Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Protes Jalan ke Pelabuhan Rusak Berat Belasan Tahun, Warga Maumere Tanam Pohon Pisang di Sepanjang Jalan

Kompas.com, 18 Maret 2026, 17:46 WIB
Seraphinus Sandi Hayon Jehadu,
Krisiandi

Tim Redaksi

MAUMERE, KOMPAS.com - Masyarakat meluapkan kekecewaan mereka terhadap kondisi jalan menuju Pelabuhan Wuring, Kabupaten Sikka, NTT, yang rusak parah dengan cara yang unik, Rabu (18/3/2026).

Mereka menanam pohon pisang di sepanjang jalan sebagai bentuk protes kepada pemerintah yang dianggap lamban dalam melakukan perbaikan.

Abdul Munir, warga setempat, mengungkapkan bahwa, pelabuhan Wuring memiliki peran krusial dalam memasok kebutuhan pokok beras untuk wilayah Flores.

Baca juga: Longsor Tutup Jalur Ende-Maumere, Mobilitas Warga Terganggu

Ribuan ton beras masuk melalui pelabuhan ini dan didistribusikan ke berbagai daerah, mulai dari Maumere hingga Bajawa, Kabupaten Ngada.

Namun, akses menuju pelabuhan ini terhambat oleh kondisi jalan yang memprihatinkan.

"Ini jalan sudah rusak berpuluh tahun, tetapi tidak pernah dikerja. Jadi ini bentuk protesnya kami masyarakat. Kami menanam pohon pisang supaya pemerintah melihat kita," ujar Abdul.

Menurut Abdul, kondisi jalan yang rusak parah ini semakin diperparah dengan adanya genangan air saat musim hujan.

Bahkan, genangan air bisa mencapai lutut hanya dalam waktu dua jam setelah hujan turun.

Hal ini sangat mengganggu aktivitas warga dan juga berpotensi menimbulkan risiko bagi kendaraan yang melintas, terutama truk bermuatan beras.

Baca juga: Dalami Dugaan Kuburan Janin di Eltras Pub Maumere, Polisi Bakal Datangkan Saksi dari Jabar

"Setiap mobil lewat pasti lenggang, pasti bakalan menimbulkan kemiringan dan juga jatuh tertimpa orang yang berada di sekitar mobil tersebut," katanya.

Warga mengaku telah berupaya melakukan penimbunan jalan secara sukarela.

Namun, upaya tersebut belum memadai untuk mengatasi kerusakan yang ada.

Pemerintah hanya janji-janji

Warga tanam pisang di jalan menuju Pelabuhan Wuring, Kabupaten Sikka, NTT, yang rusak parah, Rabu (18/3/2026).KOMPAS.com/SERAPHINUS SANDI Warga tanam pisang di jalan menuju Pelabuhan Wuring, Kabupaten Sikka, NTT, yang rusak parah, Rabu (18/3/2026).
Mereka juga menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai hanya memberikan janji-janji perbaikan tanpa adanya realisasi.

"Datang janji akan, akan, pokoknya. Bahasa nya akan memperbaiki bulan sekian, akan memperbaiki tahun sekian, sampai sekarang tidak akan, tidak, tidak pernah diperbaiki," keluh Abdul.

Ia menyebut, kerusakan jalan tersebut diperkirakan sudah terjadi selama 15 tahun.

Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas warga, terutama saat arus mudik Lebaran.

Baca juga: Sediakan 6 Kapal, Pelni Maumere Imbau Warga Waspadai Calo Tiket Mudik

Abdul mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap infrastruktur tersebut.

Bupati Janji Perbaiki

Menanggapi aksi warga, Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago mengakui bahwa kondisi jalan menuju Pelabuhan Wuring mengalami kerusakan sejak belasan tahun lalu.

Juventus belum bisa memastikan kapan akan dilakukan perbaikan, mengingat keterbatasan keuangan daerah akibat efisiensi. “Tetapi saya jamin, saya akan bangun dalam kurun waktu empat tahun ke depan,” ujar Juventus saat dihubungi, Rabu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Regional
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
Regional
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Regional
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Protes Jalan ke Pelabuhan Rusak Berat Belasan Tahun, Warga Maumere Tanam Pohon Pisang di Sepanjang Jalan
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat