Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuma Ada Bohlam Kecil, Kisah Perjuangan Warga Sukajadi Aceh Tamiang di Tenda Gelap

Kompas.com, 6 Januari 2026, 06:26 WIB
Ridho Danu Prasetyo,
Irfan Maullana

Tim Redaksi

ACEH TAMIANG, KOMPAS.com – Saat matahari terbenam, Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, seolah ditelan kegelapan malam tanpa ada cahaya lampu yang memadai. Pantauan Kompas.com hingga Senin (5/1/2026) malam, atau 40 hari pascabanjir bandang, kegelapan masih menyelimuti desa yang kini sudah rata dengan tanah tersebut.

Lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) mati total karena tiang-tiangnya miring dan roboh diterjang arus banjir bandang. Satu-satunya tanda kehidupan di tengah hamparan lumpur dan puing bangunan hanyalah cahaya samar dari bohlam-bohlam kecil yang menggantung di dalam dan luar tenda pengungsian warga.

Pemandangan ini kontras dengan area Jembatan Aceh Tamiang yang letaknya tak jauh dari lokasi, di mana lampu warna-warni sudah menyinari kawasan tersebut.

Baca juga: Hari Ke-40 Pascabanjir, Warga Aceh Tamiang Krisis Air Bersih hingga Andalkan Hujan

Bertahan dalam Kegelapan

Ali (50), salah satu warga yang bertahan di lokasi, mengaku tetap bersyukur meski penerangan sangat terbatas. Baginya, cahaya bohlam kecil itu sudah cukup menjadi penyemangat setelah berminggu-minggu hidup dalam kegelapan total.

"Syukur alhamdulillah ini juga walau hanya ada lampu kecil dari tenda. Baru 10 harian ini ada lampu di tenda ini, selama dua minggu sebelumnya gelap-gelapan kami tinggal di sini," ujar Ali saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin.

Ali menuturkan, aliran listrik baru masuk ke area pengungsian Desa Sukajadi sekitar sepuluh hari yang lalu. Itu pun hanya cukup untuk menghidupkan bola lampu di setiap tenda, sementara untuk jalanan desa, kondisinya masih gelap gulita.

"Nah, sekarang sudah ada listrik, tapi belum kalau lampu jalannya, jadi masih gelap," kata Ali.

Baca juga: Desa Sukajadi yang Hilang Disapu Banjir Bandang Aceh Tamiang, Sisakan Gelap dan Puing Berserakan

Waswas Saat Angin Kencang dan Hujan

Kondisi serupa dirasakan Hendri (37), warga lainnya yang tinggal di tenda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tepat di depan tanah bekas rumahnya yang hancur. Sebelum listrik masuk ke tenda, ia dan keluarganya sempat enggan tinggal di lokasi pengungsian karena gelap yang mencekam.

"Tidur di masjid kan enggak enak juga ya kan, sudah sebulan lebih. Tapi kemarin mikir anak, sayang juga kalau tidur di tenda enggak ada lampu, gelap. Jadi terpaksa di masjid dulu," ungkap Hendri.

Namun, rasa tidak enak menumpang terlalu lama di fasilitas umum memaksa Hendri untuk kembali ke Desa Sukajadi dan tinggal di tenda pengungsian. Hendri menyebut, sebelumnya ada komponen panel surya yang disiapkan di area tenda untuk menghidupkan lampu, namun arusnya hanya bisa menghidupkan lampu jalan secara remang-remang dan hanya menyala jika sensornya mendeteksi gerakan.

"Ya remang-remang banget, terus juga kan lampu sensor. Baru nyala kalau ada yang lewat. Jadi enggak bisa nerangin kampung kalau malam," kata Hendri.

Kondisi Tenda yang Belum Layak

Meski kini sudah ada sedikit cahaya, tempat tinggal di pengungsian tersebut masih jauh dari kata layak bagi Hendri dan keluarganya. Tenda terpal tempat mereka bernaung tidak sepenuhnya aman dari cuaca hujan yang masih kerap mengguyur. Ketiadaan pepohonan dan bangunan karena semuanya tersapu banjir pun membuat angin menghantam langsung tenda-tenda warga di lapangan terbuka itu.

"Ya was-was juga lah. Kita takut kalau ada angin tuh kan takut terbang. Tenda ini kan kita enggak tahu kekuatannya apa, anginnya kadang kencang. Karena kan sudah plong ini, enggak ada apa lagi, pohon apa pun," kata Hendri.

Belum lagi jika hujan turun, atap terpal yang mereka gunakan kerap bocor dan merembes, membasahi tempat tidur seadanya.

Bertahan dengan Tawa di Tengah Trauma

Meski begitu, di tengah keterbatasan dan trauma akibat bencana, Ali dan warga lainnya memilih untuk tidak larut dalam kesedihan. Saat Kompas.com berkeliling di Desa Sukajadi, terlihat Ali bersama beberapa bapak-bapak berkumpul di depan tenda di bawah cahaya remang-remang.

Mereka bercengkrama dan sesekali terdengar tawa memecah kesunyian malam yang lembap. Cara itu dinilai jitu untuk memecah kekhawatiran dan rasa bosan yang melanda ketika bertahan hidup di pengungsian selama berminggu-minggu.

"Tapi ya kalau kami dibawa senang saja kan, kita nongkrong. Kalau malam gini kumpul-kumpul, bercanda-bercanda, dibawa ketawa saja," ucap Ali.

Kini, di bawah cahaya yang samar-samar, warga Sukajadi hanya bisa menunggu kepastian bantuan hunian sementara dari pemerintah, sembari terus mencoba tertawa untuk melupakan sejenak duka yang mereka rasakan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Regional
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Regional
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
Regional
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Cuma Ada Bohlam Kecil, Kisah Perjuangan Warga Sukajadi Aceh Tamiang di Tenda Gelap
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat