Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Ai Rohayati, Guru SMA Berusia 59 Tahun Lulus S2 ITB

Kompas.com, 14 November 2025, 09:29 WIB
Sandra Desi Caesaria,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Membagi waktu untuk terus berproses memang tak mudah. Seperti menjadi guru sekaligus menjadi mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung).

Seperti Ai Rohayati, yang resmi meraih gelar Magister setelah menyelesaikan kuliah di Program Studi Pengajaran Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB.

Ia masih aktif sebagai guru kimia di SMA Negeri 26 Bandung, tempatnya mengabdi sejak tahun 2003.

Berdomisili di Bandung Timur, ia akan memasuki masa pensiun dari statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada April 2026 nanti.

Walau masih tahun depan pensiun, ia sangat bangga atas pencapaian yang diraih. Dengan usia 59 tahun, Ai menjadi wisudawan tertua S2 ITB.

Baca juga: 8 Jurusan Prioritas Beasiswa LPDP Sesuai Agenda Pembangunan Nasional

Bagi Ibu Ai, ITB bukanlah tempat yang asing. Ia adalah alumnus program D3 Kependidikan ITB (program pemerintah) angkatan 1985.

Meski telah menempuh S1 di Universitas Terbuka (UT), keinginannya untuk kembali menimba ilmu di almamaternya, ITB, tak pernah padam.

"Ibu masih penasaran," ujarnya, dilansir dari laman ITB, Jumat (14/11/2025).

Mimpi S2 yang Tertunda Puluhan Tahun

Perjalanan Ibu Ai untuk meraih gelar magister penuh dengan tantangan yang menguji tekad. Impian ini adalah mimpi lama yang tertunda karena berbagai faktor eksternal.

Ia bercerita, beberapa kali kesempatan untuk melanjutkan studi S2 terlewat. Salah satunya saat ia mendaftar program "Teaching Idol" yang berhadiah beasiswa S2 di ITB, namun terpaksa ia lepaskan karena kondisi anaknya yang sedang sakit kritis.

Di lain waktu, ia terpilih menjadi Wakasek Kurikulum di sekolahnya, sebuah amanah yang menyita waktu dan tenaga sehingga niat kuliah harus kembali ditunda.

Tantangan terakhir adalah tes TOEFL, yang menjadi syarat masuk ITB. Ia berkali-kali gagal memenuhinya.

"Pas 2023, Ibu nyoba lagi. Udah sepertinya ini yang terakhir. Kalau misalnya ini tidak lulus, sepertinya mungkin bukan jalannya," kenangnya.

Namun, takdir berkata lain, ia akhirnya berhasil lulus seleksi di tahun 2023. Walau memulai studi di usia yang tidak lagi muda, Ibu Ai menunjukkan semangat juang yang luar biasa.

Baca juga: Kisah Johar, Usia 71 Tahun Jadi Wisudawan Terbaik Unpad

Institut Teknologi Bandung (ITB). 5 universitas teknik dan teknologi terbaik di Indonesia 2025 versi QS WUR.itb.ac.id Institut Teknologi Bandung (ITB). 5 universitas teknik dan teknologi terbaik di Indonesia 2025 versi QS WUR.

Pantang menyerah

Salah satu tantangan terbesarnya adalah perjalanan pulang-pergi dari Bandung Timur ke Kampus Ganesha. Ia konsisten mengendarai sepeda motornya seorang diri di usia yang sudah tidak lagi muda.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau