Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Atsarina Luthfiyyah
Dosen

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Duta Bangsa. Memiliki minat penelitian tentang Komunikasi Indonesia dan Literasi Media.

Berpijak pada Telapak Guru

Kompas.com, 21 November 2025, 07:53 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

SETIAP November datang membawa ingatan baru tentang guru, tetapi tahun ini terasa berbeda. Jagat pendidikan kembali gaduh setelah munculnya kisah seorang guru di Sukabumi yang tetap mengajar meski berjalan hampir 11 kilometer setiap hari. Video kisah perjuangan guru lainnya menyebar cepat di media sosial, mendorong orang berbagi kisah serupa tentang pengorbanan guru.

Kisah-kisah itu bergerak, menyentuh, dan mengingatkan kita bahwa perjalanan intelektual bangsa ini tumbuh dari langkah sederhana para guru. Langkah yang mungkin pelan, tetapi selalu menuju cahaya.

Guru kerap dipuja hanya pada momen tertentu, lalu kita kembali melupakan beban mereka sepanjang tahun. Padahal, guru berdiri pada titik yang paling rapuh sekaligus paling kuat dari pendidikan. Di tangan para guru, ada amanah untuk merawat ketajaman budi dan kejernihan cara berpikir generasi muda.

Mereka membimbing siswa agar tidak tenggelam dalam hiruk-pikuk informasi, mengajak mereka belajar memilah, menggugat, dan memahami, saat ruang publik semakin riuh oleh suara-suara yang tak selalu bertanggung jawab.

Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam. Kita hidup pada era yang bergerak liar, ketika opini melesat tanpa kontrol, dan ruang digital menciptakan kebisingan yang sulit dipadamkan. Anak-anak tumbuh dengan banjir informasi, tetapi kekurangan kemampuan untuk memilah mana yang benar dan mana yang sekadar sensasi.

Guru menjadi jangkar moral, sesuatu yang tidak bisa digantikan algoritma atau aplikasi pembelajaran paling canggih sekalipun. Oleh sebab itu, kita perlu menempatkan guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penjaga ekosistem komunikasi publik.

Baca juga: Cerita Guru Supandi Jalan Kaki 11 Km untuk Mengajar, Dedi Mulyadi Kaget Dengar Kisah di Baliknya

Kisah guru yang viral itu bukan sekadar cerita haru. Ia menunjukkan bagaimana teknologi memperlihatkan, sekaligus menelanjangi realitas pendidikan yang kerap tertutup oleh angka-angka di laporan resmi.

Media sosial memantulkan pengorbanan yang selama ini terjadi diam-diam, guru membuat media pembelajaran sendiri demi mengajar, guru yang meredam konflik kecil antar-murid, guru yang menjadi tempat curhat persoalan keluarga. Mereka bekerja pada ruang yang luas, melampaui materi ajar. Mereka mengisi kekosongan yang tidak pernah dinilai dalam rapat anggaran.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai survei menunjukkan bahwa guru masih menghadapi tekanan besar, mulai dari beban administrasi yang berlebihan hingga tuntutan publik yang tidak realistis. Banyak di antara mereka menghadapi tekanan emosional yang berat karena harus memerankan banyak peran sekaligus, sebagai pendidik, konselor, pengasuh, bahkan mediator konflik.

Namun, di tengah beban itu, guru tetap berdiri tegak, menghadirkan ketenangan bagi anak-anak yang sedang mencari arah. Di saat yang sama, kita juga melihat perubahan perilaku komunikasi di ruang kelas. Murid kini berbicara lebih cepat, lebih impulsif, dan lebih sering mengulang informasi tanpa mengolahnya.

Guru menjadi pelatih kesabaran dan kejernihan. Mereka membantu murid memahami pentingnya jeda, pentingnya menimbang, pentingnya mendengar dengan hati.

Relasi ini adalah inti dari otoritas moral yang membangun peradaban. Bangsa ini masih berdiri karena ada guru yang menjaga api kecil pengetahuan di kelas-kelas sempit yang jarang terlihat kamera. Guru yang pulang paling akhir, guru yang memeriksa tugas di dapur, guru yang tetap tersenyum meski gaji tidak sebanding dengan pengorbanan. Mereka adalah tiang sunyi yang menyangga masa depan.

Jika bangsa ini ingin melangkah lebih jauh, maka langkah itu hanya mungkin terjadi di atas telapak guru, tempat segala perjalanan dimulai, dan tempat kita selalu bisa pulang untuk belajar kembali menjadi manusia yang lebih baik.

Baca juga: Prabowo: Guru Perlu Ditatar karena Kompetensinya Kurang di Beberapa Mapel

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau