LEMBATA, KOMPAS.com - Sejumlah desa di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali dilanda hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Ile Lewotolok, Senin (19/1/2026).
Warga mulai mengeluhkan mata terasa perih saat beraktivitas di luar rumah. Kondisi yang sama dialami para siswa yang hendak ke sekolah.
Klemens Tokan (45), salah seorang warga di Kecamatan Ile Ape Timur, mengungkapkan bahwa intensitas hujan abu vulkanik terus meningkat.
"Abunya semakin hari kian banyak. Aktivitas di luar rumah sangat terganggu. Warga butuh masker," ujar Klemens.
Baca juga: Gunung Ile Lewotolok Meletus hingga Senin Pagi, Status Siaga
Klemens juga mengungkapkan, sumber air bersih, bak penampung air dan sayuran mulai tercemar abu vulkanik.
Warga khawatir, jika dikonsumsi secara terus menerus, maka akan berdampak terhadap kesehatan di masa yang akan datang.
"Semoga ada perhatian dari pemerintah. Mungkin bisa dibantu distribusi air bersih ke lokasi yang terdampak erupsi," pintanya.
Baca juga: Naik Level Siaga, Radius Bahaya Erupsi Gunung Ile Lewotolok Diperluas
Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok melaporkan, gunung itu meletus 99 kali pada Senin.
Stanislaus Ara Kian, petugas Pos PGA Ile Lewotolok mencatat puluhan erupsi tersebut terdeteksi sejak pukul 06.00 Wita-12.00 Wita.
"Terjadi 99 kali letusan dengan amplitudo 11.6-30.9 mm, dan durasi sekitar 48-96 detik," jelas Stanislaus.
Menurutnya, letusan tersebut disertai gemuruh dan lontaran abu vulkanik setinggi 200-500 meter dengan warna asap putih, kelabu, dan hitam.
Stanislaus mengimbau warga sekitar tetap waspada. Ia menegaskan tingkat aktivitas Gunung Ile Lewotolok berada pada level III siaga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang