BENER MERIAH, KOMPAS.com - Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Bener Meriah, Aceh, membawa kerugian besar bagi petani strawberry hidroponik. Terputusnya pasokan listrik dalam jangka waktu lama saat bencana membuat sistem pengairan lumpuh dan menyebabkan tanaman mati masal.
Nasrudin Bakri, petani strawberry hidroponik di Kampung Panji Mulia I, Kecamatan Bukit, mengaku harus menelan kerugian hingga jutaan rupiah akibat kejadian ini.
"Tanpa listrik, sistem hidroponik di kebun strawberry kami tidak berjalan. Hampir sepenuhnya tanaman kami mati," kata Nasrudin Bakri kepada Kompas.com, Minggu (8/2/2026).
Nasrudin merupakan sosok di balik budidaya strawberry sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) pertama di Provinsi Aceh. Ketiadaan listrik membuat nutrisi tidak tersalurkan ke pipa-pipa tanam, sehingga ia terpaksa memulai kembali usahanya dari nol.
Untuk menyelamatkan apa yang tersisa, tanaman strawberry yang masih hidup dipindahkan ke polybag untuk dikembangkan kembali sebagai bibit.
"Sekarang harus mulai lagi dari nol, bibit harus dikembangkan lagi sampai siap tanam. Tapi harus semangat, kami hanya kehilangan tanaman strawberry, saudara-saudara yang lain bahkan harus kehilangan nyawa dan tempat tinggal, cobaan mereka lebih besar," ujar Nasrudin.
Baca juga: Kerugian Bencana Hidrometeorologi di Bener Meriah Capai Rp7,1 Triliun
Matinya ribuan tanaman tersebut membuat produktivitas kebun Nasrudin berkurang hingga seratus persen. Padahal, sebelum bencana, ia mampu meraup omzet jutaan rupiah per bulan dengan hasil panen rata-rata 5 sampai 7 kilogram setiap dua atau tiga hari.
Harga jual strawberry miliknya dipatok mulai Rp 120.000 per kilogram atau Rp 13.000 per ons. Kebunnya pun menjadi destinasi wisata edukasi favorit bagi siswa sekolah dan wisatawan luar daerah karena sistem petik sendiri yang ditawarkannya.
Demi menjaga dapur tetap ngebul, Nasrudin kini memutar otak dengan menanam berbagai jenis sayuran sebagai opsi pengganti sementara.
"Biar pemasukan tetap ada, kami tanam beberapa jenis sayuran. Ada bawang merah, kangkung, pakcoy dan bayam. Walau labanya tidak sebesar strawberry, tapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali," ucapnya.
Baca juga: Pascabanjir Aceh, Harga Kopi Arabika Gayo Tembus Rp 30.000 Per Bambu
Nasrudin membangun kebun ini sejak 2019 dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Dari awalnya hanya memiliki 360 lubang tanam, ia berhasil mengembangkan kebunnya hingga memiliki 3.200 lubang tanam yang terdiri dari sistem outdoor dan green house.
Ia juga dikenal inovatif dengan menanam varietas impor seperti jenis giant dan palmeritas dari Amerika Serikat yang memiliki ukuran besar dan rasa lebih manis. Tak hanya strawberry, lantai bawah kebun hidroponiknya juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan lele dan nila sebagai penghasilan tambahan.
Kini, pionir hidroponik Aceh ini harus bersabar menanti bibit-bibit unggulnya siap kembali mengisi ribuan pipa di kebun kebanggaannya tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang