TULUNGAGUNG, KOMPAS.com - Festival balon udara yang digelar di Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, berlangsung meriah dan tertib pada Minggu (29/03/2026).
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 07.00 WIB tersebut, berjalan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat setempat.
Festival tersebut sekaligus menjadi contoh pengendalian tradisi penerbangan balon udara liar yang selama ini kerap merugikan warga.
Pemerintah desa bersama kelompok remaja masjid dan remaja mushala setempat telah berkoordinasi untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman dan tertib.
Baca juga: Polisi Amankan Balon Udara Berpetasan di Trenggalek, Rencana Diterbangkan Saat Lebaran Ketupat
Kepala Desa Notorejo, Mustakim, menjelaskan bahwa upaya sosialisasi yang dilakukan secara rutin bersama aparat keamanan berhasil menekan penerbangan balon liar di wilayahnya.
“Kalau penerbangan balon liar di Desa Notorejo sudah tidak ada, tidak ada sama sekali, setelah pemerintah desa bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa rutin sosialisasi,” ujar Mustakim di lokasi kegiatan, Minggu.
Menurut dia, festival balon udara tersebut bukan kali pertama digelar di wilayah Tulungagung. Pada sekitar bulan Juni-Juni 2025, kegiatan serupa juga sukses dilaksanakan dengan dukungan Polres Tulungagung.
Persiapan peserta menerbangkan Balon Udara, dalam kegiatan Festival Balon Udara di Desa Notorejo Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung Jawa Timur, Minggu (29/06/2026)Ke depan, agenda festival balon udara direncanakan menjadi kegiatan tahunan dengan skala yang lebih besar.
Mustakim juga menjelaskan, festival tersebut tidak hanya menjadi sarana pelestarian tradisi, tetapi juga bertujuan meminimalkan potensi kerugian masyarakat akibat balon udara liar, termasuk risiko kebakaran.
“Harapan kami untuk mengurangi kerugian masyarakat akibat penerbangan balon udara liar, jangan sampai menimpa masyarakat. Festival ini juga bertujuan mencegah dampak kebakaran hutan dan lahan akibat aktivitas balon udara liar," katanya.
Baca juga: Sisa Bahan Peledak dari Balon Udara yang Meledak di Semarang Dimusnahkan Polisi
Mustakim mengatakan, balon-balon yang diterbangkan dalam festival itu merupakan hasil kreasi warga desa setempat.
"Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan kegiatan ini memiliki nilai penting bagi warga," ujarnya.
Sementara itu, salah satu peserta dari Kelompok Remaja Masjid Al-Barokah, Danang Jauharul Afif, menjelaskan bahwa festival balon udara ini menjadi wadah positif bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas.
Menurut dia, proses pembuatan balon udara ukuran besar disertai motif yang indah, membutuhkan waktu sekitar empat hari dengan tingkat ketelitian tinggi, terutama dalam tahap pemotongan bahan.
“Pengguntingannya harus presisi. Kalau presisi, ukurannya bisa pas dan bentuknya juga sesuai. Kalau tidak, bisa sobek,” ujar Danang.
Baca juga: Polres Ponorogo Akan Gelar Festival Balon Udara Tanpa Petasan untuk Sarana Edukasi
Danang juga menilai, penerbangan balon liar berpotensi membahayakan masyarakat, terutama jika jatuh di area permukiman atau jaringan listrik.
“Saya kurang setuju kalau balon udara liar karena bisa mengganggu. Kalau jatuh di kabel listrik atau rumah itu berbahaya. Dulu pernah ada yang jatuh di kebun tebu dan terbakar,” kata Danang.
Melalui festival tersebut diharapkan kreativitas generasi muda dapat terus berkembang secara positif, sekaligus menjaga tradisi tetap aman dan tidak merugikan masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang