Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Festival Balon Udara di Tulungagung Sukses Digelar, Tradisi Balon Udara Liar Mulai Hilang

Kompas.com, 29 Maret 2026, 15:38 WIB
Slamet Widodo,
Novianti Setuningsih

Tim Redaksi

TULUNGAGUNG, KOMPAS.com - Festival balon udara yang digelar di Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, berlangsung meriah dan tertib pada Minggu (29/03/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 07.00 WIB tersebut, berjalan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat setempat.

Festival tersebut sekaligus menjadi contoh pengendalian tradisi penerbangan balon udara liar yang selama ini kerap merugikan warga.

Pemerintah desa bersama kelompok remaja masjid dan remaja mushala setempat telah berkoordinasi untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman dan tertib.

Baca juga: Polisi Amankan Balon Udara Berpetasan di Trenggalek, Rencana Diterbangkan Saat Lebaran Ketupat

Kepala Desa Notorejo, Mustakim, menjelaskan bahwa upaya sosialisasi yang dilakukan secara rutin bersama aparat keamanan berhasil menekan penerbangan balon liar di wilayahnya.

“Kalau penerbangan balon liar di Desa Notorejo sudah tidak ada, tidak ada sama sekali, setelah pemerintah desa bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa rutin sosialisasi,” ujar Mustakim di lokasi kegiatan, Minggu.

Menurut dia, festival balon udara tersebut bukan kali pertama digelar di wilayah Tulungagung. Pada sekitar bulan Juni-Juni 2025, kegiatan serupa juga sukses dilaksanakan dengan dukungan Polres Tulungagung.

Persiapan peserta menerbangkan Balon Udara, dalam kegiatan Festival Balon Udara di Desa Notorejo Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung Jawa Timur, Minggu (29/06/2026)(KOMPAS.com/SLAMET WIDODO) Persiapan peserta menerbangkan Balon Udara, dalam kegiatan Festival Balon Udara di Desa Notorejo Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung Jawa Timur, Minggu (29/06/2026)

Ke depan, agenda festival balon udara direncanakan menjadi kegiatan tahunan dengan skala yang lebih besar.

Mustakim juga menjelaskan, festival tersebut tidak hanya menjadi sarana pelestarian tradisi, tetapi juga bertujuan meminimalkan potensi kerugian masyarakat akibat balon udara liar, termasuk risiko kebakaran.

“Harapan kami untuk mengurangi kerugian masyarakat akibat penerbangan balon udara liar, jangan sampai menimpa masyarakat. Festival ini juga bertujuan mencegah dampak kebakaran hutan dan lahan akibat aktivitas balon udara liar," katanya.

Baca juga: Sisa Bahan Peledak dari Balon Udara yang Meledak di Semarang Dimusnahkan Polisi

Mustakim mengatakan, balon-balon yang diterbangkan dalam festival itu merupakan hasil kreasi warga desa setempat.

"Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan kegiatan ini memiliki nilai penting bagi warga," ujarnya.

Sementara itu, salah satu peserta dari Kelompok Remaja Masjid Al-Barokah, Danang Jauharul Afif, menjelaskan bahwa festival balon udara ini menjadi wadah positif bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas.

Menurut dia, proses pembuatan balon udara ukuran besar disertai motif yang indah, membutuhkan waktu sekitar empat hari dengan tingkat ketelitian tinggi, terutama dalam tahap pemotongan bahan.

“Pengguntingannya harus presisi. Kalau presisi, ukurannya bisa pas dan bentuknya juga sesuai. Kalau tidak, bisa sobek,” ujar Danang.

Baca juga: Polres Ponorogo Akan Gelar Festival Balon Udara Tanpa Petasan untuk Sarana Edukasi

Danang juga menilai, penerbangan balon liar berpotensi membahayakan masyarakat, terutama jika jatuh di area permukiman atau jaringan listrik.

“Saya kurang setuju kalau balon udara liar karena bisa mengganggu. Kalau jatuh di kabel listrik atau rumah itu berbahaya. Dulu pernah ada yang jatuh di kebun tebu dan terbakar,” kata Danang.

Melalui festival tersebut diharapkan kreativitas generasi muda dapat terus berkembang secara positif, sekaligus menjaga tradisi tetap aman dan tidak merugikan masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Surabaya
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Surabaya
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Surabaya
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Surabaya
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
Surabaya
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
Surabaya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama
Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau