ACEH TAMIANG, KOMPAS.com – Saat matahari terbenam, Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, seolah ditelan kegelapan malam tanpa ada cahaya lampu yang memadai. Pantauan Kompas.com hingga Senin (5/1/2026) malam, atau 40 hari pascabanjir bandang, kegelapan masih menyelimuti desa yang kini sudah rata dengan tanah tersebut.
Lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) mati total karena tiang-tiangnya miring dan roboh diterjang arus banjir bandang. Satu-satunya tanda kehidupan di tengah hamparan lumpur dan puing bangunan hanyalah cahaya samar dari bohlam-bohlam kecil yang menggantung di dalam dan luar tenda pengungsian warga.
Pemandangan ini kontras dengan area Jembatan Aceh Tamiang yang letaknya tak jauh dari lokasi, di mana lampu warna-warni sudah menyinari kawasan tersebut.
Baca juga: Hari Ke-40 Pascabanjir, Warga Aceh Tamiang Krisis Air Bersih hingga Andalkan Hujan
Ali (50), salah satu warga yang bertahan di lokasi, mengaku tetap bersyukur meski penerangan sangat terbatas. Baginya, cahaya bohlam kecil itu sudah cukup menjadi penyemangat setelah berminggu-minggu hidup dalam kegelapan total.
"Syukur alhamdulillah ini juga walau hanya ada lampu kecil dari tenda. Baru 10 harian ini ada lampu di tenda ini, selama dua minggu sebelumnya gelap-gelapan kami tinggal di sini," ujar Ali saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin.
Ali menuturkan, aliran listrik baru masuk ke area pengungsian Desa Sukajadi sekitar sepuluh hari yang lalu. Itu pun hanya cukup untuk menghidupkan bola lampu di setiap tenda, sementara untuk jalanan desa, kondisinya masih gelap gulita.
"Nah, sekarang sudah ada listrik, tapi belum kalau lampu jalannya, jadi masih gelap," kata Ali.
Baca juga: Desa Sukajadi yang Hilang Disapu Banjir Bandang Aceh Tamiang, Sisakan Gelap dan Puing Berserakan
Kondisi serupa dirasakan Hendri (37), warga lainnya yang tinggal di tenda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tepat di depan tanah bekas rumahnya yang hancur. Sebelum listrik masuk ke tenda, ia dan keluarganya sempat enggan tinggal di lokasi pengungsian karena gelap yang mencekam.
"Tidur di masjid kan enggak enak juga ya kan, sudah sebulan lebih. Tapi kemarin mikir anak, sayang juga kalau tidur di tenda enggak ada lampu, gelap. Jadi terpaksa di masjid dulu," ungkap Hendri.
Namun, rasa tidak enak menumpang terlalu lama di fasilitas umum memaksa Hendri untuk kembali ke Desa Sukajadi dan tinggal di tenda pengungsian. Hendri menyebut, sebelumnya ada komponen panel surya yang disiapkan di area tenda untuk menghidupkan lampu, namun arusnya hanya bisa menghidupkan lampu jalan secara remang-remang dan hanya menyala jika sensornya mendeteksi gerakan.
"Ya remang-remang banget, terus juga kan lampu sensor. Baru nyala kalau ada yang lewat. Jadi enggak bisa nerangin kampung kalau malam," kata Hendri.
Meski kini sudah ada sedikit cahaya, tempat tinggal di pengungsian tersebut masih jauh dari kata layak bagi Hendri dan keluarganya. Tenda terpal tempat mereka bernaung tidak sepenuhnya aman dari cuaca hujan yang masih kerap mengguyur. Ketiadaan pepohonan dan bangunan karena semuanya tersapu banjir pun membuat angin menghantam langsung tenda-tenda warga di lapangan terbuka itu.
"Ya was-was juga lah. Kita takut kalau ada angin tuh kan takut terbang. Tenda ini kan kita enggak tahu kekuatannya apa, anginnya kadang kencang. Karena kan sudah plong ini, enggak ada apa lagi, pohon apa pun," kata Hendri.
Belum lagi jika hujan turun, atap terpal yang mereka gunakan kerap bocor dan merembes, membasahi tempat tidur seadanya.
Meski begitu, di tengah keterbatasan dan trauma akibat bencana, Ali dan warga lainnya memilih untuk tidak larut dalam kesedihan. Saat Kompas.com berkeliling di Desa Sukajadi, terlihat Ali bersama beberapa bapak-bapak berkumpul di depan tenda di bawah cahaya remang-remang.
Mereka bercengkrama dan sesekali terdengar tawa memecah kesunyian malam yang lembap. Cara itu dinilai jitu untuk memecah kekhawatiran dan rasa bosan yang melanda ketika bertahan hidup di pengungsian selama berminggu-minggu.
"Tapi ya kalau kami dibawa senang saja kan, kita nongkrong. Kalau malam gini kumpul-kumpul, bercanda-bercanda, dibawa ketawa saja," ucap Ali.
Kini, di bawah cahaya yang samar-samar, warga Sukajadi hanya bisa menunggu kepastian bantuan hunian sementara dari pemerintah, sembari terus mencoba tertawa untuk melupakan sejenak duka yang mereka rasakan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang