PALOPO, KOMPAS.com - Langit siang itu terasa terik ketika Guntur bersama istri dan anak-anaknya memarkir kendaraan di halaman Masjid Jami Tua Palopo, Sulawesi Selatan, Kamis (26/2/2026).
Perjalanan jauh dari Kabupaten Wajo menuju Kota Palopo selalu menyisakan satu kebiasaan yang hampir tak pernah terlewat bagi keluarga kecil ini: singgah dan menunaikan shalat di masjid bersejarah tersebut.
Bagi Guntur, Masjid Jami Tua bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang takzim yang menghadirkan kenyamanan di tengah perjalanan.
Baca juga: Ramadhan, Pemkab Pamekasan Larang Penggunaaan Toa Masjid di Atas Pukul 22.00
Bangunan batu yang kokoh serta suasana teduh menjadi alasan utama ia selalu membawa anak-anaknya ke sana.
“Kesannya masjid ini sangat luar biasa. Selain jadi ikon Kota Palopo, masjid ini bersih. Saya bawa anak-anak ke sini supaya mereka tahu salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan,” ujar Guntur saat ditemui di lokasi, Kamis (26/2/2026).
Kekaguman Guntur semakin membuncah saat melangkah ke dalam ruang utama. Ia terpukau dengan keberadaan tiang-tiang kayu yang telah berusia ratusan tahun namun tetap dipertahankan keasliannya hingga saat ini.
Hal senada diungkapkan Giska, warga Wajo lainnya, yang mengaku selalu menikmati detail ornamen masa lampau, termasuk mimbar yang masih digunakan sejak zaman dulu.
Menurutnya, daya tarik utama masjid ini adalah kesungguhan pengelola dalam merawat jejak sejarah yang telah melampaui empat abad.
Masjid Jami Tua Palopo diperkirakan dibangun sekitar tahun 1604 M pada masa pemerintahan Datu Luwu ke-XVI, Pati Pasaung Sultan Abdullah Matinroe ri Patimang.
Imam Masjid Jami Tua Palopo Radhi Nur menjelaskan, setiap jengkal bangunan ini menyimpan makna filosofis yang mendalam, termasuk material dindingnya.
“Bangunan masjid ini penuh makna. Dindingnya terbuat dari batu cadas yang diambil dari pegunungan Tana Toraja. Batu-batu cadas itu direkatkan menggunakan campuran putih telur dan kapur,” jelas Radhi.
Ketebalan dinding yang mencapai sekitar satu meter membuat bangunan tetap berdiri kokoh meski telah berusia 422 tahun.
Selain dinding, atap bersusun tiga yang disebut "tellue poccoe" (tiga puncak) merujuk pada filosofi persaudaraan di Kerajaan Luwu.
Radhi menambahkan, arsitektur masjid juga menjadi simbol ajaran Islam. Di dalam masjid berdiri lima tiang utama yang melambangkan Rukun Islam, sementara jendela ventilasi berjumlah enam melambangkan Rukun Iman. Adapun satu pintu utama dimaknai sebagai satu jalan kebenaran yang lurus.
Salah satu elemen paling ikonik di dalam masjid adalah tiang utama di tengah yang kerap disebut Soko Guru atau Cina Duri. Karena nilai sejarah dan sosiologisnya yang tinggi, tiang kayu raksasa tersebut kini dilindungi dengan pagar kaca agar tidak terkikis oleh tangan-tangan jahil.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini memiliki ikatan kuat dengan Istana Datu Luwu (Sao Langkanae) yang berjarak hanya 50 meter. Secara tradisi, para Datu Luwu yang wafat akan dishalatkan di masjid ini sebelum dimakamkan di Lokkoe.
Hingga kini, bedug Masjid Jami Tua masih aktif digunakan, terutama untuk menandai waktu berbuka puasa dan menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Keberadaannya kini tak hanya menjadi tempat sujud bagi warga lokal, tetapi juga menjadi destinasi religi bagi peziarah mancanegara yang ingin menyaksikan langsung bukti sejarah masuknya Islam di Tanah Luwu melalui Datuk Sulaiman.
Bagi pengunjung seperti Guntur dan Giska, Masjid Jami Tua Palopo adalah ruang sunyi tempat generasi hari ini belajar tentang iman, tradisi, dan jejak masa lalu yang tak lekang oleh waktu di antara dinding batu setebal satu meter.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang