekstrem.

Erosi daya beli ini terkonfirmasi oleh survei nasional yang dirilis Litbang Kompas pada awal tahun, yang memberikan sinyal awal mengenai pergeseran fundamental dalam perilaku konsumsi masyarakat Indonesia.

Tercatat hanya sekitar 23,3 persen warga yang menyatakan rencana untuk mudik, penurunan dari angka 25,7 persen pada tahun sebelumnya.

Meskipun Kementerian Perhubungan memprediksi volume pemudik secara absolut tetap masif di angka 143,9 juta jiwa, mencakup 50,6 persen dari total populasi penduduk, angka ini sebenarnya menunjukkan penurunan sekitar 6,9 persen jika dikomparasikan dengan realisasi tahun 2025 yang menembus 154,9 juta orang.

Penurunan ini adalah alarm pertama bagi para pengambil kebijakan ekonomi bahwa ada segmen masyarakat yang mulai menyerah pada tingginya ongkos perjalanan akibat tekanan finansial yang memang kian berat.

Pola mobilitas yang tetap tinggi di tengah penurunan niat ini menunjukkan bahwa mudik telah bergeser dari sekadar pilihan gaya hidup menjadi keharusan sosial yang dipaksakan di tengah keterbatasan anggaran.

Baca juga: Pekik Kritis Terbungkam, Demokrasi Roboh

Penyebab utama dari lesunya gairah konsumsi ini berakar pada erosi daya beli yang nyaris sistemik dan multidimensional.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan per Februari 2026 telah merayap ke level 4,76 persen, dengan tekanan yang sangat menonjol pada sektor transportasi dan pangan.

Angka inflasi ini adalah representasi dari harga beras, cabai, dan minyak goreng yang merongrong isi dompet masyarakat lapis bawah.

Di sisi lain, masyarakat harus berhadapan dengan kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi per 1 Maret 2026, yang dilakukan secara serentak oleh operator energi seiring lonjakan harga minyak dunia yang menyentuh rata-rata 92 dollar AS per barel.

Harga Pertamax di wilayah Jawa naik menjadi Rp 12.300 per liter, sementara Dexlite menyentuh Rp 14.200 per liter. Kenaikan ini menciptakan efek domino pada biaya logistik yang pada akhirnya membebani harga kebutuhan pokok di meja makan rakyat.

Kondisi ini diperparah oleh fenomena makan tabungan atau dissaving yang kian mengkhawatirkan di tingkat akar rumput.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyingkap fakta pahit bahwa simpanan dengan nominal di bawah Rp 1 juta hanya tumbuh tipis 0,72 persen secara tahunan.

Level yang sangat rendah ini menunjukkan bahwa lapisan masyarakat terbawah telah menguras cadangan masa depan mereka demi memenuhi kebutuhan hari ini.

Ketimpangan kian nyata ketika melihat tabungan kaum kaya dengan saldo di atas Rp 5 miliar yang justru melonjak 22,76 persen.

Realitas ini menciptakan jurang konsumsi yang lebar; di mana kelas menengah ke bawah terjepit di antara upah riil yang terkontraksi pada tahun 2025 dan biaya hidup yang terus melonjak.

Penurunan daya beli terkonfirmasi dari turunnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh).

Kondisi ini pun ikut menyebabkan masyarakat kelas menengah atas mulai mengalami kenaikan Non-Performing Loan (NPL) kartu kredit hingga dua kali lipat menjadi 1,75 persen, sinyal bahwa tekanan ekonomi mulai merambah ke lapisan sosial yang lebih tinggi.

Baca juga: Ekonomi Seremonial: Ilusi Kelimpahan, Terkuras Diam-diam

Halaman:
Baca tentang


Terkini Lainnya
Puluhan Ribu Relawan Lintas Lembaga Bahu-membahu Pulihkan Sumatera
Puluhan Ribu Relawan Lintas Lembaga Bahu-membahu Pulihkan Sumatera
Nasional
KPK Masih Kaji Pelaksanaan WFH Setiap Jumat agar Tak Ganggu Pelayanan
KPK Masih Kaji Pelaksanaan WFH Setiap Jumat agar Tak Ganggu Pelayanan
Nasional
KPK Cecar Pengusaha Rokok soal Temuan Uang di Safe House Pejabat Bea Cukai
KPK Cecar Pengusaha Rokok soal Temuan Uang di Safe House Pejabat Bea Cukai
Nasional
Pakar Usul Ada SOP WFH ASN agar Kinerja Tetap Optimal
Pakar Usul Ada SOP WFH ASN agar Kinerja Tetap Optimal
Nasional
Perjalanan Kereta Terganggu akibat Longsor, KAI Kebut Pembersihan Rel Maswati–Sasaksaat
Perjalanan Kereta Terganggu akibat Longsor, KAI Kebut Pembersihan Rel Maswati–Sasaksaat
Nasional
Nurhadi Bantah Penilaian Hakim soal Gratifikasi yang Diterima Menantunya
Nurhadi Bantah Penilaian Hakim soal Gratifikasi yang Diterima Menantunya
Nasional
PBNU Temui Dubes Arab Saudi, Dorong Diplomasi Hentikan Konflik Timur Tengah
PBNU Temui Dubes Arab Saudi, Dorong Diplomasi Hentikan Konflik Timur Tengah
Nasional
Tuntutan Lengkap Indonesia Terhadap DK PBB Atas Kematian Prajurit TNI
Tuntutan Lengkap Indonesia Terhadap DK PBB Atas Kematian Prajurit TNI
Nasional
KPK Sebut Prabowo-Gibran Laporkan LHKPN Tepat Waktu, Contoh bagi Pejabat Lain
KPK Sebut Prabowo-Gibran Laporkan LHKPN Tepat Waktu, Contoh bagi Pejabat Lain
Nasional
PSI soal Jokowi Dikunjungi Dubes Iran: Itu Bentuk Pengakuan Dunia
PSI soal Jokowi Dikunjungi Dubes Iran: Itu Bentuk Pengakuan Dunia
Nasional
Percepat Transformasi Tata Kelola, Pemerintah Terapkan Penyesuaian Pola Kerja ASN
Percepat Transformasi Tata Kelola, Pemerintah Terapkan Penyesuaian Pola Kerja ASN
Nasional
KPK Sebut Ono Surono Berada di Rumah Saat Penggeledahan
KPK Sebut Ono Surono Berada di Rumah Saat Penggeledahan
Nasional
Tak Hanya Jumat WFH, Pemerintah Pangkas Perjalanan Dinas
Tak Hanya Jumat WFH, Pemerintah Pangkas Perjalanan Dinas
Nasional
Hakim: Eks Sekretaris MA Nurhadi Berkepentingan Atas Gratifikasi via Menantu
Hakim: Eks Sekretaris MA Nurhadi Berkepentingan Atas Gratifikasi via Menantu
Nasional
Akibat Perang Iran, RI Berpotensi Kehilangan 60.572 Wisatawan dan Rp 2,04 T Devisa
Akibat Perang Iran, RI Berpotensi Kehilangan 60.572 Wisatawan dan Rp 2,04 T Devisa
Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau