Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

SKB Pembatasan Dicabut, Truk Logistik Mengular hingga Keluar Pelabuhan Merak

Kompas.com, 31 Maret 2026, 11:51 WIB
Rasyid Ridho,
Reni Susanti

Tim Redaksi

CILEGON, KOMPAS.com – Antrean panjang kendaraan logistik kembali mewarnai akses menuju Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Selasa (31/3/2026).

Ribuan truk tertahan selama berjam-jam akibat lonjakan volume kendaraan pasca-berakhirnya masa pembatasan operasional angkutan barang selama arus mudik Lebaran 2026.

Lonjakan ini terjadi menyusul dicabutnya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang sebelumnya melarang kendaraan besar menyeberang melalui lintasan Merak-Bakauheni selama periode puncak mudik.

Aturan tersebut resmi berakhir pada Senin (30/3/2026).

Baca juga: Pemudik Terus Berdatangan ke Pelabuhan Merak Siang Ini, Tapi Antrean Tak Meluber ke Jalan Raya

Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi sejak pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, petugas kepolisian terpaksa menerapkan rekayasa lalu lintas berupa sistem buka-tutup di Jalan Cikuasa Atas, Cilegon.

Langkah ini diambil guna mengurai kepadatan di seluruh kantong parkir buffer zone pada tujuh dermaga yang tersedia, termasuk area dermaga eksekutif Pelabuhan Merak.

Keluhan Sopir: Terancam Denda, Biaya Membengkak

Salah satu sopir truk ekspedisi, Achmad (34), mengaku sudah terjebak antrean sejak pukul 05.00 WIB.

Hingga pukul 10.00 WIB, truk yang membawa paket tujuan Padang, Sumatera Barat tersebut bahkan belum mencapai loket pemeriksaan tiket.

"Sudah lima jam antre, ini saja belum masuk kapal, masih tertahan di luar area dermaga," ujar Achmad saat ditemui Kompas.com di Dermaga 6, Selasa.

Achmad menjelaskan, keterlambatan ini berdampak langsung pada kondisi finansialnya.

Baca juga: Gapura di Pematangsiantar Ambruk Ditabrak Truk, Pengendara Motor Tertimpa Material Beton

Selain biaya operasional harian yang membengkak, ia dibayangi sanksi penalti dari perusahaan jika barang tidak tiba tepat waktu.

Achmad telah merogoh kocek hingga Rp300.000 untuk keperluan makan, kopi, dan rokok selama menunggu masuk ke kapal.

Selain biaya di jalan membengkak, ada ancaman sanksi keterlambatan sebesar Rp200.000 per hari yang harus ditanggung jika melampaui target pengiriman 35 jam.

"Bukan cuma biaya jalan yang membengkak, kami juga punya target waktu. Kalau terlambat dan tidak lapor, kena denda," keluhnya.

Perbandingan dengan Pelabuhan BBJ

Meski harus mengantre enam jam, sopir lain bernama Hamdan merasa kondisi saat ini masih jauh lebih baik dibandingkan saat masa mudik berlangsung.

Halaman:


Terkini Lainnya
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
Regional
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Regional
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Regional
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Regional
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
SKB Pembatasan Dicabut, Truk Logistik Mengular hingga Keluar Pelabuhan Merak
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat