Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai

Kompas.com, 1 April 2026, 15:20 WIB
Muchamad Dafi Yusuf,
Irfan Maullana

Tim Redaksi

SEMARANG, KOMPAS.com – Kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan seorang alumni berinisial LT terhadap mahasiswi berinisial H di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Jawa Tengah, berakhir damai. Pihak kampus menyatakan persoalan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unissula, Achmad Arifulloh, mengonfirmasi bahwa korban telah mengajukan pencabutan laporan ke Polda Jawa Tengah pada Rabu (1/4/2026) pagi sebagai tindak lanjut dari proses mediasi.

“Sebagai tindak lanjut dari proses mediasi, korban telah mengajukan pencabutan laporan ke Polda Jateng pada Rabu pagi,” kata Achmad Arifulloh di ruang rektorat, Rabu.

Baca juga: Kasus Dosen Unissula Aniaya Dokter RSI Sultan Agung Semarang, Polda Jateng Periksa 12 Orang

Mediasi Tanpa Unsur Paksaan

Kasus ini bermula dari dugaan tindak kekerasan seksual yang terjadi di sebuah rumah kos pada 15 Februari 2026. Meski peristiwa berlangsung di luar lingkungan kampus, pihak universitas tetap melakukan pendampingan melalui Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT).

Pihak kampus menyatakan telah memanggil kedua belah pihak untuk dimintai keterangan, sekaligus memfasilitasi proses mediasi yang berlangsung pada Selasa (31/3/2026). Hasil mediasi tersebut menghasilkan kesepakatan damai antara korban dan terlapor.

“Permasalahan telah diselesaikan secara kekeluargaan dan kedua belah pihak sepakat untuk berdamai,” lanjut Arifulloh. Pihak kampus menegaskan bahwa kesepakatan tersebut diambil tanpa adanya unsur paksaan dari pihak mana pun.

Baca juga: Diduga Aniaya Dokter RSI Sultan Agung, Dosen Hukum Unissula Diskors 6 Bulan

Kronologi Dugaan Kekerasan Seksual

Sebelumnya, kasus ini sempat viral di media sosial. Peristiwa diduga melibatkan seorang senior dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kejadian bermula saat korban dan pelaku berencana bertemu untuk berdiskusi pada Februari 2026.

Pelaku kemudian menjemput korban di kosnya. Setibanya di lokasi, korban sempat masuk ke kamar untuk mengambil ponsel, namun pelaku diduga memaksa masuk meskipun telah diminta menunggu di ruang tamu. Di dalam kamar tersebut, pelaku diduga melakukan tindakan tidak pantas dengan membuka pakaian hingga hanya mengenakan celana dalam dan memperlihatkan alat kelaminnya kepada korban.

Peristiwa tersebut dilaporkan membuat korban mengalami trauma psikologis mendalam dan kerap menangis saat bertemu dengan pelaku.

Komitmen Perlindungan Mahasiswa

Meski perkara dinyatakan selesai secara kekeluargaan, Unissula menegaskan tetap berkomitmen melindungi mahasiswa dan memastikan penanganan kasus serupa dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku. Pihak kampus juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Kami berharap media dapat membantu menjernihkan persoalan serta mewaspadai informasi hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tulis pernyataan resmi tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
Regional
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Regional
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Regional
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Regional
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat