Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rahasia Dinding Masjid Jami Tua Palopo yang Kokoh Selama 400 Tahun

Kompas.com, 27 Februari 2026, 03:02 WIB
Amran Amir,
Ferril Dennys

Tim Redaksi

PALOPO, KOMPAS.com - Langit siang itu terasa terik ketika Guntur bersama istri dan anak-anaknya memarkir kendaraan di halaman Masjid Jami Tua Palopo, Sulawesi Selatan, Kamis (26/2/2026).

Perjalanan jauh dari Kabupaten Wajo menuju Kota Palopo selalu menyisakan satu kebiasaan yang hampir tak pernah terlewat bagi keluarga kecil ini: singgah dan menunaikan shalat di masjid bersejarah tersebut.

Bagi Guntur, Masjid Jami Tua bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang takzim yang menghadirkan kenyamanan di tengah perjalanan.

Baca juga: Ramadhan, Pemkab Pamekasan Larang Penggunaaan Toa Masjid di Atas Pukul 22.00

Bangunan batu yang kokoh serta suasana teduh menjadi alasan utama ia selalu membawa anak-anaknya ke sana.

“Kesannya masjid ini sangat luar biasa. Selain jadi ikon Kota Palopo, masjid ini bersih. Saya bawa anak-anak ke sini supaya mereka tahu salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan,” ujar Guntur saat ditemui di lokasi, Kamis (26/2/2026).

Kekaguman Guntur semakin membuncah saat melangkah ke dalam ruang utama. Ia terpukau dengan keberadaan tiang-tiang kayu yang telah berusia ratusan tahun namun tetap dipertahankan keasliannya hingga saat ini.

Hal senada diungkapkan Giska, warga Wajo lainnya, yang mengaku selalu menikmati detail ornamen masa lampau, termasuk mimbar yang masih digunakan sejak zaman dulu.

Menurutnya, daya tarik utama masjid ini adalah kesungguhan pengelola dalam merawat jejak sejarah yang telah melampaui empat abad.

Rahasia Dinding Batu Cadas dan Putih Telur

Masjid Jami Tua Palopo diperkirakan dibangun sekitar tahun 1604 M pada masa pemerintahan Datu Luwu ke-XVI, Pati Pasaung Sultan Abdullah Matinroe ri Patimang.

Imam Masjid Jami Tua Palopo Radhi Nur menjelaskan, setiap jengkal bangunan ini menyimpan makna filosofis yang mendalam, termasuk material dindingnya.

“Bangunan masjid ini penuh makna. Dindingnya terbuat dari batu cadas yang diambil dari pegunungan Tana Toraja. Batu-batu cadas itu direkatkan menggunakan campuran putih telur dan kapur,” jelas Radhi.

Ketebalan dinding yang mencapai sekitar satu meter membuat bangunan tetap berdiri kokoh meski telah berusia 422 tahun.

Selain dinding, atap bersusun tiga yang disebut "tellue poccoe" (tiga puncak) merujuk pada filosofi persaudaraan di Kerajaan Luwu.

Radhi menambahkan, arsitektur masjid juga menjadi simbol ajaran Islam. Di dalam masjid berdiri lima tiang utama yang melambangkan Rukun Islam, sementara jendela ventilasi berjumlah enam melambangkan Rukun Iman. Adapun satu pintu utama dimaknai sebagai satu jalan kebenaran yang lurus.

Soko Guru dan Warisan Kedatuan Luwu

Salah satu elemen paling ikonik di dalam masjid adalah tiang utama di tengah yang kerap disebut Soko Guru atau Cina Duri. Karena nilai sejarah dan sosiologisnya yang tinggi, tiang kayu raksasa tersebut kini dilindungi dengan pagar kaca agar tidak terkikis oleh tangan-tangan jahil.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini memiliki ikatan kuat dengan Istana Datu Luwu (Sao Langkanae) yang berjarak hanya 50 meter. Secara tradisi, para Datu Luwu yang wafat akan dishalatkan di masjid ini sebelum dimakamkan di Lokkoe.

Hingga kini, bedug Masjid Jami Tua masih aktif digunakan, terutama untuk menandai waktu berbuka puasa dan menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Keberadaannya kini tak hanya menjadi tempat sujud bagi warga lokal, tetapi juga menjadi destinasi religi bagi peziarah mancanegara yang ingin menyaksikan langsung bukti sejarah masuknya Islam di Tanah Luwu melalui Datuk Sulaiman.

Bagi pengunjung seperti Guntur dan Giska, Masjid Jami Tua Palopo adalah ruang sunyi tempat generasi hari ini belajar tentang iman, tradisi, dan jejak masa lalu yang tak lekang oleh waktu di antara dinding batu setebal satu meter.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
Regional
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Regional
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Regional
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Regional
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Rahasia Dinding Masjid Jami Tua Palopo yang Kokoh Selama 400 Tahun
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat