Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akademisi Ingatkan Perang Timur Tengah Buat Posisi LCS Kian Rentan

Kompas.com, 31 Maret 2026, 18:31 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Perhatian masyarakat global, termasuk Indonesia, dalam beberapa bulan terakhir terpaku sepenuhnya pada eskalasi konflik di Timur Tengah. Kawasan tersebut bukan sekadar titik api kemanusiaan, melainkan urat nadi ekonomi dunia melalui Selat Hormuz.

Jika Timur Tengah memiliki Hormuz, maka Asia Tenggara memiliki Laut China Selatan, sebuah kawasan perairan yang menjadi jalur perdagangan bernilai triliunan dolar. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar soal jalur perdagangan, melainkan soal kedaulatan.

Guru besar hukum laut internasional Universitas Indonesia, Profesor Arie Afriansyah mengingatkan potensi ketegangan di LCS makin meningkat akhir-akhir ini karena kekuatan-kekuatan besar yang dapat menjadi penyeimbang bagi Cina sedang memusatkan perhatian di Timur Tengah.

"Sebagai akibatnya, untuk sementara ini, tidak ada lagi penyeimbang yang sepadan dengan China,” ungkap Prof. Arie dalam diskusi publik “Pedoman Tata Perilaku (Code of Conduct) di Laut China Selatan: Arti Penting bagi ASEAN dan Indonesia” di Jakarta (30/3/2026).

Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya kehadiran COC yang ideal. Prof. Arie menekankan bahwa salah satu syarat utama bagi COC yang ideal adalah kesesuaiannya dengan UNCLOS.

Menurutnya, kehadiran COC yang ideal sangat dibutuhkan dalam konteks regional saat ini, karena sikap asertif Chine makin hari makin menguat, antara lain melalui penerapan taktik zona abu-abu (grey zone) dan pembangunan dan militerisasi fitur maritim.

Hal di atas menyebabkan meningkatnya insiden antara Cina dan negara-negara ASEAN, seperti peristiwa tabrakan antara kapal Cina dan Filipina.

Menurutnya, ASEAN harus menjaga sentralitasnya, serta terus menegaskan bahwa UNCLOS harus menjadi dasar bagi COC yang disepakati.

Sebagai sebuah negara yang besar di ASEAN, Indonesia harus menjadi pendorong bagi ASEAN, dan menjadi perantara yang jujur (honest broker) dalam upaya tercapainya COC yang ideal itu.

Baca juga: JK: Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon adalah Pahlawan Perdamaian Dunia

Menjaga stabilitas LCS

Hal senada disampaikan dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) yang juga Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI) Johanes Herlijanto. Dia menilai kehadiran COC sangat penting bagi upaya menjaga stabilitas dan suasana kondusif di LCS.

Dia menyampaikan selama ini LCS masih menjadi sengketa kewilayahan yang melibatkan Republik Rakyat China (RRC), Taiwan, dan empat negara ASEAN, yaitu Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei.

Jonaes menyampaikan sejak sekitar 15 tahun lalu China makin sering menimbulkan gangguan di wilayah yang menjadi hak berdaulat negara-negara ASEAN, melalui milisi nelayan dan satuan penjaga pantai mereka.

Dia mengingatkan bahwa Indonesia, yang tidak turut terlibat dalam sengketa kewilayahan di atas, pun terkena getahnya.

"Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir ini telah menghadapi berbagai upaya penerobosan oleh nelayan dan satuan penjaga pantai China di ZEE Indonesia di dekat kepulauan Natuna," ungkapnya.

Sebagai informasi, penerobosan China ke ZEE Indonesia di perairan dekat Natuna itu dilatarbelakangi klaim China yang ditandai dengan 10 garis putus putus yang oleh para ahli dinilai bertentangan dengan hukum laut internasional (UNCLOS).

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau