Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebun Strawberry Hidroponik di Bener Meriah Mati Massal Pasca-Bencana Aceh

Kompas.com, 9 Februari 2026, 13:10 WIB
Syah Antoni,
Irfan Maullana

Tim Redaksi

BENER MERIAH, KOMPAS.com - Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Bener Meriah, Aceh, membawa kerugian besar bagi petani strawberry hidroponik. Terputusnya pasokan listrik dalam jangka waktu lama saat bencana membuat sistem pengairan lumpuh dan menyebabkan tanaman mati masal.

Nasrudin Bakri, petani strawberry hidroponik di Kampung Panji Mulia I, Kecamatan Bukit, mengaku harus menelan kerugian hingga jutaan rupiah akibat kejadian ini.

"Tanpa listrik, sistem hidroponik di kebun strawberry kami tidak berjalan. Hampir sepenuhnya tanaman kami mati," kata Nasrudin Bakri kepada Kompas.com, Minggu (8/2/2026).

Mulai Kembali dari Nol

Nasrudin merupakan sosok di balik budidaya strawberry sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) pertama di Provinsi Aceh. Ketiadaan listrik membuat nutrisi tidak tersalurkan ke pipa-pipa tanam, sehingga ia terpaksa memulai kembali usahanya dari nol.

Untuk menyelamatkan apa yang tersisa, tanaman strawberry yang masih hidup dipindahkan ke polybag untuk dikembangkan kembali sebagai bibit.

"Sekarang harus mulai lagi dari nol, bibit harus dikembangkan lagi sampai siap tanam. Tapi harus semangat, kami hanya kehilangan tanaman strawberry, saudara-saudara yang lain bahkan harus kehilangan nyawa dan tempat tinggal, cobaan mereka lebih besar," ujar Nasrudin.

Baca juga: Kerugian Bencana Hidrometeorologi di Bener Meriah Capai Rp7,1 Triliun

Pendapatan Berkurang Drastis

Matinya ribuan tanaman tersebut membuat produktivitas kebun Nasrudin berkurang hingga seratus persen. Padahal, sebelum bencana, ia mampu meraup omzet jutaan rupiah per bulan dengan hasil panen rata-rata 5 sampai 7 kilogram setiap dua atau tiga hari.

Harga jual strawberry miliknya dipatok mulai Rp 120.000 per kilogram atau Rp 13.000 per ons. Kebunnya pun menjadi destinasi wisata edukasi favorit bagi siswa sekolah dan wisatawan luar daerah karena sistem petik sendiri yang ditawarkannya.

Demi menjaga dapur tetap ngebul, Nasrudin kini memutar otak dengan menanam berbagai jenis sayuran sebagai opsi pengganti sementara.

"Biar pemasukan tetap ada, kami tanam beberapa jenis sayuran. Ada bawang merah, kangkung, pakcoy dan bayam. Walau labanya tidak sebesar strawberry, tapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali," ucapnya.

Baca juga: Pascabanjir Aceh, Harga Kopi Arabika Gayo Tembus Rp 30.000 Per Bambu

Pionir Hidroponik Sejak 2019

Nasrudin membangun kebun ini sejak 2019 dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Dari awalnya hanya memiliki 360 lubang tanam, ia berhasil mengembangkan kebunnya hingga memiliki 3.200 lubang tanam yang terdiri dari sistem outdoor dan green house.

Ia juga dikenal inovatif dengan menanam varietas impor seperti jenis giant dan palmeritas dari Amerika Serikat yang memiliki ukuran besar dan rasa lebih manis. Tak hanya strawberry, lantai bawah kebun hidroponiknya juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan lele dan nila sebagai penghasilan tambahan.

Kini, pionir hidroponik Aceh ini harus bersabar menanti bibit-bibit unggulnya siap kembali mengisi ribuan pipa di kebun kebanggaannya tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
Regional
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Regional
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Regional
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Regional
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Kebun Strawberry Hidroponik di Bener Meriah Mati Massal Pasca-Bencana Aceh
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat