DEMAK, KOMPAS.com - Lebaran atau Idul Fitri selalu identik dengan nuansa busana baru maupun alas kaki baru serta pernak-pernik di dalamnya.
Namun, bagi Ade, pelanggan sol sepatu di Pasar Bintoro Kabupaten Demak, Jawa Tengah, tampil modis tidak harus dengan barang yang baru.
"Karena untuk tampil modis di Lebaran enggak harus barang baru, tergantung pribadi masing-masing sih, kalau saya memperbaiki," kata Ade, saat ditanya alasan menjahitkan sandal bekas, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya ketimbang semua uang digunakan untuk membeli barang yang serba baru, ia memilih menyisihkan uang untuk dibagikan ke anak-anak saat momentum Idul Fitri nanti.
Baca juga: Dua Kali Gagal Tes, Anak Tukang Sol Sepatu Akhirnya Tembus Sekolah Polisi
"Untuk yang lainnya dulu, untuk angpau anak kecil gitu," ujarnya sembari terkekeh.
Ade menambahkan, mendapat pembelajaran dari ibunya untuk memanfaatkan alas kaki yang rusak apabila masih bisa diperbaiki.
"Saya dari dulu di sini terus, sama mama saya memperbaiki di sini terus," imbuhnya.
Hal serupa juga diungkapkan Yuni Rahmawati (45), ia menjahitkan dua pasang sandal untuk digunakan secara bergantian saat Lebaran nanti.
Baca juga: Bukan Veteran yang Dapat Bantuan di Hari Pahlawan, tapi Tukang Sol Sepatu
"Masih bagus, lemnya lepas, ini dua pasang buat gantian," ujar Yuni.
Dia mengaku tidak membeli sandal baru untuk Lebaran tahun ini, uang yang ada diprioritaskan untuk anaknya supaya tidak iri dengan teman-temannya.
"Ngalah sudah tua, penting anak-anak sudah semua, biar sama teman-temannya," tutup Yuni.
Kondisi berbeda diungkapkan Arif, ia mengaku memiliki sepatu baru khusus untuk Lebaran, adapun sepatu bekas yang diperbaiki ke tukang sol sepatu untuk aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Menjahit Harapan di Pinggir Jalan, 23 Tahun Santoso Bertahan dari Jahit Sol Sepatu
"(Sepatu baru) ada di rumah, ini nanti untuk obrokan (keseharian). Yang Lebaran ada di rumah masih bagus," kata Arief.
Dia menilai harga sepatu maupun sandal baru kini cukup terjangkau, namun ia menegaskan untuk tidak membeli barang baru berlebih karena uangnya akan digunakan untuk membeli kebutuhan bahan pokok.
"Harganya ya standar, tapi masyarakat mungkin lebih mencari kebutuhan yang lain, artinya untuk beli sembako daripada kebutuhan yang lain," tutup Arief.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang