Penulis: Stanislaus Jumar Sudiyana/Sonora.id
ASSISI, KOMPAS.com - Menjelang peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi pada 2026, kota kecil Assisi di Italia berubah menjadi simpul ziarah global.
Ribuan peziarah dari berbagai negara berdatangan, menghidupkan kembali jejak spiritualitas Fransiskan yang menekankan jalan kemiskinan, kesederhanaan, perdamaian, dan cinta pada sesama serta alam ciptaan.
Momentum ini semakin istimewa setelah Paus Leo XIV menetapkan Tahun Yubileum Fransiskan yang berlangsung dari 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027. Tahun suci ini memperingati 800 tahun wafat (Transitus) Santo Fransiskus, dengan fokus pada nilai-nilai perdamaian, persaudaraan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam tradisi Gereja, Tahun Yubileum juga membuka kesempatan bagi umat untuk memperoleh indulgensi penuh melalui ziarah ke gereja-gereja Fransiskan, disertai pemenuhan syarat-syarat sakramental.
Perjalanan menuju Assisi dari Kota Roma bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan juga perjalanan batin dan spiritual.
Dengan kereta Trenitalia, rute sepanjang sekitar 176 kilometer ditempuh dalam waktu lebih kurang 2,5 jam dari Stasiun Termini Roma menuju Stasiun kecil Assisi.
Lanskap Italia tengah menyuguhkan desa-desa yang tenang hingga bentangan Pegunungan Subasio yang puncaknya masih menyisakan salju kontras yang menghadirkan rasa hening sekaligus agung.
Setibanya di stasiun, perjalanan berlanjut menuju kota tua Assisi di lereng bukit. Di sinilah atmosfer spiritual terasa kian pekat. Jalan-jalan batu, lorong sempit, dan bangunan abad pertengahan membawa peziarah seakan kembali ke abad ke-13, masa ketika Fransiskus berjalan kaki mewartakan Injil dalam kemiskinan.
Terlahir sebagai bangsawan, Santo Fransiskus memilih menuju jalan kemiskinan. Lahir dengan nama Giovanni di Pietro di Bernardone, Santo Fransiskus dari Assisi berasal dari keluarga berada.
Ayahnya adalah saudagar kain kaya di Assisi, sedangkan ibunya berdarah Perancis yang membuat Fransiskus muda hidup dalam kemewahan dan pergaulan kelas atas.
Namun, sebuah titik balik mengubah arah hidupnya. Setelah mengalami pergulatan batin dan panggilan iman yang mendalam, Fransiskus memilih meninggalkan seluruh kekayaan dan status sosialnya.
Ia bahkan melepaskan pakaian mewah yang dikenakannya sebagai simbol penolakan terhadap dunia lama, dan memilih hidup miskin, melayani kaum kecil, serta merawat alam sebagai “saudara dina”.
Pilihan radikal ini menjadi fondasi spiritualitas Fransiskan: hidup sederhana, dekat dengan yang lemah, serta memandang seluruh ciptaan sebagai bagian dari keluarga Tuhan.
Pada perayaan Minggu Palma, Minggu (29/3/2026), para peziarah secara khusus mengunjungi tiga pusat ziarah utama yaitu Basilika Santo Fransiskus, Basilika Santa Clara, dan Gereja Santa Maria Maggiore.
Alur perjalanan ziarah ini tidak sekadar kunjungan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang menyusuri jejak hidup para kudus di Assisi.
Dari Basilika Santo Fransiskus sebagai pusat spiritualitas Fransiskan, menuju Basilika Santa Clara yang menyimpan kesaksian hidup kontemplatif, hingga Gereja Santa Maria Maggiore yang menjadi tempat peristirahatan Santo Carlo Acutis.
Di Gereja Santa Maria Maggiore, peziarah juga berdoa di makam Carlo Acutis sosok figur muda yang dikenal sebagai “Influencer Tuhan”.
Melalui karya digitalnya tentang Ekaristi, Carlo menjadi simbol kekudusan di era modern, menjembatani iman dengan dunia teknologi.
Perayaan misa Sabtu sore hingga Minggu Palma diikuti ratusan hingga ribuan umat. Daun zaitun dilambaikan sebagai simbol sukacita, menggantikan daun palma. Liturgi berlangsung dalam berbagai bahasa, dari Italia hingga Inggris, mencerminkan wajah Gereja yang universal.
Di dalam Basilika Santo Fransiskus, tradisi khas juga berlangsung: benda-benda rohani seperti rosario, salib Fransiskan, hingga kalung PAX diberkati oleh imam Ordo Fransiskan menjadi kenangan spiritual yang dibawa pulang para peziarah.
Kota ini tidak hanya menyimpan warisan iman, tetapi juga menghadirkan keindahan pemandangan alam desa yang memperdalam permenungan.
Fasilitas bagi peziarah pun cukup memadai. Berbagai penginapan tersedia, mulai dari biara hingga hotel berbintang, dengan tarif berkisar 50 hingga 100 euro per malam. Kesederhanaan tetap menjadi ciri, sejalan dengan spiritualitas Fransiskan yang menolak kemewahan berlebih.
Namun lebih dari itu, Assisi menghadirkan sesuatu yang tak terukur: Pengalaman pulang ke akar iman. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kali bising, kota ini mengajarkan kembali arti keheningan.
Perayaan 800 tahun Santo Fransiskus yang kini dirayakan dalam bingkai Tahun Yubileum Fransiskan bukan sekadar mengenang seorang tokoh, tetapi menghidupkan kembali pesan yang tetap relevan hingga kini: Damai di tengah konflik, persaudaraan lintas batas, dan cinta terhadap bumi sebagai rumah bersama. Di Assisi, pesan itu tidak hanya didengar, tetapi dialami dan dirasakan.
https://www.kompas.com/global/read/2026/03/31/174527970/800-tahun-santo-fransiskus-kota-assisi-jadi-magnet-ziarah-dunia